A. Sejarah Berdirinya Dinasti Abbasiyah (kel.3)
Dinasti Abbasiyah didirikan pada tahun 132 H/750 M
oleh Abdul Abbas Ash-shaffah, dan sekaligus sebagai khalifah pertama. Kekuasaan
Bani Abbas melewati rentang waktu yang sangat panjang, yaitu lima abad dimulai
dari tahun 132-656 H/750-1258 M. Berdirinya pemerintahan ini dianggap sebagai
kemenangan pemikiran yang pernah dikumandangkan oleh bani Hasyim (alawiyun)
setelah meninggalnya Rasulullah dengan mengatakan bahwa yang berhak berkuasa
adalah keturunan Rasulullah dan anak-anaknya.
Kelahiran bani Abbasiyah erat kaitannya dengan gerakan
oposisi yang di lancarkan oleh golongan syi'ah terhadap
pemerintahan Bani Umayyah. Golongan Syi'ah selama
pemerintahan Bani Umayyah merasa tertekan dan tersingkir karena
kebijakan-kebijakan yang di ambil pemerintah. Hal ini bergejolak sejak
pembunuhan terhadap Husein Bin Ali dan pengikutnya di Karbela.
Gerakan oposisi terhadap Bani Umayyah dikalangan orang
syi'ah dipimpin oleh Muhammad Bin Ali, ia telah di bai'ah oleh orang-orang
syi'ah sebagai imam. Tujuan utama dari perjuangan Muhammad Bin Ali untuk
merebut kekuasaan dan jabatan khalifah dari tangan Bani Umayyah, karena menurut
keyakinan orang syi'ah keturunan Bani Umayyah tidak berhak menjadi imam atau
khalifah, yang berhak adalah keturunan dari Ali Bin Abi Thalib, sedangkan bani
umayyah bukan berasal dari keturunan Ali Bin Abi Thalib. Pada awalnya golongan
ini memakai nama Bani Hasyim, belum menonjolkan nama Syi'ah atau Bani Abbas,
tujuannya adalah untuk mencari dukungnan masyarakat. Bani Hasyim yang
tergabung dalam gerakan ini adalah keturunan Ali Bin Abi Thalib dan Abbas Bin
Abdul Muthalib. Keturunan ini bekerjasama untuk menghancurkan Bani Umayyah.
Strategi yang digunakan untuk menggulingkan Bani
Umayyah ada dua tahap, yaitu:
1. Gerakan secara rahasia
Propoganda
Abbasiyah dilaksakan dengan strategi yang cukup matang sebagai gerakan rahasia,
akan tetapi Imam Ibrahim pemimpin abbasiyah yang berkeinginan mendirikan
kekuasaan Abbasiyah, gerakannya diketahui oleh khalifah Umayyah terakhir,
Marwan bin Muhammad. Ibrahim akhirnya tertangkap oleh pasukan dinasti umayyah
dan dipenjarakan di Haran sebelum akhirnya di eksekusi. Ia mewasiatkan kepada
adiknya Abul Abbas untuk menggantikan kedudukannya ketika ia telah mengetahui
bahwa ia akan di eksekusi dan memerintahkan untuk pindah ke kuffah.
2. Tahap terang-terangan dan terbuka secara umum
Tahap
ini dimulai setelah terungkap surat rahasia Ibrahim bin Muhammad yang ditujukan
kepada Abu Musa Al-Khurasani Agar membunuh setiap orang yang berbahasa Arab di
Khurasan. Setelah khalifah Marwan bin Muhammad mengetahi isi surat rahasia
tersebut ia menangkap Ibrahim bin Muhammad dan membunuhnya. Setelah itu
pimpinan gerakan oposisi dipegang oleh Abul Abbas Abdullah bin Muhammad
as-saffah, saudara Ibrahim bin Muhammad.
Abul
Abbas sangat beruntung, karena pada masanya pemerintahan Marwan bin Muhammad
telah mulai lemah dan sebaliknya gerakan oposisi semakin mendapat dukungan dari
rakyat dan bertambah luas pengaruhnya. Keadaan ini tambah mendorong semangat
Abul Abbas untuk menggulingkan khalifah Marwan bin Muhammad dari
jabatannya. Untuk maksud tersebut Abul Abbas mengutus pamannya Abdullah bin Ali
untuk menumpas pasukan Marwan bin Muhammad. Pertempuran terjadi antara pasukan
yang dipimpin oleh khalifah Marwan bin Muhammad dengan pasukan Abdullah bin Ali
di tepi sungai Al-Zab Al-Shagirdi, Iran. Marwan bin Muhammad terdesak dan
melarikan diri ke Mosul, kemudian ke palestina, Yordania dan terakhir di Mesir.
Abdullah bin Ali terus mengejar pasukan Marwan bin Muhammad sampai ke Mesir dan
akhirnya terjadi pertempuran disana. Marwan bin Muhammad pun akhirnya tewas
karena pasukannya sudah sangat lemah yaitu pada tanggal 27 Zulhijjah 132 H/750
M.
Pada tahun 132 H/ 750 M Abul Abbas Abdullah bin
Muhammad diangkat dan di bai'ah menjadi khalifah, dalam pidato pembaiatan
tersebut, antara lain mengatakan "saya berharap semoga pemerintahan
kami (Bani Abbas) akan mendatangkan kebaikan dan kedamaian pada
kalian. Wahai penduduk koufah, bukan intimidasi, kezaliman, malapetaka dan
sebagainya. Keberhasilan kami beserta ahlul Bait adalah berkat
pertolongan Allah SWT. Hai penduduk koufah, kalian adalah tumpuan kasih sayang
kami, kalian tidak pernah berubah dalam pandangan kami, walaupun penguasa yang
zalim (Bani Umayyah) telah menekan dan menganiaya kalian. Kalian telah
dipertemukan oleh Allah dengan Bani Abbas, maka jadilah kalian orang-orang yang
berbahagia dan yang paling kami muliakan ketahuilah, hai penduduk koufah, saya
adalah al-saffah. Setelah Abul Abbas resmi menjadi khalifah ia
tidak lagi mengambil Damaskus sebagai pusat pemerintahan tetapi ia memilih
Koufah sebagai pusat pemerintahannya, dengan beberapa pertimbangan sebagai
berikut:
a. Para pendukung Bani Umayyah masih banyak yang tinggal
di Damaskus
b. Kota Koufah jauh dari Persia, walaupun orang-orang
Persia merupakan tulang punggung Bani Abbas dalam menggulingkan Bani
Umayyah.
c. Kota Damaskus terlalu dekat dengan wilayah kerajaan
Bizantium yang merupakan ancaman bagi pemerintahannnya, akan tetapi pada masa
pemerintahan khalifah Al-Mansur (754-775 M) dibangun kota Baghdad sebagai ibu
kota Dinasti Bani Abbas yang baru.
B. Sistem Pemerintahan Dinasti Abbasiyah
Penggantian
Umayyah oleh Abbasiyah ini di dalam kepimpinan masyarakat islam lebih dari
sekedar penggantian dinasti. Ia merupakan
revolusi dalam sejarah islam, revolusi prancis dan revolusi
Rusia didalam sejarah barat. Seluruh anggota keluarga Abbas dan pimpinan umat islam mengatakan setia
kepada Abbul Abbas Ash-shaffah sebagai khaliffah mereka. Ash-Shaffah kemudian
pindah ke Ambar, sebelah barat sungai Eufrat dekat Baghdad.
Ke khaliffahan Ash-Shaffah hanya bertahan selama empat tahun sembilan bulan. Ia wafat pada tahun 136 H di Abar, Satu kota
yang telah di jadikanya sebagai tempat kedudukan pemerintahan.Ia berumur tidak
lebih dari 33 tahun. Bahkan ada yang mengatakan umur ash-Shaffah ketika meniggal dunia adalah 29 tahun.
Selama
dinasti Abbasiyah berkuasa, pola pemerintahan yang di terpkan berbeda-beda
sesuai dengan perubahan politik, sosial, dan budaya. Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik itu,
para sejarahwan biasanya membagi masa pemerintahan bani Abbasiayah dalam empat periode, yaitu:
1.
Masa Abbasiyah I, yaitu semenjak lahirnya Daulah Abbasiyah tahun 132 H (750 M) sampai
meninggalnya khaliffah Al-Wastiq 232 H (847 M).
2.
Masa Abbasiyah II, yaitu mulai
khliffah Al- Mutawakkil pada tahun 232 H (847 M) sampai berdirinya Daulah
buwaihiyah di Baghdad pada tahun 334 H (946 M).
3.
Masa Abbasiyah III, yaitu dari
berdirinya daulah Buwahiyah tahun 334 H (946 M) sampai
masuknya kaum saljuk ke Baghdad tahun 447 H (1055 M).
4.
Masa Abbasiyah IV, yaitu masuknya orang-orang saljuk ke Baghdad tahun447 H (1055 M). Sampai
jatuhnya Baghdad ke tangan bangsa mongol di bawah
pimpinan Hulagu Khan pada tahun 656 H (1258 M).
1.
Masa
Abbasiyah I ( 132 H/750 M-232 H/847 M )
Masa
ini diawali sejak Abul Abbas menjadi khalifah dan berlangsung selama satu abad
hingga meninggalnya khalifah Al-Watsiq. Periode ini dianggap sebagai zaman
keemasan Bani Abbasiyah. Hal ini disebabkan karena keberhasilannya memperluas
wilayah kekuasaan.
Wilayah
kekuasaannya membentang dari laut Atlantik hingga sungai Indus dan dari laut
Kaspia hingga ke sungai Nil. Pada masa ini ada sepuluh orang khalifah yang
cukup berprestasi dalam penyebaran Islam mereka adalah khalifah Abul Abbas
ash-shaffah(750-754 M), Al-Mansyur ( 754-775 M), Al-Mahdi (775-785 M), Al-Hadi
(785-786 M), Harun Al-Rasyid (786-809 M), Al-Amin (809 M), Al-Ma'mun (813-833
M), Ibrahim (817 M), Al-Mu'tasim (833-842 M), dan Al-Wasiq (842-847 M).
2. Masa Abbasiyah II ( 232 H/847 M-334 H/946 M)
Periode
ini diawali dengan meninggalnya khalifah Al-Wasiq dan berakhir ketika keluarga
Buwaihiyah bangkit memerintah. Sepeninggal Al-Wasiq, Al-Mutawakkil naik tahta
menjadi khalifah, masa ini ditandai dengan bangkitnya pengaruh Turki.
Setelah
Al-Mutawakkil meninggal dunia, para jendral yang berasal dari Turki berhasil
mengontrol pemerintahan. Ada empat khalifah yang dianggap hanya sebagai simbol
pemerintahan dari pada pemerintahan yang efektif, keempat pemerintahan itu
adalah Al-Muntasir (861-862 M ), Al-Musta'in (862-866 M), Al-Mu'taz (866-896
M), dan Al-Muhtadi (869-870 M). Masa pemerintahan ini dinamakan masa
disintegrasi, dan akhirnya menjalar keseluruh wilayah sehinngga banyak wilayah
yang memisahkan diri dari wilayah Bani Abbas dan menjadi wilayah merdeka
seperti Spanyol, Persia, dan Afrika Utara.
3.
Masa
Abbasiyah III (334 H/946 M -447 H/1055 M)
Masa ini ditandai dengan berdirinya Dinasti
Buwaihiyah, yaitu Pada masa ini jatuhnya Khalifah Al-Muktafi (946 M) sampai
dengan khalifah Al-Qaim (1075 M). Kekuasaaan Buwaihiyah sampai ke Iraq dan
Persia barat, sementara itu Persia timur, Transoxania, dan Afganistan yang
semula dibawah kekuasaan Dinasti Samaniah beralih kepada Dinasti Gaznawi.
Kemudian sejak tahun 869 M, dinasti Fatimiyah berdiri di Mesir.
Kekhalifahan Baghdad jatuh sepenuhnya pada suku bangsa
Turki. Untuk keselamatan, khalifah meminta bantuan kepada Bani Buwaihiyah.
Dinasti Buwaihiyah cukup kuat dan berkuasa karena mereka masih menguasai
Baghdad yang merupakan pusat dunia islam dan menjadi kediaman Khalifah.
Pada akhir Abad kesepuluh, kedaulaulatan Bani
Abbasiyah telah begitu lemah hingga tidak memiliki kekuasaan diluar kota
Baghdad. Kekuasaan Bani Abbasiyah berhasil dipecah menjadi dinasti Buwaihiyah
di Persia (932-1055 M), dinasti Samaniyah di Khurasan (874-965 M), dinasti
Hamdaniayah di Suriah (924-1003 M), dinasti Umayyah di Spanyol (756-1030 M),
dinasti Fatimiyah di Mesir (969-1171 M), dan dinasti Gaznawi di Afganistan
(962-1187 M).
4.
Masa
Abbasiyah IV (447 H/1055 M -656 H/1258 M )
Masa ini ditandai dengan ketika kaum Seljuk menguasai
dan mengambil alih pemerintahan Abbasiyah. Masa seljuk berakhir pada tahun 656
H/1258 M, yaitu ketika tentara mongol menyerang serta menaklukkan Baghdad dan
hampir seluruh dunia Islam terutama bagian timur.
C. BENTUK
NEGARA
Bani Abbassiyah yang didirikan oleh Abul Abbas As-Saffah mengalami tiga periode
perubahan dalam pembentukan sistem Negara, yaitu :
a.
Periode
Pertama (750 M -857 M)
Pada Periode pertama ini bentuk negara dinasti
Abbasiyah adalah kerajaan yang dipimpin oleh seorang khalifah.Khalifah ini
dibantu oleh seorang wazir (perdana Menteri) atau yang jabatannya disebut
dengan Wizaraat.Sedangkan Wizaraat tersebut dibagi lagi menjadi 2 bagian yaitu:
a)
Wizaraat
Tanfiz (system pemerintahan presidential) yaitu wazir hanya sebagai pembantu
khalifah dan bekerja atas nama khalifah.
b)
Wizaraatut
tafwid (parlemen Kabinet ,yaitu wazirnya berkuasa penuh untuk memimpin
pemerintahan sedangkan khlaifah sebagai lambing saja
Pada khusus lainnya fungsi khalifah sebagai pengukuh
dinasti-dinasti local sebagai gubernur khalifah.Selain itu,untuk membantu
khalifah dalam menjalankan tata usaha Negara diadakan sebuah dewan yang bernama
Diwanul Kitaabah(secretariat Negara) yang dipimpin oleh seorang raisul kutab
(sekretaris Negara).Dan dalam menjalankan pemerintahan Negara,wazir dibantu
beberapa raisul diwan (menteri departemen-departemen). Tata usaha Negara
bersifat sentralistik yang dinamakan an-nidhamul
idary al-markazy.
Selain itu,dalam zaman daulah
Abbasiyah juga didirikan angkatan perang,amirul umara,baitul maal,dan
organisasi kehakiman.Selama dinasti Abbasiyah berkuasa pola pemerintahan yang
diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik,social,ekonomi dan
budaya.
a. Periode Ke dua (232 H/842 M-590
H/1194 M)
Pada
periode ini,kekuasaan bergeser dari system sentralistik menjadi menjadi
disentralisasi yaitu kedalam tiga Negara otonom,kaum Turki,golongan kaum Bani
Buwaih,dan golongan Bani Saljuq.Pada Akhirnya Dinasti-Dinasti ini melepaskan
diri dari kekuasaan Baghdad pada masa pemerintahan Abassiyah.
b. Periode Ke tiga (590 H/1194 M – 656 H/1258 M)
Pada
periode ketiga ini kekuasaan kembali dipegang oleh khalifah ,tetapi hanya di
Baghdad dan dan kawasan-kawasan sekitarnya.
D.
SISTEM SOSIAL DAN EKONOMI PADA MASA ABBASIYAH
1.
Sistem Sosial
Pada masa Dinasti Abbasiyah
system social masih memakai social bani Umayah.Akan tetapi,pada masa ini
terjadi bebrapa perubahan yang sangat mencolok, yaitu:
a. Tampilnya kelompok mawali dalam pemerintahan serta
mendapat tempat yang sama dalam kedudukan social
b. Kerajaan islam Daulah Abbasiyah terdiri dari beberapa
bangsa yang berbeda –beda (Bangsa Mesir,Syam,Jaizirah Arab ,dll.)
c. Perkawinan campur yang melahirkan darah campran
d. Terjadinyan pertukaran pendapat sehingga munculnya kebudayaan baru.
2.
Sistem Ekonomi
Pada awal masa kepemimpinan bani
abbasiyah perbendaharaan Negara penuh dan berlimpah ruah, uang masuk lebih
banyak daripada uang pengeluaran. Pada masa ini yang menjadi khlaifah adalah
Al-Mansur. Dia betul-betul meletakkan dasar-dasar yang kuat bagi ekonomi dan
keuangan Negara. Dia mencontoh Umar Bin Khattab dalam menguatkan islam. Keberhasilan
dalam bidang ekonomi ini didukung oleh sektor-sektor sebagai berikut:
a. Pertanian, Khalifah membela dan menghormati kaum tani,
bahkan meringankan pajak hasil bumi mereka dan ada yang tidak dikenakan pajak
sama sekali.pertanian ini meliputi pertanian gandum dari Mesir dan kurma dari
Iraq.
b. Perindustrian, Khalifah menganjurkan untuk beramai-ramai
membangun industri, sehingga terkenalah beberapa kota dan industri-industrinya.
Telah terbangun industri kain linen di Mesir, sutra dari Syiria dan Irak kertas
dari Samarkand.
c. Perdagangan, segala usaha ditempuh untuk memajukan
perdagangan seperti membangun sumur dan tempat-tempat istirahat di jalan-jalan
yang dilewati khalifah dagang, membangun armada-armada dagang sehingga
terjadilah kemajuan yang sangat pesat disektor perdagangan ini. Para pedagang
ini memperdagangkan hasil dari pertanian dan industri tersebut ke wilayah
kekuasaan Abbasiyah dan Negara lain. Perdagangan barang tambang juga sangat
gencar pada masa abbasiyah ini yaitu tambang emas dari Nubia dan Sudan Barat
sehingga meningkatkan perekonomiannya.
E.
KEMAJUAN DAN KEMUNDURAN PADA MASA ABBASIYAH
1. Gerakan penerjemahan
Meski
kegiatan penerjemahan sudah dimulai sejak Daulah Umayyah, upaya untuk
menerjemahkan dan menskrinsip berbahasa asing terutama bahasa yunani dan Persia
ke dalam bahasa arab mengalami masa keemasan pada masa DaulahAbbasiyah. Para
ilmuandiutus ke daeah Bizantium untuk mencari naskah-naskah yunanidalam
berbagai ilmu terutama filasafat dan kedokteran. Sedangkan perburuan manuskrip
di daerah timur seperti Persia adalah terutama dalam bidang tata Negara dan
sastra.
Pelopor
gerakan penerjemahan pada awal pemerintahan daulah Abbasiyah adalah Khalifah Al-Mansyur
yang juga membangun Ibu kota Baghdad. Pada awal penerjemahan, naskah yang
diterjemahkan terutama dalambidang astrologi, kimia dan kedokteran.
Kemudiannaskah-naskahfilsafat karya Aristoteles dan Plato juga diterjemahkan.
Dalam masa keemasan, karya yang banyak diterjemahkan tentang ilmu-ilmu pramatis
seperti kedokteran. Naskah astronomi dan matematika juga diterjemahkan namun,
karya-karya berupa puisi, drama, cerpen dan sejarah jarang diterjemakan karena
bidang ini dianggap kurang bermanfa’at dan dalam hal bahasa,arab sendiri
perkembangan ilmu-ilmu ini sudah sangat maju.
2. Baitul hikmah
Baitul
hikmah merupakan perpustakaan yangberfungsi sebagai pusat pengembagan ilmu
pengetahuan.
a) Pada masa harun ar-rasyid
Institusi ini bernama
Khizanahal-Hikmah (Khazanah kebijaksanaan) yang berfungsi sebagai perpustakaan
dan pusat penelitian.
b) Pada masa al-ma’mun
Lembaga ini dikembangkan sejak
tahun 815 M dan diubah namanya menjadi Bait al-Hikmah, yang dipergunakan secara
lebihmaju yaitu sebagaitempatpenyimpanan buku-buku kuno yang didapat dari
Persia, Bizantium, dan bahkan dari Ethiopia dan India. Direktur perpustakaannya
seorang nasionalis Persia dan ahli pahlewi, Sahl Ibn Harun. Di bawah kekuasaan
Al-Ma’mun, lembaga ini sebagai perpustakaan juga sebagai pusat kegiatan study
dan riset astronomi dan matematika.
3. Dalam bidang filasafat
Pada
masa ini pemikiran filasafat mencakup bidang keilmuan yang sangat luas seperti
logika, geometri, astronomi, dan musik yang dipergunakan untuk menjelaskan
pemikiran abstrak, garis dan gambar, gerak dan su ibn Ishaq al-Kinemasa
abbasiyah seperti Ya’kub ibn Ishaq al-Kinl-Farabi,Ibn Bajah, Ibnu Tufaildan Ibn
Rushd menjelaskan pemikiran-pemikirannya dengan menggunakan contoh, metamor,
analogi, dan gambaranimajinatif.
4. Dalam bidang hukum Islam
Karya
pertama yang diketahui adalah Majmu’ al Fiqh karya Zaid bin Ali (w.122 H/740
M)yang berisi tentang fiqh Syi’ah Zaidiyah. Hakimagung yang pertama adalah Abu
Hanifah (w.150/767). Meski diangap sebagai pendiri madzhab hanafi, karya-karyanya
sendiri tidak ada yang terselamatkan. Dua bukunya yang berjudul Fiqh al-Akbar
(terutama berisi artikel tentang keyakinan) dan Wasiyah Abi Hanifah berisi
pemikiran-pemikirannya terselamatkan karena ditulis oleh para muridnya.
5. Dalam bidang Peradaban
Masa
Abbasiyah menjadi tonggak puncak peradaban Islam. Khalifah-khalifah Bani
Abbasiyah secara terbuka mempelopori perkembangan ilmu pengetahuan dengan
mendatangkan naskah-naskah kuno dari berbagai pusat peradaban sebelumnya untuk
kemudian diterjemahkan, diadaptasi dan diterapkan di dunai Islam. Para ulama’
muslim yang ahli dalam berbagai ilmu pengetahuan baik agama maupun non agama
juga muncul pada masa ini. Pesatnya perkembangan peradaban juga didukung oleh
kemajua ekonomi imperium yang menjadi penghubung dunua timur dan barat.
Stabilitas politik yang relatif baik terutama pada masa Abbasiyah awal ini juga
menjadi pemicu kemajuan peradaban Islam.
F. FAKTOR EKSTERNAL DAN INTERNAL
KERUNTUHAN DINASTI ABBASIYAH
Setelah berkuasa
lebih kurang lima abad (750-1258 M), akhirnya Dinasti Abbasiyah mengalami
masa-masa suram. Masa suram ini terjadi ketika para pengusaha setelah
Al-Makmun, Al- Mu’tashim dan Al-Mutawakkil, tidak lagi memiliki kekuatan yang
besar, sebab para khalifah sesudahnya lebih merupakan boneka para amir dan para
wajir dinasti Buwaihiyah dan Salajikah. Adapun penyebab kemunduran bani
abbasyi’ah menurut beberapa ahli sejarah di kelompokkan menjadi dua bagian, antara lain:
1. Keruntuhan dari segi
internal
a.
Mayoritas
kholifah Abbasyiah periode akhir lebih mementingkan urusan pribadi dan
melalaikan tugas dan kewajiban mereka terhadap negara.
b.
Luasnya
wilayah kekuasaan kerajaan Abbasyiah, sementara komunikasi pusat dengan daerah
sulit dilakukuan.
c.
Semakin
kuatnya pengaruh keturunan Turki, mengakibatkan kelompok Arab dan Persia
menaruh kecemburuan atas posisi mereka.
d.
Dengan
profesionalisasi angkatan bersenjata ketergantungan khalifah kepada mereka
sangat tinggi.
e.
Permusuhan
antar kelompok suku dan kelompok agama.
f.
Merajalelanya
korupsi dikalangan pejabat kerajaan.
g.
Fanatisme
pada golongan dan suku.
2. Keruntuhan dari segi
eksternal
a. Perang Salib yang berlangsung beberapa gelombang dan
menelan banyak korban.
b. Penyerbuan Tentara Mongol dibawah pimpinan Hulagu Khan
yang menghancrkan Baghdad. Jatuhnya Baghdad oleh Hulagu Khan menanndai
berakhirnya kerajaan Abbasyiah dan muncul kerajaan Syafawiah di Iran, Kerajaan
Usmani di Turki, dan Kerajaan Mughal di India.
c. Persaingan antar Bangsa. Khilafah Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas yang
bersekutu dengan orang-orang Persia. Persekutuan dilatar belakangi oleh
persamaan nasib kedua golongan itu pada masa Bani Umayyah berkuasa. Kecenderungan masing-masing
bangsa untuk mendominasi kekuasaan sudah dirasakan sejak awal khalifah
Abbasiyah berdiri. Akan tetapi, karena para khalifah adalah orang-orang kuat
yang mampu menjaga keseimbangan kekuatan, stabilitas politik dapat terjaga.
Setelah al-Mutawakkil, seorang khalifah yang lemah, naik tahta, dominasi
tentara Turki tak terbendung lagi. Sejak itu kekuasaan Bani Abbas sebenarnya
sudah berakhir. Kekuasaan berada di tangan orang-orang Turki. Posisi ini
kemudian direbut oleh Bani Buwaih, bangsa Persia, pada periode ketiga, dan
selanjutnya beralih kepada dinasti Seljuk pada periode keempat.
d. Kemerosotan
Ekonomi. Khilafah Abbasiyah juga mengalami kemunduran di bidang ekonomi bersamaan
dengan kemunduran di bidang politik.
e. Konflik
Keagamaan. Fanatisme keagamaan
berkaitan erat dengan masalah kebangsaan. Pada periode Abbasiyah , konflik
keagamaan yang muncul menjadi isu sentral sehingga terjadi perpecahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar