Jumat, 04 April 2014

FPI dhe



(fpi kel.1)Pengertian Filsafat Pendidikan Islam
Sebelum mengemukakan pengertian Filsafat Pendidikan Islam perlu diutarakan secara sepintas mengenai pengertian filsafat. Hingga kini tidak ada kesepakatan para ahli dalam merumuskan pengertian filsafat, disebabkan karena berbedanya sudut pandang yang digunakan dari masing-masing.
Namun demikian dapat dikemukakan bahwa kata Filsafat yang berasal dari bahasa Yunani philosophia: Philos berarti cinta, dan Shophia berarti pengetahuan, hikmah, atau kebenaran. Dengan demikian dari segi etimologi, kata filsafat berarti “cinta terhadap pengetahuan atau kebijaksanaan”.
Dari pengertian menurut bahasa tersebut dapat ditegaskan bahwa orang yang suka berfilsafat cenderung cinta terhadap ilmu dan kebijaksanaan, atau selalu ingin mengetahui hakikat tentang sesuatu, karena filsafat pada intinya adalah upaya mencurahkan seluruh pemikiran dalam rangka mencari sebuah kebenaran atau hakikat tentang sesuatu yang ada.
Sebagaimana halnya dengan pengertian secara etimologi, maka secara terminologi atau istilah, rumusan pengertian filsafat juga berbeda di kalangan para ahli. Dari sekian banyak pengertian yang ada, salah satu rumusan pengertian yang dapat dijadikan rujukan adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh Sidi Gazalba yang mengartikan Filsafat sebagai; “befikir secara mendalam, sistematis, radikal, dan universal dalam rangka mencari kebenaran, inti, atau hakikat, mengenai segala sesuatu yang ada”.
 Dari rumusan pengertian filsafat tersebut maka dapatlah ditegaskan bahwa pengertian Filsafat Pendidikan Islam adalah:
Berfikir secara mendalam, sistematis, radikal, dan universal mengenai segala hal yang berkaitan dengan kependidikan, dengan berlandaskan ajaran Islam tentang hakikat kemampuan dan potensi manusia agar dapat dibina dan dikembangkan serta dibimbing agar menjadi manusia yang seluruh kepribadiannya dijiwai oleh ajaran Islam.
Dalam bahasa yang disederhanakan dapat dikatakan bahwa Filsafat Pendidikan Islam adalah berfikir secara mendalam untuk menemukan solusi terhadap berbagai hal yang berkaitan dengan seluruh aspek pendidikan Islam, agar dapat mencapai tujuan yang diinginkan dan sesuai dengan ajaran Islam.
Dari pengertian Filsafat Pendididkan Islam seperti tersebut di atas, jelaslah bahwa, arah dari mata kuliah ini, berupaya untuk membekali mahasiswa sebagai calon pendidik dan aktivis kependidikan, agar dapat mengembangkan kreativitas berfikirnya dalam rangka mencari solusi dari berbagai permasalahan dalam kependidikan Islam, baik yang menyangkut dengan manusia sebagai makhluk paedagogik, alam raya, maupun hal-hal yang berkaitan dengan berbagai pemikiran yang melatar belakangi pelaksanaan suatu aktivitas pendidikan Islam, seperti metode, tujuan, kurikulum, dan lain sebagainya.

II.II Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Islam
Jika diamati secara seksama, dari uraian mengenai pengertian Filsafat Pendidikan Islam, secara sepintas tergambar pula mengenai ruang lingkup Filsafat Pendidikan Islam. Namun demikian, nampaknya secara khusus masalah tersebut masih perlu dipertegas lagi. Penjelasan mengenai ruang lingkup ini mengandung indikasi bahwa Filsafat Pendidikan Islam sebagai sebuah disiplin ilmu harus menunjukkan dengan jelas mengenai bidang kajian atau cakupan pembahasannya.
Dari beberapa tulisan yang membahas mengenai ruang lingkup Filsafat Pendidikan Islam, cukup memberikan gambaran yang jelas bahwa ruang lingkup Filsafat Pendidikan Islam adalah masalah-masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan, seperti masalah tujuan pendidikan, masalah guru, kurikulum, metode, dan lingkungan pendidikan. Bagaimana agar semua masalah tersebut dapat disusun dan dicarikan solusinya, tentu saja harus ada pemikiran yang melatar belakanginya. Pemikiran yang melatar belakinya itulah yang kemudian menjadi wilayah dari disiplin Filsafat Pendidikan Islam.
Oleh karena itu, dalam mengkaji Filsafat Pendidikan Islam seseorang dituntut harus pula memahami konsep tujuan pendidikan Islam, guru, murid, metode, kurikulum, dan lain sebagainya. Dengan demikian dalam Filsafat Pendidikan Islam terdapat pemaduan dua disiplin ilmu yakni filsafat dan pendidikan secara umum. Di samping itu, seseorang harus pula menguasai paling tidak pokok-pokok ajaran Islam yang terkandung dalam Al-Quran dan Hadis, karena sumber dari Filsafat Pendidikan Islam dikaji secara mendalam dari ajaran Islam itu sendiri yang terkandung dalam Al-Quran dan Hadis.
Dalam uraian ini perlu juga dipertegas bahwa meskipun Filsafat Pendidikan Islam berupaya menjawab semua permasalahan menyangkut semua hal yang berkaitan dengan pendidikan Islam, namun ruang lingkupnya bukanlah hal-hal yang bersifat teknis operasional dalam pendidikan, melainkan segala hal yang mendasari serta mewarnai corak sistem dan pelaksanaan pendidikan Islam.

II.III Sumber-sumber Filsafat Pendidikan Islam
Filsafat Pendidikan Islam sebagai sebuah disiplin ilmu, secara epistemologis seyogyanya mempertanyakan dari mana Filsafat Pendidikan Islam dapat diambil.? Atau dengan kata lain, sumber-sumber apa saja yang dapat menjadi pegangan keilmuan bagi Filsafat Pendidikan Islam.?
Berkaitan dengan hal tersebut di atas, Abuddin Nata menegaskan bahwa Filsafat Pendidikan Islam bukanlah Filsafat Pendidikan yang bercorak liberal, bebas, dan tanpa batas etika, sebagaimana halnya dengan Filsafat Pendidikan pada umumnya. Filsafat Pendidikan Islam adalah Filsafat Pendidikan yang berdasarkan ajaran Islam atau Filsafat Pendidikan yang dijiwai oleh ajarn Islam.
 Filsafat Pendidikan Islam bersumber dari ajaran Islam, yaitu Al-Quran dan Hadis yang senantiasa dijadikan sebagai landasan bagi Filsafat Pendidikan Islam. Dengan demikian, sumber Filsafat Pendidikan Islam adalah digali dari ajaran Islam secara keseluruhan. Selain itu, Filsafat Pendidikan Islam juga mengambil sumber-sumber dari ajaran lain yang dinilai tidak bertentangan dengan pokok-pokok ajaran Islam. Dalam kontek ini, menurut Abdul Rahman Shalih Abdullah menyebutkan bahwa para ahli ilmu Filsafat Pendidikan Islam dapat digolongkan kepada dua corak aliran, yakni;
(1) mereka yang mengadopsi konsep-konsep non-Islam dan kemudian    memadukannya ke dalam pemikiran pendidikan Islam;
(2) mereka yang tergolong ke dalam kelompok yang tradisional yang hanya mengambil sumber Filsafat Pendidikan Islam dari Al-Quran dan Hadis.
 Berdasarkan dua kelompok pembagian tersebut di atas, dapat dikatakan bahwa kelompok pertama merupakan aliran yang bercorak liberal, dan kelompok kedua merupakan kelompok yang beraliran konservatif. Dalam hal ini, menurut pendapat kami, bahwa meskipun Filsafat Pendidikan Islam berlandaskan kepada ajaran Islam (Al-Quran dan Hadis), namun Filsafat Pendidikan Islam juga perlu mengadopsi sumber-sumber lain yang bekaitan dengan perkembangan ilmu pengetahuan kontemporer. Namun perlu ditegaskan bahwa dalam pengadopsian tersebut harus dilakukan dengan seselektif mungkin, agar dapat terhindar dari hal-hal yang bertentangan dengan pokok-pkok ajaran Islam. Argumen ini berangkat dari sebuah hadis yang sangat populer: ?????????? ????????? ?????? ?????????? (Tuntutlah ilmu, walaupun di negeri Cina).

II.IV Urgensi dan Fungsi Filsafat Pendidikan Islam
Permasalahan yang perlu dijawab pada bagian ini adalah; untuk apa mempelajari Filsafat Pendidikan Islam.? Pertanyaan ini harus terlebih dahulu diajukan karena setiap disiplin ilmu pasti memiliki kegunaan, demikian pula halnya dengan Filsafat Pendidikan Islam.
Para ahli dalam bidang Filsafat Pendidikan Islam telah banyak melakukan penelitian secara teoritis mengenai kegunaan dari Filsafat Pendidikan Islam. Omar Muhammad al-Toumy al-Syaibany misalnya mengemukakan beberapa manfaat yang dapat diperoleh dalam mempelajari Filsafat Pendidikan Islam, salah satu yang terpenting di antaranya adalah;
Filsafat Pendidikan dapat membantu para perancang dan pelaksana pendidikan dalam suatu negara atau wilayah, dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan dalam rangka untuk menentukan arah dan tujuan ke mana pendidikan beserta hasilnya akan diarahkan, sesuai dengan cita-cita negara atau wilayah yang bersangkutan.
Senada dengan itu, George R. Knight sebagaimana dikutip oleh Toto Suharto, secara umum menyebutkan 4 (empat) urgensi dari mempelajari Filsafat Pendidikan Islam, yaitu:
a. Dapat membantu para pendidik dan aktivis kependidikan untuk memahami berbagai persoalan mendasar tentang pendidikan.
b. Memungkinkan bagi para pendidik untuk dapat mengevaluasi secara lebih baik, dan memilih berbagai tawaran yang merupakan solusi bagi persoalan-persoalan kependidikan.
c. Untuk membekali para pendidik dan aktivis kependidikan berfikir klarifikatif tentang tujuan-tujuan hidup dalam kaitannya dengan pendidikan.
d. Untuk memberi bimbingan dalam mengembangkan suatu sudut pandang yang konsisten, dan mengembangkan berbagai program pendidikan yang berhubungan secara realistis dengan konteks negara secara khusus, dan dunia global secara umum.
Dari beberapa manfaat mempelajari Filsafat Pendidikan, dapat disimpulkan bahwa pada intinya, Filsafat Pendidikan Islam merupakan pegangan dan pedoman yang dapat dijadikan landasan filosofis bagi pelaksanaan pendidikan Islam dalam rangka upaya untuk menghasilkan generasi baru yang terdidik dan berkepribadian Muslim, di mana seluruh perilaku hidupnya senantiasa dijiwai oleh ajaran Islam.

A.Hakikat Alam
1. Alam Semesta dalam perspektif Falsafah Pendidikan Islam
Alam dalam pandangan Filsafat Pendidikan Islam dapat dijelaskan sebagai berikut. Kata alam berasal dari bahasa Arab ’alam (عالم ) yang seakar dengan ’ilmu (علم, pengetahuan) dan alamat (مة علا, pertanda). Ketiga istilah tersebut mempunyai korelasi makna. Alam sebagai ciptaan Tuhan merupakan identitas yang penuh hikmah. Dengan memahami alam, seseorang akan memperoleh pengetahuan. Dengan pengetahuan itu, orang akan mengetahui tanda-tanda atau alamat akan adanya Tuhan. Dalam bahasa Yunani, alam disebut dengan istilah cosmos yang berarti serasi, harmonis. Karena alam itu diciptakan dalam keadaan teratur dan tidak kacau. Alam atau cosmos disebut sebagai salah satu bukti keberadaaan Tuhan, yang tertuang dalam keterangan Al-qur`an sebagai sumber pokok dan menjadi sumber pelajaran dan ajaran bagi manusia.Istilah alam dalam alqur’an datang dalam bentuk jamak (‘alamiina), disebut sebanyak 73 kali yang termaktub dalam 30 surat. 15 Pemahaman kata ‘alamin, merupakan bentuk jamak dari keterangan al-quran yang mengandung berbagai interpretasi pemikiran bagi manusia.
Menurut Al-Rasyidin, dalam bukunya Falsafah pendidikan Islam bahwa kata `alamin merupakan bentuk prulal yang mengindikasikan bahwa alam semesta ini banyak dan beraneka ragam. Pemaknaan tersebut konsisten dengan konsepsi Islam bahwa hanya Allah Swt yang Ahad, Maha Tunggal dan tidak bisa dibagi-bagi. Kemudian beliau menuturkan kembali bahwa konsep islam megenai alam semesta merupakan penegasan bahwa alam semesta adalah sesuatu selain Allah Swt.Dari satu sisi alam semesta dapat didefenisikan sebagai kumpulan jauhar yang tersusun dari maddah (materi) dan shurah (bentuk), yang dapat diklasifikasikan ke dalam wujud konkrit (syahadah) dan wujud Abstrak (ghaib). Kemudian, dari sisi lain, alam semesta bisa juga dibagi ke dalam beberapa jenis seperti benda-benda padat (jamadat), tumbuh-tumbuhan (nabatat), hewan (hayyawanat), dan manusia.Menurut Prof. Dr. Omar Mohammad Al-Toumy al-Syaibany dalam bukunya Falsafah Pendidikan Islam menyatakan bahwa alam semesta atau alam jagat ialah selain dari Allah swt yaitu cakrawala, langit, bumi, bintang, gunung dan dataran, sungai dan lembah, tumbuh-tumbuhan, binatang, insan, benda dan sifat benda, serta makhluk benda dan yang bukan benda. Beliau juga menuturkan bahwa sebahagian ulama Islam mutaakhir membagi alam ini kepada empat bahagian yaitu ruh, benda, tempat dan waktu. Sedangkan manusia menjadi salah satu unsur alam semesta sebagai makhluk baharu dengan fungsi untuk memakmurkan alam semesta serta meneruskan kemajuaannya.
Di dalam Al Qur'an pengertian alam semesta dalam arti jagat raya dapat dipahami dengan istilah "assamaawaat wa al-ardh wa maa baynahumaa.Istilah ini ditemui didalam beberapa surat Al Qur'an yaitu: Dalam surat maryam ayat 64 dan 65   Dan tidaklah kami (Jibril) turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu. kepunyaan-Nya-lah apa-apa yang ada di hadapan kita, apa-apa yang ada di belakang kita dan apa-apa yang ada di antara keduanya, dan tidaklah Tuhanmu lupa (64). Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, Maka sembahlah dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan dia (yang patut disembah)?Dalam surat ar-rum ayat 22
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang Mengetahui.
Untuk dapat Memahami dan meneliti alam yang kemudian menghasilkan science yang benar, haruslah melalui pendidikan yang benar dan berkualitas. Oleh karena itu, Islam mempunyai ajaran yang sangat penting dalam pendidikan, dalam rangka menghasilkan para scientist, ilmuwan atau ulama, yang kemudian akan memelihara dan memakmurkan alam ini.
2. Proses penciptaan alam semesta
Al Qur’an telah menjelaskan bahwa sebenarnya seluruh kejadian di alam semesta ini, sudah terjadi dan kejadiannya mengikuti segala rencana dan konsep yang sudah tertera di dalamnya. menurut al-Qur`an adalah secara bertahap. Hal ini dapat diketahui melalui firman Allah Swt dalam Surat Al Anbiya ayat 30:
"Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah sesuatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan daripada air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga yang beriman?"
Al-Rasyidin mengungkapkan bahwa Allah Swt menciptakan alam semesta ini tidak sekaligus atau sekali jadi, akan tetapi melalui beberapa tahapan, masa atau proses. Dalam sejumlah surah, al-Qur`an selalu menggunakan istilah fi sittah ayyam, yang dapat diterjemahkan dalam arti enam hari, enam masa atau enam periode. Adapun ayat yang menceritakan tentang penciptaan alam dalam enam masa terdapat pada surat yunus ayat 3 dan surat Al-Araf ayat 54 adalah: Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, Kemudian dia bersemayam di atas 'Arsy untuk mengatur segala urusan. tiada seorangpun yang akan memberi syafa'at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian Itulah Allah , Tuhan kamu, Maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang Telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu dia bersemayam di atas 'Arsy. dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah . Maha Suci Allah , Tuhan semesta alam.Proses penciptaan alam semesta diungkapkan dengan menggunakan istilah yang beragam seperti Khalaqa, sawwa, Fatara, Sakhara, Ja`ala, dan Bada`a. semua sebutan untuk penciptaan ini mengandung makna mengadakan, membuat, mencipta, atau menjadikan, dengan tidak meniscayakan waktu dan tempat penciptaan. Dengan kata lain, bahwa penciptaan alam semesta tidak mesti harus di dahului oleh ruang dan waktu.
Dalam diskursus keagamaan dan kefilsafatan, hakikat penciptaan telah terjadi perdebatan panjang yang bermuara pada adanya perbedaan interpretasi etimologis terhadap terma-terma yang digunakan oleh AlQur`an. Para teolog muslim berpendapat bahwa ala mini diciptakan dari ketiadaaan (al-khalq min `adam) atau creation ex nihillo. Bagi mereka, karena Allah maha kuasa, maka dalammenciptakan sesuatu dari ketiadaaan bukanlah suatu kemustahilan. Di pihak lain, dengan berdasarkan logika dan ilmu serta dengan pengamatan terhadap fenomena alam secara alamiah, para filosof berpendapat bahwa penciptaan terjadi atas dasar pengubahan bahan dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain.Terlepas dari perdebatan panjang mengenai penciptaan alam semesta ini, maka Al-Qur`an telah menerangkan bahwa alam diciptakan oleh Allah Swt melalui tahapan dan proses, dan tidak terjadi sekaligus. Dalam hal dapat disimpulkan bahwa:
a. Alam semesta diciptakan oleh Allah secara bertahap dan berproses
b. Asal mula penciptaan alam semesta berasal dari asap
c. Penciptaan alam semesta terbentuk melalui enam masa atau enam hari atau enam periode
3. Tujuan dan Fungsi Penciptaan Alam Semesta
Dalam perspektif Islam, tujuan penciptaan alam semesta pada dasarnya adalah sarana untuk menghantarkan manusia pada pengetahuan dan pembuktian tentang keberadaan dan kemahakuasaan Allah Swt. Keberadaaan alam semesta merupakan petunjuk yang jelas tentang keberadaaan Allah Swt. Oleh karena itu dalam mempelajari alam semesta, manusia akan sampai pada pengetahuan bahwa Allah Swt adalah Zat yang menciptakan alam semesta.
Alam semesta ini diciptakan bertujuan untuk menunjuk manusia sebagai Khalifah yang mengemban amanah dari Allah Swt, dalam mengemban amanah tersebut apakah manusia mampu menjalankannya dengan menghadapi berbagai ujian dan cobaan atau sebalikya, manusia justru mengkhianati amanah yang diberikan kepadanya dengan berbuat kerusakan dimuka bumi ini. Ini tercantum dalam surat Al-baqarah ayat 30
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
Di dalam perspektif Islam, alam semesta merupakan sesuatu selain Allah Swt. Oleh sebab itu, alam semesta bukan hanya langit dan bumi, namun meliputi seluruh yang ada dan berada di antara keduanya. Bukan hanya itu, di dalam perspektif Islam alam semesta tidak saja mencakup hal-hal yang konkrit yang dapat diamati melalui panca indera manusia, tetapi alam semesta juga merupakan segala sesuatu yang keberadaaannya tidak dapat diamati oleh panca indera manusia. alam semesta merupakan ciptaaan Allah Swt yang diperuntukkan kepada manusia yang kemudian diamanahkan sebagai khalifah untuk menjaga dan memeliharanya.alam semesta ini, selain itu alam semesta juga merupakan mediasi bagi manusia untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang terproses melalui pendidikan.
2. Proses penciptaan alam semesta
Al Qur’an telah menjelaskan bahwa sebenarnya seluruh kejadian di alam semesta ini, sudah terjadi dan kejadiannya mengikuti segala rencana dan konsep yang sudah tertera di dalamnya. Gambaran jelasnya, bahwa semua proses alam semesta ini mengikuti dan merujuk pada segala yang tertuang dalam Al Qur’an, apakah diketahui atau tidak tabir rahasianya oleh manusia.
Mengenai proses penciptaan alam semesta, Al-Qur'an telah menyebutkan secara gamblang mengenai hal tersebut, dan dapat dipahami bahwa proses penciptaan alam semesta menurut al-Qur`an adalah secara bertahap. Hal ini dapat diketahui melalui firman Allah Swt dalam Surat Al Anbiya ayat 30:
"Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah sesuatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan daripada air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga yang beriman?"Apabila dikaitkan dengan sejumlah teori seputar terjadinya kosmos menurut sains modern, maka konsep penciptaan semesta yang tertera dalam Al-Qur'an tidak dapat disangkal lagi kebenarannya.Adanya kumpulan kabut gas dan terjadinya pemisahan-pemisahan kabut gas tersebut atau dikenal dengan proses evolusi terbentuknya alam semesta, sudah dipaparkan secara jelas oleh Al-Qur'an jauh sebelum sains modern mengemukakannya. Berkenaan Ayat tentang asal mula alam semesta dari kabut/nebula terdapat dalam surat fushilat ayat 9 sampai 12 yaitu:
Katakanlah: "Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya? (yang bersifat) demikian itu adalah Rabb semesta alam". Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. dia memberkahinya dan dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu dia Berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati". Maka dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. dan kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
Al-Rasyidin mengungkapkan bahwa Allah Swt menciptakan alam semesta ini tidak sekaligus atau sekali jadi, akan tetapi melalui beberapa tahapan, masa atau proses. Dalam sejumlah surah, al-Qur`an selalu menggunakan istilah fi sittah ayyam, yang dapat diterjemahkan dalam arti enam hari, enam masa atau enam periode. Adapun ayat yang menceritakan tentang penciptaan alam dalam enam masa terdapat pada surat yunus ayat 3 dan surat Al-Araf ayat 54 adalah:
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, Kemudian dia bersemayam di atas 'Arsy untuk mengatur segala urusan. tiada seorangpun yang akan memberi syafa'at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian Itulah Allah , Tuhan kamu, Maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran? Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang Telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu dia bersemayam di atas 'Arsy. dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah . Maha Suci Allah , Tuhan semesta alam.
Proses penciptaan alam semesta diungkapkan dengan menggunakan istilah yang beragam seperti Khalaqa, sawwa, Fatara, Sakhara, Ja`ala, dan Bada`a. semua sebutan untuk penciptaan ini mengandung makna mengadakan, membuat, mencipta, atau menjadikan, dengan tidak meniscayakan waktu dan tempat penciptaan. Dengan kata lain, bahwa penciptaan alam semesta tidak mesti harus di dahului oleh ruang dan waktu. Al-Qur`an telah menerangkan bahwa alam diciptakan oleh Allah Swt melalui tahapan dan proses, dan tidak terjadi sekaligus. Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa:
a. Alam semesta diciptakan oleh Allah secara bertahap dan berproses
b. Asal mula penciptaan alam semesta berasal dari asap
c. Penciptaan alam semesta terbentuk melalui enam masa atau enam hari atau enam periode
3. Tujuan dan Fungsi Penciptaan Alam Semesta
Penciptaan alam semesta bertujuan untuk memperlihatkan kepada manusia bahwa Allah swt adalah Maha Pencipta seluruh alam dengan segala kemuliaanNya dan segala kekuasaanNya. Sebagaimana firman Allah swt dalam surat al-Dukhan ayat 38-39
Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq, tetapi kebanyakan mereka tidak Mengetahui.Al-qur`an secara tegas menyatakan bahwa tujuan penciptaan alam semesta ini adalah untuk memperlihatkan kepada manusia akan tanda-tanda (ayah) atas keberadaan dan kekuasaan Allah Sw. Sebagaimana firmanNya dalam surat Fushshilat ayat 53
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Alam semesta ini diciptakan bertujuan untuk menunjuk manusia sebagai Khalifah yang mengemban amanah dari Allah Swt, dalam mengemban amanah tersebut apakah manusia mampu menjalankannya dengan menghadapi berbagai ujian dan cobaan atau sebalikya, manusia justru mengkhianati amanah yang diberikan kepadanya dengan berbuat kerusakan dimuka bumi ini. Ini tercantum dalam surat Al-baqarah ayat 30
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
4. Implikasi penciptaan alam semesta terhadap pendidikan islam
Islam menegaskan bahwa esensi alam semesta adalah selain dari Allah Swt. Dia adalah al-Rabb, yaitu Tuhan Maha Pencipta yang menciptakan seluruh Makhluk yang makro dan mikro kosmos. Al-syaibany sebagaimana yang tertera dalam bukunya Al-Rasyidin, Falsafah Pendidikan Islam menjelaskan bahwa proses pendidikan adalah menyampaikan sesuatu kepada titik kesempurnaannya secara berangsur-angsur. Karenanya, implikasi filosofi terhadap pendidikan islam adalah bahwa pendidikan islam merupakan suatu proses atau tahapan dimana peserta didik diberi bantuan kemudahan untuk mengembangkan potensi jismiyah dan ruhaniyahnya sehingga fungsional untuk melaksanakan fungsi dan tugas-tugasnya dalam kehidupan di alam semesta. oleh karena pendidikan merupakan proses dan tahapan, maka pendidikan Islami akan berlangsung secara kontiniu sepanjang kehidupan manusia di muka bumi ini.
Dalam perspektif Islam, manusia harus merealisasikan tujuan kemanusiaanya di alam semesta, baik sebagai Syahid Allah , `abd Allah maupun Khalifah Allah . Dalam konteks ini menurut Al-Rasyidin bahwa Allah Swt menjadikan alam semesta sebagai wahana bagi manusia untuk bersyahadah akan keberadaaan dan kemahakuasaan-Nya. Wujud nyata yang menandai syahadah itu adalah penuaian sebagai makhluk `ibadah dan pelaksanaan tugas-tugas sebagai khalifah. Beliau juga menjelaskan bahwa alam semesta merupakan institusi pendidikan, yakni tempat di mana manusia dididik, dibina, dilatih, dan dibimbing agar berkemampuan merealisasikan atau mewujudkan fungsi dan tugasnya sebagai `abd Allah dan khalifah dalam menerapkan amal ibadah dan amal shalih kepada Allah Swt. Melalui proses pendidikan di alam semesta inilah, kelak Allah Swt akan menilai siapa diantara hamban-Nya yang mampu meraih markah atau prestasi terbaik.
Dalam al-quran dijelaskan cara-cara memahami alam. Salah satu cara memahami alam raya ini dapat dilakukan lewat indera penglihatan, pendengaran, perasa, pencium dan peraba. Artinya, semua alat utama ini dapat membantu manusia untuk melakukan pengamatan dan eksperimen. Hal ini terdapat pada surat An-Nahl ayat 78
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.
Panca indera belumlah cukup atau satu-satunya jalan memahami alam, tetapi dibutuhkan lagi yaitu penalaran atau akal.Di samping alat indera dan akal manusia, ada lagi cara lain yaitu melalui wahyu dan ilham (inspirasi).

B.        Hakikat Kehidupan
a. Filsafat Kehidupan
Hidup adalah yang menunjukkan masih berada, bergerak, dan bekerja sebagaimana mestinya.
Orang dapat dipengaruhi oleh dua pandangan hidup, yaitu:
1)      Mekanisme
Memandang segala kejadian di dunia ini sebagai suatu atomatisme belaka, suatu kejadian yang dengan sendirinya harus terjadi sebagai akibat dari suatu rentetan hukum sebab-akibat (Cause-Effect).
Yang dimaksud “sesuatu yang mekanis” menunjuk pada tiga arti:
a.       Sesuatu yang menunjuk pada teori mesin
b.      Sesuatu yang menunjuk pada fisio-kimiawi
c.       Sesuatu yang menunjuk pada proses kerja kausalistik
2)      Vitalis
Menganngap adanya hidup sebagai prinsip yang lepas dari segala kebendaan. Hidup itu dapat bermanifestasi (menyatu) dalam benda yang mempunyai susunan tertentu, kemudian benda itu kita sebut hidup. Kalau susunan benda itu rusak maka hidup tidak lagi menyatu (bersemayam) di dalamnya, dengan kata lain makhluk tersebut dianggap mati.
Henry Bergson (1859-1941), seorang vitalisme yang terkemuka, berpendapat bahwa hidup itu merupakan proses yang berarah tujuan , bergerak maju ke bentuk-bentuk hidup yang semakin tinggi hingga sangat muskil. Perkembangan itu karena adanya “hasrat hidup” (elan vital). Elan vital terus terus menerus mendorong organisme hidup terus bergerak menyerap hidup. Sehingga terbentuk bentuk-bentuk hidup yang baru  (evolusi).
Hidup sekarang:Hidup yang dulu: ketika kita merasakan seakan pernah datang ke suatu tempat, padahal tempat itu baru pertama kali kita kunjungi atau bahkan tempat tersebut baru dibangun, maka tempat itu diberitahukan pada alam hidup yang dulu.
Hidup yang nanti:Dapat dirasakan oleh kita dan lebih-lebih penguasa yang dzalim tindakannya akan diperhitungkan pada hidup yang akan datang, tempat di mana semuanya harus dipertanggungjawabkan. Hal ini dalam kajian agama disebut akhirat.
b. Filsafat perjuangan
Perjuangan dalam pandangan filsafat merupakan kemestian yang tidak bisa ditawar-tawar. Sebab ia merupakan kelaziman dari keberadaan materi. Oleh karenanya untuk lebih memahami kelaziman tersebut perlu kiranya kami paparkan susunan keberadaan alam semesta.
Ada dua kategori pilihan, yaitu baik dan buruk. Dalam al-Qur’an disebut dengan istilah haq dan bathil. Untuk menentukan mana yang baik dan buruk inilah diperlukan Wahyu dari Allah SWT, karena setiap pilihan akan dipertanggungjawabkan dan diadili di Yaumil Akhir nanti sebagai perimbangan dunia sekarang ini. Surga-Neraka pun dimaksudkan Allah sebagai ganjaran atas segala perbuatan di dunia, dalam kata lain disebut dengan amal dan dosa.
Jean Paul Sartre, seseorang yang menganut paham eksistensialisme mengatakan: “Man is nothing else but what he makes him self” (Manusia tidak lain daripada bagaimana ia menjadikan dirinya sendiri). Dari kata-kata tersebut jelas bahwa Sartre tidak percaya pada takdir, karena perjuangan baginya harus dilaksanakan dengan gigih secara maksimal. Tapi Sartre juga mengatahui bahwa manusia memiliki keterbatasan, sebagaimana dikatakannya berikut ini: “I still believe that individual freedom is total, ontologically speaking, but on the other hand I am more and more convinced that this freedom is conditioned and limited by circumstances” (saya masih percaya bahwa kebebasan individu adalah total, demikian dalam bangunan ontologism, di lain pihak saya semakin menjadi yakin bahwa kebebasan ini ditentukan dan dibatasi oleh berbagai keadaan).
Etika dan syariat serta akal yang sehat tidak dapat membenarkan adanya penjarahan yang tidak teratur bagi manusia. Karena ia merupakan keberadaan yang berbudaya dan beretika. Terlebih lagi ia merupakan keberadaan yang berakal yang justru dengan itu semua manusia berbeda dengan dari wujud-wujud lain. Apalagi ia merupakan makhluk yang diciptakan untuk mengabdi (ibadah). Oleh karena itu, perjuangan yang akan ia lakukan haruslah sesuai dengan etika, logika, dan syariat yang kesemuanya itu adalah hakikat yang satu dalam tiga manifestasi.
Ketika manusia harus berjuang dalam mempertahankan dan/atau memajukan hidupnya maka manusia harus berjuang selalu. Namun ketika pada diri manusia ada dua macam potensi, yaitu potensi untuk menjadi baik dan menjadi buruk, maka perjuangannya pun akan didasarkan pada dua potensi itu. Oleh karena itu, perjuangan manusia memiliki dua macam : baik dan buruk.
c.        Filsafat Takdir
Takdir adalah suatu rumusan baku dari Sang Pencipta yang ditetapkan kepada tiap unit terkecil ciptaan-Nya. Takdir terlihat setelah manusia tidak lagi mampu merencanakan, tidak lagi mampu mengerjakan, tidak lagi mampu mengontrol, tidak lagi mampu memilih alternatif, jadi tidak lagi mampu berbuat dan merubah sesuatu itu.
Takdir disebut juga undeterminisme, “un” berarti tidak, begitu juga “de” berarti tidak, sedangkan “terminus” berarti terbatas. Jadi undeterminisme adalah keterbatasan. Dengan demikian “terminus” yang berarti batas, sehingga aliran ini sesukanya mengingkari adanya kehendak bebas. Undeterminisme dibagi menjadi undeterminisme matrealistis dan undeterminisme religious. Undeterminisme matrealistis adalah keterbatasan pada materi, yaitu hukum alam. Seperti kita ketahui bahwa maut tidak pernah memilih umur tua atau muda, dan kemampuan tubuh yang kuat atau lemah untuk mati duluan.
Undeterminisme religious adalah keterbatasan pada takdir, yaitu kehendak Allah. Sebagai contoh dapat kita lihat, apakah seseorang itu ditakdirkan menjadi penguasa atau masyarakat biasa.
Sampai sekarang untuk menentukan ukuran suatu benda kita namakan dengan “kadar”, yaitu berasal dari kata “qadar” yang berarti ketentuan untuk suatu benda mati maupun hidup yang sudah tidak dapat diubah lagi, karena sudah menjadi ketetapan Allah SWT.
Oleh karena itu diperoleh rumus sebagai berikut:
Perjuangan + Takdir + Do’a = Nasib
Jadi yang tak dapat dirubah lagi adalah nasib. Namun nasib itu merupakan hasil setelah seseorang berjuang secara maksimal dengan seluruh upayanya, lalu memperhatikan takdir yang sudah ditetapkan, kemudian memohon do’a dengan khusuk kepada Allah yang Maha Mendengar, yang tidak pernah berhenti melihat, dan tidak pernah berhenti berkehendak, karena mudah bagi Allah untuk membalikkan keadaan.
Konsep tentang takdir sangat beragam. Bertolak dari berpikir analitis yang spontan, radikal, dan komprehensif, bisa diberikan penjabaran ringkas dari sudut pandang Islam, Positivistik, dan Filsafat ”aku” dalam tulisan ini.
Filsafat ’aku’ adalah derivasi konsep sufistik yang berkembang selama lebih dari sebelas abad, khususnya sejak pemikiran Hasan alBasri menjadi sebuah pilar penting dalam pemikiran tasawuf dan pemikiran saya tentang konsep ”aku”, baik dalam bentuk karya tulis sajak, maupun pati kata yang akan dijelaskan secara lugas dalam tulisan ini kaitannya dengan konsep takdir manusia.

d.        Filsafat Do’a
Do’a adalah meminta sesuatu kepada Allah yang Maha Kuasa, demikian dalam agama Islam. Begitu pula dalam agama Yahudi, Hindu, Budha, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Agama Shinto, bahkan Kong Fu Tse juga mengajarkan do’a.
Mengapa manusia harus berdo’a?
Karena Allah mengijinkan manusia merasakan penderitaannya, lalu dengan berbelas kasih memohon kepada Allah, setelah merasakan kefakiran, merasakan kebodohan, dan merasakan kelemahan masing-masing. Dalam al-Qur’an tertulis:
“Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan merendahkan diri dan tidak mengeraskan suara, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Q.S. 7: 55)
Tidak semua do’a akan terkabulkan, apalagi yang bersifat menandingi. Contohnya, ketika seorang kandidat bupati berdo’a dan tidak menutup kemungkinan lawan politiknya juga berdo’a. apakah kemudian kabupaten tersebut akan dibagi sebanyak calon bupati karena do’a semua kandidat dikabulkan.
Mengabulkan do’a adalah hak Allah, maka berdo’alah dengan segala kerendahan hati, ciptakan kegentaran dan ketakutan, sebaliknya jangan munculkan rasa kedongkolan, keterpaksaan dan kecewa, karena Allah mengetahui isi hati kita. Dengan demikian do’a bukan pemberitahuan kepada Allah, karena Allah Maha Mengetahui, tetapi merupakan permohonan bantuan atas segala kelemahan kita sebagai makhluk.

e.         Filsafat Kematian
Secara umum mati diartikan sebagai berpisahnya antara roh dengan jasad. Tetapi dari kenyataan sehari-hari saja kita dapat berpendapat bahwa mati adalah berhentinya fungsi keseluruhan organ tubuh.
Mati dapat disebabkan banyak hal:
1.         Kerusakan salah satu organ tubuh, yang mengakibatkan gangguan keberadaan seluruh tubuh.
2.         Keberangkatan roh, untuk memulai suatu perjalanan panjang.
Filsafat tidak dapat mengatakan apa yang terjadi waktu itu, kemungkinan bahwa di belakang pintu ada kekosongan mutlak menganga, tidak terkecuali, tetapi tidak terkecuali pula kemungkinan bahwa saat kematian, adalah saat kita sungguh-sungguh maninggalkan apa saja di dunia ini. (Franz MAgnis, 1987)
Apakah maut itu berarti hanya kekosongan, atau sebaliknya saat mata kita terbuka untuk keseluruhan, ini tidak dapat dipastikan oleh manusia sendiri. Satu jawaban, atas pertanyaan itu hanya dapat diberikan oleh Realitas Mutlak itu sendiri, dan itulah yang diungkapkan dalam keyakinan beragama.
Pembicaraan mengenai kematian atau maut ini meliputi pembicaraan tentang arti kematian, proses kematian, fungsi kematian dan makna kematian itu sendiri. Berkaitan dengan hal itu Munandar Solaeman menyampaikan pokok pikiran tentang mati sebagai berikut:
1.         Mati adalah berhentinya budi daya manusia secara total.
2.         Proses kematian manyangkut segi fisik dan segi rohani.
3.         Sikap manusia menghadapi kematian bermacam-macam.
4.         Kematian merupakan pengalaman akhir dari hidup seseorang.
5.         Kesimpulan, konsepsi, atau pengertian tentang kematian lebih banyak diperoleh dari sumber-sumber agama, seperti wahyu atau ajaran agama lainnya.

A.    HAKIKAT MANUSIA
a.      Pengertian Hakikat
Menurut bahasa hakikat berarti kebenaran atau seesuatu yang sebenar-benarnya atau asal segala sesuatu. Dapat juga dikatakan hakikat itu adalah inti dari segala sesuatu atau yang menjadi jiwa sesuatu. Karena itu dapat dikatakan hakikat syariat adalah inti dan jiwa dari suatu syariat itu sendiri. Dikalangan tasauf orang mencari hakikat diri manusia yang sebenarnya karena itu muncul kata-kata diri mencari sebenar-benar diri. Sama dengan pengertian itu mencari hakikat jasad, hati, roh, nyawa, dan rahasia.

b.      Pengertian Manusia
Manusia adalah makhluk paling sempurna yang pernah diciptakan oleh Allah swt. Kesempurnaan yang dimiliki manusia merupakan suatu konsekuensi fungsi dan tugas mereka sebagai khalifah di muka dumi ini. Al-Quran menerangkan bahwa manusia berasal dari tanah.

Membicarakan tentang manusia dalam pandangan ilmu pengetahuan sangat bergantung metodologi yang digunakan dan terhadap filosofis yang mendasari. Para penganut teori psikoanalisis menyebut manusia sebagai homo volens (makhluk berkeinginan). Menurut aliran ini, manusia adalah makhluk yang memiliki perilaku interaksi antara komponen biologis (id), psikologis (ego), dan social (superego). Di dalam diri manusia tedapat unsur animal (hewani), rasional (akali), dan moral (nilai).

Para penganut teori behaviorisme menyebut manusia sebagai homo mehanibcus (manusia mesin). Behavior lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme (aliran yang menganalisa jiwa manusia berdasarkan laporan subjektif dan psikoanalisis (aliran yang berbicara tentang alam bawa sadar yang tidak nampak). Behavior yang menganalisis prilaku yang Nampak saja. Menurut aliran ini segala tingkah laku manusia terbentuk sebagai hasil proses pembelajaran terhadap lingkungannya, tidak disebabkan aspek.

Para penganut teori kognitif menyebut manusia sebagai homo sapiens (manusia berpikir). Menurut aliran ini manusia tidak di pandang lagi sebagai makhluk yang bereaksi secara pasif pada lingkungannya, makhluk yang selalu berfikir. Penganut teori kognitif mengecam pendapat yang cenderung menganggap pikiran itu tidak nyata karena tampak tidak mempengaruhi peristiwa. Padahal berpikir , memutuskan, menyatakan, memahami, dan sebagainya adalah fakta kehidupan manusia.
Dalam al-quran istilah manusia ditemukan 3 kosa kata yang berbeda dengan makna manusia, akan tetapi memilki substansi yang berbeda yaitu kata basyar, insan dan al-nas.

Kata basyar dalam al-quran disebutkan 37 kali salah satunya al-kahfi : innama anaa basyarun mitlukum (sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu). Kata basyar selalu dihubungkan pada sifat-sifat biologis, seperti asalnya dari tanah liat, atau lempung kering (al-hijr : 33 ; al-ruum : 20), manusia makan dan minum (al-mu’minuum : 33).
Kata insan disebutkan dalam al-quran sebanyak 65 kali, diantaranya (al-alaq : 5), yaitu allamal insaana maa lam ya’ (dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya). Konsep islam selalu dihubungkan pada sifat psikologis atau spiritual manusia sebagai makhluk yang berpikir, diberi ilmu, dfan memikul amanah (al-ahzar : 72). Insan adalah makhluk yang menjadi (becoming) dan terus bergerak maju ke arah kesempurnaan.

Kata al-nas disebut sebanyak 240 kali, seperti al-zumar : 27 walakad dlarabna linnaasi fii haadzal quraani min kulli matsal (sesungguhnya telah kami buatkan bagi manusia dalam al-quran ini setiap macam perumpamaan). Konsep al-nas menunjuk pada semua manusia sebagai makhluk social atau secara kolektif.

Dengan demikian Al-Quran memandang manusia sebagai makhluk biologis, psikologis, dan social. Manusia sebagai basyar, diartikan sebagai makhluk social yang tidak biasa hidup tanpa bantuan orang lain dan atau makhluk lain.
Sebenarnya manusia itu terdiri dari 3 unsur yaitu :
1. Jasmani. Terdiri dari air, kapur, angin, api dan tanah.
2. Ruh. Terbuat dari cahaya (nur). Fungsinya hanya untuk menghidupkan jasmani saja.
3. Jiwa. Manusia memiliki fitrah dalam arti potensi yaitu kelengkapan yang diberikan pada saat dilahirkan ke dunia. Potensi yang dimiliki manusia dapat di kelompokkan pada dua hal yaitu potensi fisik dan potensi rohania. Ibnu sina yang terkenal dengan filsafat jiwanya menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk social dan sekaligus makhluk ekonomi.
Manusia adalah makhluk social untuk menyempurnakan jiwa manusia demi kebaikan hidupnya, karena manusia tidak hidup dengan baik tanpa ada orang lain. Dengan kata lain manusia baru bisa mencapai kepuasan dan memenuhi segala kepuasannya bila hidup berkumpul bersama manusia.

c.       Hakikat Manusia
Hakikat berasal dari kata Arab Al-haqiqat, yang berarti kebenaran dan esensi. Dalam pengertian ini, Muhammad Yasir Nasution mengungkapkan bahwa hakikat mengandung makna sesuatu yang tetap, tidak berubah-ubah. Yaitu identitas esensial yang menyebabkan sesuatu menjadi dirinya sendiri dan membedakannya dari yang lainnya. Lebih lanjut, yang mendasari jalan berpikir merumuskan hakikat manusia adalah prinsip yang umum dianut oleh para filosof, yaitu mabda’ al-dzatiyyat (prinsip identitas) yang lebih populer dengan sebutan prinsip pertama. Prinsip ini berbunyi : “sesuatu yang ada hanya identik dengan dirinya sendiri. Dengan demikian maka dapat dipahami bahwa segala sesuatu yang ada mempunyai identitas yang menandai esensinya dan menunjukkan kebedaannya dari yang lain.
Menurut kajian ilmu, manusia sebagai individu terdiri dari sel-sel daging, tulang, saraf, darah dan lain-lain (materi) yang membentuk jasad. Ilmu mengakui bahwa dalam diri manusia ada jiwa, bahkan penganut teori evolusi pun mengakuinya. Namun, apakah jiwa itu substansi yang berdiri sendiri, ataukah ia hanya merupakan fungsi atau aktivitas jasad dengan organ-organnya.
Lebih lanjut, Al-Ghazali menggambarkan manusia terdiri dari Al-Nafs, Al-ruh dan Al-jism. Al-nafs adalah substansi yang berdiri sendiri, tidak bertempat. Al-ruh adalah panas alam di (al-hararat al-ghariziyyat) yang mengalir pada pembuluh-pembuluh nadi, otot-otot dan syaraf. Sedangkan al-jism adalah yang tersusun dari unsur-unsur materi. Al-jism (tubuh) adalah bagian yang paling tidak sempurna pada manusia. Ia terdiri atas unsur-unsur materi, yang pada suatu saat komposisinya bisa rusak. Karena itu, ia tidak mempunyai daya sama sekali. Ia hanya mempunyai mabda’ thabi’i (prinsip alami) yang memperlihatkan bahwa ia tunduk kepada kekuatan-kekuatan di luar dirinya. Tegasnya, al-jism tanpa al-ruh dan al-nafs adalah benda mati.
Selain itu, Al-Ghazali juga menyebutkan manusia terdiri dari substansi yang mempunyai dimensi dan substansi (tidak berdimensi) yang mempuyai kemampuan merasa dan bergerak dengan kemauan. Yang pertama adalah al-jism dan yang kedua al-nafs. Di sini, ia tidak membicarakan al-ruh dalam arti sejenis uap yang halus atau panas alami, tetapi ia menggambarkan adanya dua tingkatan al-nafs dibawah al-nafs dalam arti esensi manusia, yaitu al-nafs al-nabatiyyat (jiwa vegetatif) dan al-nafs al-hayawaniyyat (jiwa sensitif). Kedua jiwa ini disebut di bawah jiwa manusia, karena dipunyai secara bersama oleh manusia dan makhluk-makhluk lainnya, tumbuh-tumbuhan untuk yang pertama dan hewan serta tumbuh-tumbuhan untuk yang kedua.
Menurut Al-Ghazali, Jiwa (al-nafs al-nathiqah) sebagai esensi manusia mempunyai hubungan erat dengan badan. Hubungan tersebut diibaratkan seperti hubungan antara penunggang kuda dengan kudanya. Hubungan ini merupakan aktifitas, dalam arti bahwa yang memegang inisiatif adalah penunggang kuda bukan kudanya. Kuda merupakan alat untuk mencapai tujuan. Ini berarti bahwa badan merupakan alat bagi jiwa. Jadi, badan tidak mempunyai tujuan pada dirinya, dan tujuan itu akan ada apabila dihubungkan dengan jiwa, yaitu sebagai alat untuk mengaktualisasikan potensi-potensinya.
Disamping itu, berdasarkan proses penciptaannya, manusia merupakan rangkaian utuh antara komponen materi dan immateri. Komponen materi berasal dari tanah (Q.S. As-Sajadah 32:7) dan komponen immateri ditiupkan oleh Allah (Q.S. Al Hijr 15:29). Kesatuan ini memberi makna bahwa di satu sisi manusia sama dengan dunia di luar dirinya (fana), dan disisi lain menandakan bahwa manusia itu mampu mengatasi dunia sekitarnya, termasuk dirinya sebagai jasmani (baqa).
Demikianlah pandangan Al-Ghazali tentang hakikat manusia mengenai hubungan badan dengan jiwa. Dimana, badan hanya sebatas alat sedangkan jiwa yang merupakan memegang inisiatif yang mempunyai kemampuan dan tujuan. Badan tanpa jiwa tidak mempunyai kemampuan apa-apa. Badan tidak mempunyai tujuan, tetapi jiwa yang mempunyai tujuan. Badan menjadi alat untuk mencapai tujuan tersebut. Oleh karena itu, jiwalah nanti yang akan menikmati dan merasakan  bahagia atau sengsaranya di akhirat kelak.
Menurut al-Qur’an manusia adalh ciptaan Tuhan. Jadi manusia itu berasla dari Tuhan.
Al-Qur’an menyatakan bahwa manusia itu terdiri ats jasmani (material). Sebagaimana diisyaratkan dalam al-qur’an
“dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepaddamu (kebahagiaan) negeri akherat, dan janganlah kamumelupakan kebahagiaanmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagimana Allah berbuat baik kepada kamu, dan jangan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al-Qashash: 77)
Akal adalah salah satu aspek penting dalam hakikat manusia. Akal adalah alat untuk berpikir. Abdul Fattah (1988: 57-58) menjelaskan bahwa kata ‘aqala dalam al-qur’an kebanyakan digunakan dalam betuk fi’il (kata kerja), hanya sedikit dalam bentuk ism (kata benda): itu menunjukan bahwa pada akal yang penting ialah berfikir bukan akal sebagai otak yang berupa benda.
Aspek lainnya ialah ruh atau ruhani. Al-Syaibani (1979:130) menyatakan bahwa manusia memiliki tiga potensi yang sama yaitu jasmani, ruhani, dan akal.
                       
B.     FAKTOR HEREDITAS dan LINGKUNGAN
1.      Pengertian Hereditas
Hereditas merupakan kecenderungan alami cabang-cabang untuk meniru sumber mulanya dalam komposisi fisik dan psikologi. Ahli hereditas lainnya menggambarkan sebagai penyalinan cabang-cabang dari sumbernya. Islam sangat memperhatikan faktor al-waritsah (hereditas) ini dalam pembentukan kepribadian seseorang dan mengarahkannya kehal yang positif.seperti Allah melebihksn keturunan Nabi Ibrahim dan keturunan imran diatas bumi ini karena hereditas yang baik cenderung meniru dari generasi ke generasi (QS. Ali Imran [3]: 34).
Dari berbagai ayat al-Qur’an dan hadis tersebut memberi indikasi kuat bahwa faktor hereditas akan diwarisi/ ditiru oleh keturunannya. Ilmu yang membahas tentang hereditas telah menetapkan, bahwa anak akan mewarisi sifat-sifat dari kedua orang tuanya, baik moral (al-khalqiyah), kinestetik (al-jismiyah), maupun intelektual (al-aqliyah), sejak masa kelahirannya. Namun harus diakui pula tidak selamanya faktor hereditas berjalan secara otomatis.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pembawaan ialah potensi-potensi yang dibawa setiap individu ketika ia lahir merupakan warisan dari orang tuanya.
Unsur-unsur pembawaan yang berupa potensi-potensi fisik dan mental psikologis itu dalam proses perkembangannya akan berfungsi sebagai faktor dasar atau faktor bahan yang akan mempengaruhi proses perkembangan. Dalam setiap proses perkembangan itu diperlukan bahan dasar sebab tanpa bahan dasar itu maka pertumbuhan fisik atau perkembangan mental anak tidak akan terjadi. Tentunya makin baik potensi kondisi pembawaan sebagai faktor dasar  maka dapat diharapkan akan baik pula perkembangan yang akan terjadi, dan sebaliknya.
Masing-masing individu lahir ke dunia dengan satu heriditas tertentu. Ini berarti karakteristik individu diperoleh melalui pewarisan atau pemindahan cairan-cairan  “germina” dari  pihak orang tuanya. Disamping itu individu tumbuh dan berkembang tidak lepas dari lingkungannya, baik lingkuntgan  pisis, psikologis, maupun lingkungan sosial. Setiap pertumbuhan dan perkembangan yang kompleks merupakan hasil interaksi dari dari para heriditas dan lingkungan.
2.      Lingkungan
Lingkungan ialah suatu yang melingkupi tubuh yang hidup. Lingkungan manusia merupakan apa yang melingkupinya dari negeri, lautan, sungai, udara dan bangsa. Lingkungan ada dua macam yaitu:
a.       Lingkungan alam
Lingkungan alam telah menjadi perhatian para ahli-ahli  sejak zaman Plato sehingga sekarang ini dengan memberi penjelasan-penjelasan dan sampai akhirnya membawa pengaruh. Ibnu Chaldun telah menulis dalam kitab pendahuluannya. Maka tubuh yang hidup tumbuhnya bahkan hidupnya tergantung pada keadaan  lingkungan yang ia hidup didalamnya.
Kalau lingkungan tidak cocok kepada tubuh, maka tubuh tersebut akan mati. Udara, cahaya, dan apa yang ada di sungai, serta di lautan sangat mempengaruhi dalam kesehatan penduduk dan keadaan mereka yang mengenai akal dan akhlak.
Demikian juga akal, yakni saling mempengaruhi antara akal dengan lingkungan, dan antara apa yang melingkupinya. Akal tidak tetap atau meningkat ke atas kecuali dengan mempergunakan pikirannya dalam keadaan dikanan-kirinya dan mengambil paedah dari lingkungan yang berada disekitarnya.
b.      Lingkungan pergaulan
Lingkungan pergaulan meliputi manusia, seperti rumah, sekolah, pekerjaan, pemerintah, syiar agama, ideal, keyakinan, pikiran – pikiran, adat istiadat, pendapat umum, bahasa, kesusastraan, kesenian, pengetahuan dan akhlak. Pendeknya apa yang dihasilkan oleh kemajuan manusia.
Manusia pada umumya lebih banyak terpengaruh pada “lingkungan alam”. Apabila ia telah mendapat sedikit kemajuan, “lingkungan pergaulan”lah yang menguasainya, sehingga ia dapat mengubah lingkungan atau menyesuaikan diri kepadanya. Contohnya ketika udara panas ia mengunakan pakaian tipis dan putih, agar dapat menolak hawa panas, dan membangun rumahnya menurut aturan tertentu dan dapat menyejukkan.
Walaupun manusia terpengaruh oleh lingkungan alam atau lingkungan pergaulan namun dengan akal ia dapat membatasi dan menentukan lingkungan yang cocok untuknya.
Lingkungan atau alam sekitar memiliki peranan penting dalam pendidikan islam. Karena lingkungan merupakan elemen yang signifikan dalam pembentukan personalitas serta pencapaian keinginan-keinginan individu dalam rangka umum peradaban. Biasanya individu-individu dimasyarakat mengikuti kebiasaan yang ada disekitarnya dengan sadar atau tidak sadar.
Dengan demikian, lingkungan dapat diartikan secara fisiologis, secara psikologis, dan secara sosial-kultural.
Secara fisiologis, lingkungan meliputi segala kondisi dan materiil jasmaniah di dalam tubuh seperti gizi, vitamin, air, zat asam, suhu, sistem saraf, peredaran darah, pernafasan, pencernaan, makanan, kelenjar-kelenjar indoktrin, sel-sel pertumbuhan dan kesehatan jasmani.
Secara psikologis, lingkungan mencakup segenap stimulasi yang diterima oleh individu mulai sejak zaman konsesi, kalahiran sampai matinya. Stimulasi ini misalnya berupa: sifat-sifat”genes”, interaksi “genes”, selera, keinginan, perasaan, tujuan-tujuan, minat, kebutuhan, kemauan, emosi, dan kapasitas intelektual.
Sevara sosio-kultural, lingkungan mencakup segenap stimulasi, interaksi dan kondisi eksternal dalam hubunganya dalam perlakuan ataupun karya orang lain. Pola hidup keluarga,pergaulan, kelompok, pola hidup masyarakat, latihan, belajar, pendidikan pengajaran, bimbingan dan penyuluhan, adalah termasuk sebagai lingkungan ini.
Lingkungan sangat berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak.Lingkungan adalah keluarga yang mengasuh dan membesarkan anak, sekolahtempat mendidik, masyarakat tempat anak bergaul juga bermain sehari-hari dan keadaan alam sekitar dengan iklimnya, flora dan fauna.
Besar kecilnya pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan dan perkembanganya bergantung kepada keadaan lingkungan anak itu sendiri serta jasmani dan rohaninya.
Para ahli pendidikan membagi lingkungan menjadi dua. Pertama, lingkungan alam yakni bumi dengan semua yang ada diatas dan dibawah serta pada berbagai kekuatan dan energinya.ilmu pengetahuan alam yang dimulai dengan informasi sederhana yang diberikan kepada pembelajar sampai kepada biologi, kimia, dan fisika adalah berkaitan dengan lingkungan alam. Kedua, lingkungan sosial yakni masyarakat manusia serta berbagai hubungan antara individu-individu dan kelompok- kelompok. Hubungan pergaulan, ekonomi, politik, profesi, budaya, psikologi, pendidikan termasuk di dalamnya. Selain itu, ilmu-ilmu sosial, seperti sejarah,geografi, pendidikan, ekonomi, dan politik, berkaitan dengan lingkungan sosial.
Nilai-nilai mental dan spiritual memainkan sebuah peran efektif yang berharga dalam lingkungan sosial melalui pendidikan.
Manusia berkembang dalam dua dimensi yaitu potensi-potensi internal manusia dan lingkungan baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial.

1.      Kesadaran Manusia
Kesadaran adalah kesadaran akan perbuatan. Sadar artinya merasa, tau atau ingat (kepada keadaan yang sebenarnya), keadaan ingat akan dirinya, ingat kembali (dari pingsannya), siuman, bangun (dari tidur) ingat, tau dan mengerti, misalnya , rakyat telah sadar akan politik.
Refleksi merupakan bentuk dari penggungkapan kesadaran, dimana ia dapat memberikan atau bertahan dalam situasi dan kondisi tertentu dalam lingkungan. Setiap teori yang dihasilkan oleh seorang merupakan refleksi tetang realitas dan manusia.
Kesadaran menurut Sartre berifat itensional dan tidak dapat dipisahkan di dunia. Kesadaran tidak sama dengan benda-benda. Kesadaran selalu terarah pada etre en sio (ada-begitu-saja) atau berhadapan dengannya. Situasi dimana kesadaran berhadapan oleh Sartre disebut etre pour soi (ada-bagi-dirinya). Bahwa kesadaran saya akan sesuatu juga menyatakan adanya perbedaan antara saya dan sesuatu itu. Saya tidak sama dengan sesuatu yang saya sadari ada jarak antara saya dengan objek yang saya lihat. Misalkan entre pour soi menunjuk pada manusia atau kesadaran. Manusia adalah eter pour soi sebab ia tidak persis menjadi satu dengan dirinya sendiri. Tiadanya identitas manusiadengan dirinya sendiri memungkinkan manusia untuk melampaui, untuk mengatasi dirinya dan menghubungkan benda-benda dengan dirinya sesuai dengan yang dimaksud dan tujuannya. Ketidak identikan manusia dengan dirinya sendiri tampak dalam kesadaran yang ditandai oleh regativitas, penidakan. Negativitas menunjukan bahwa terhadap etre pour soi atau kesadaran hanya dikatan it is not what it is. Maka kesadaran disini merupakan non identitas, jarak, distansi. Kegiatan hakiki kesadaran merupakan menindak, mengatakan tidak. Etre por soi tidak lain dari pada menindak atau menampilkan ketiadaan. Kebebasan bagi Sartre merupakan kesadaran menindak, dan manusi sendiri merupakan kebebasan. Pada manusialah itu eksistensi itu mendahului esensi, sebab manusia selalu berhadapan dengan kemungkinan untuk mengatakan tidak. Selama manusia masih hidup ia bebas untuk mengatakan tidak, baru setelah kematian maka cirri-ciri hidupnya dapat dibeberkan. (Alex Lanur, Pengantar dalam “Kata-Kata”)
Kesadaran sebagai keadaan sadar, bukan merupakan keadaan yang pasif melainkan suatu proses aktif yang terdiri dari dua hal hakiki; diferensiasi dan integrasi. Meskipun secara kronologis perkembangan kesadaran manusia berlangsung pada tiga tahap; sensansi (pengindraan), perrseptual (pemahaman), dan konseptual (pengertian). Secara epistemology dasar dari segala pengetahuan manusia tahap perseptual. Sensasi tidak begitu saja disimpan di dalam ingatan manusia, dan manusia tidak mengalami sensasi murni yang terisolasi. Sejauh yang dapat diketahui pengalaman indrawi seorang bayi merupakan kekacauan yang tidak terdeferensiasikan. Kesadaran yang terdiskreminasi pada tingkatan persep. Persep merupakan sekelompok sensasi yang secara otomatis terimpandan dintgrasikan oleh otak dari suatu organisme yang hidup. Dalam bentuk persep inilah, manusia memahami fakta dan memahami realitas. Persep buka sensasi, merupakan yang tersajikan yang tertentu (the given) yang jelas pada dirinya sendiri (the self evidence). Pengetahuan tentang sensasi sebagai bagian komponen dari persep tidak langsung diperoleh mnusia jauh kemudian, merupakan penemuan ilmiah, penemuan konseptual.






Empat tingkat kesadaran manusia (1)

Ilustrasi
Sejak manusia pertama diciptakan oleh Yang Mahapencipta, dia telah hadir dengan membawa karakternya. Anak cucunya juga lahir dengan membawa karakter mereka dan kemudian berubah dari generasi ke generasi.

Pencerahan muncul sejalan dengan perkembangan pikiran manusia. Dilengkapi oleh kedatangan ajaran agama, manusia mulai menata aturan-aturan duniawinya. Perubahan karakter tersebut terutama disebabkan oleh dua sumber; oleh ajaran agama yang disampaikan beberapa orang terpilih yang menerima wahyu, dan oleh inovasi teknologi dan ilmu pengetahuan yang ditemukan oleh beberapa manusia jenius.

Karakter manusia di muka bumi menurut saya dapat diklasifikasikan dalam empat tingkat kesadaran sebagaimana diuraikan di bawah ini.

Tingkat kesadaran rendah

Dahulu kala di zaman purba, ketika manusia belum mengenal ajaran agama, mereka memakan apa saja yang mereka dapat makan, bukan memakan apa yang boleh. Di zaman itu, manusia tidak mengenal definisi kepemilikan ataupun jual-beli.

Pada taraf ini level kesadaran manusia hampir setara dengan tingkat kesadaran hewan. Jika di zaman ini ada manusia atau sekelompok masyarakat yang berprilaku seperti itu, kita namakan itu prilaku superburuk alias biadab.

Sayangnya, di zaman serba modern ini masih ada manusia yang bersikap “hari ini mau makan siapa”. Seperti koruptor yang memakan hak rakyat, yang mendemonstrasikan perilaku biadab. Pejabat negara yang mengorupsi uang rakyat bermiliar-miliar sama saja dengan membunuh ribuan rakyat secara perlahan-lahan.

Pengusaha yang merampas tanah perkebunan milik orang banyak adalah ilustrasi dari nafsu tak terkendali pada tingkat kesadaran rendah. Penguasa yang menguasai senjata api yang menembaki dan mengancam rakyat kecil adalah refleksi pembunuh berdarah dingin.

Tingkat kesadaran sederhana

Manusia pada taraf ini mulai memperoleh pencerahan terbatas, mereka berzikir mencari cahaya dan petunjuk dari Yang Mahakuasa. Manusia menggali di dalam dirinya dan di alam semesta kaidah-kaidah kehidupan yang hakiki. Mereka berkeluarga melalui upacara pernikahan, menjaga serta membesarkan anak-anak bersama akidah agama atau kepercayaannya.

Mereka menetapkan definisi hak dan kewajiban yang tumbuh-kembang di tengah-tengah masyarakatnya. Mereka takut serta malu menghadapi sanksi jika melanggar norma-norma yang ada dalam budayanya. Manusia pada tingkat kesadaran sederhana menghafal definisi dosa dan pahala, memahami apa yang wajib, sunah dan makruh.

Tetapi, manusia pada klasifikasi ini kurang berminat terhadap perkembangan teknologi serta inovasinya. Ilmu pengetahuan belum dimanfaatkan untuk kemakmuran masyarakatnya. Masyarakatnya cenderung hidup santai tanpa mengenal arti high performance and best performers. Tingkat kesadaran sederhana menyebabkan manusia cepat puas dengan apa yang diraihnya.

Tingkat kesadaran tinggi

Manusia pada tingkatan ini memperdalam ilmu agama dan mengembangkan ilmu pengetahuan serta teknologi. Berbagai inovasi diciptakan. Alam semesta dipelajari dan dijelajahi.

Kebebasan individu dan kesempatan menyatakan pendapat diperluas. Manusia selalu membicarakan efisiensi dan produktivitas. Karena itu, manusia dengan tingkat kesadaran tinggi seharusnya memiliki smart character.

Sayangnya ada banyak manusia yang di permukaan mempertontonkan tingkat kesadaran tinggi, namun secara sembunyi-sembunyi mempraktikkan kebiadaban nafsu serakah dan kebengisan sifat hewani, seperti manusia di tingkat kesadaran rendah.

Di DPR ada banyak anggotanya yang berlagak sebagai manusia dengan tingkat kesadaran tinggi tetapi sayang seribu kali sayang mereka rajin mangkir. Kita sangat membutuhkan lebih banyak orang dengan kesadaran tinggi, yaitu orang yang tak mementingkan diri sendiri, tidak mengumbar egonya, tidak menginjak-injak orang lemah, tidak besar mulut yang isinya hanya slogan doang. Pada klasifikasi ini, mereka harus menjadi teladan dalam membuktikan “katakan tidak terhadap korupsi”.

Tingkat kesadaran kosmis

Ini level kesadaran tertinggi yang dimiliki segelintir manusia yang mampu hidup selaras serta menyatu dengan alam semesta. Mereka menjiwai makna kehidupan di dunia yang hanya singkat dan sementara karena itu mereka tidak tergoda baik oleh kemewahan materi maupun kenikmatan sekejap.

Mereka tak butuh gembar-gembor di depan sorotan kamera. Kebahagiaannya ada dalam dirinya yang bersahaja walaupun mereka di tengah hiruk-pikuk sandiwara orang-orang yang narsis dan tamak.

Ke mana pun mereka menoleh, apa pun yang mereka sentuh, di situ mereka melihat dan merasakan kehadiran Tuhan Yang Mahaagung. Mereka berlomba untuk menjadi manusia terbaik, yaitu manusia yang paling berguna bagi orang banyak. Mereka disiplin berzakat dan rajin bersedekah. Perilaku yang terpuji memang pantas ditiru.

2. PENGERTIAN PARADIGMA PENDIDIKAN ISLAM
A.   Pengertian Paradigma Pendidikan Islam
Paradigma adalah kumpulan tata nilai yang membentuk pola pikir seseorang sebagai titik tolak pandangannya sehingga akan membentuk citra subyektif seseorang—mengenai realita—dan akhirnya akan menentukan bagaimana seseorang menanggapi realita itu. Paradigma merupakan istilah yang dipopulerkan Thomas Khun dalam karyanya The Structure of Scientific Revolution (Chicago: The Univesity of Chicago Prerss, 1970). Paradigma di sini diartikan Khun sebagai kerangka referensi atau pandangan dunia yang menjadi dasar keyakinan atau pijakan suatu teori. Pemikir lain seperti Patton (1975) mendefinisikan pengertian paradigma hampir sama dengan Khun, yaitu sebagai “a world view, a general perspective, a way of breaking down of the complexity of the real world [suatu pandangan dunia, suatu cara pandang umum, atau suatu cara untuk menguraikan kompleksitas dunia nyata].” Kemudian Robert Friedrichs (1970) mempertegas definisi tersebut sebagai suatu pandangan yang mendasar dari suatu disiplin ilmu tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari. Pengertian lain dikemukakan oleh George Ritzer (1980), dengan menyatakan paradigma sebagai pandangan yang mendasar dari para ilmuan tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari oleh salah satu cabang/disiplin ilmu pengetahuan. Akhirnya, saya berharap semoga blog ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua khususnya bagi saya pribadi.
Masalah pendidikan merupakan masalah yang sangat penting dan tidak bisa dipisahkan dari seluruh rangkaian kehidupan manusia. Kebanyakan manusia memandang pendidikan sebagai sebuah kegiatan mulia yang akan mengarahkan manusia pada nilai-nilai yang memanusiakan. Pandangan bahwa pendidikan sebagai kegiatan yang sangat sakral dan mulia telah lama diyakini oleh manusia. Namun di dekade 70-an dua orang tokoh pendidikan, yaitu Paulo Freire dan Ivan Illich melontarkan kritik yang sangat mendasar tentang asumsi tersebut. Mereka menyadarkan banyak orang bahwa pendidikan yang selama ini disakralkan dan diyakini mengandung nilai-nilai kebajikan tersebut ternyata mengandung penindasan.
Pendidikan merupakan suatu perbuatan, tindakan, dan praktek. Namun, demikian pendidikan tidak dapat diartikan sebgai satu hal yang mudah, sederhana, dan tidak memerlukan pemikiran. Karena istilah pendidikan sebagai praktek, mengandung implikasi pemahaman akan arah dan tujuannya.2 Karenanya proses pendidikan itu bukan hanya sekedar lahiriah dan suatu prilaku kosong saja. Pendidikan tidak diarahkan untuk pendidikan itu sendiri, melainkan diarahkan untuk pencapaian maksud, arah, dan tujuan di masa yang akan datang. Dengan demikian, dimensi waktu dalam pendidikan tidak hanya terbatas pada waktu sekarang, yaitu saat berlangsung pendidikan tersebut. Tetapi, pendidikan diarahkan pada sikap, prilaku, dan kemampuan serta pengetahuan yang diharapkan akan menjadi pegangan bagi anak didik dalam melaksanakan tugas hidupnya secara bertanggung jawab dan dapat menjadi manusia yang seutuhnya, sebagaimana yang menjadi tujuan utama dalam pendidikan.
Menurut Muhammad Iqbal, pendidikan bukan hanya proses belajar mengajar belaka untuk mentransformasikan pengetahuan dan berlangsung secara sederhana dan mekanistik. Melainkan, pendidikan adalah keseluruhan yang mempengaruhi kehidupan perseorangan maupun kelompok masyarakat, yang seharusnya menjamin kelangsungan kehidupan budaya dan kehidupan bersama memantapkan pembinaan secara intelegen dan kreatif. Proses pendidikan ini mencakup pembinaan diri secara integral untuk mengantarkan manusia pada kesempurnaan kemanusiannya tanpa mesti terbatasi oleh sistem transformasi pengetahuan secara formal dalam lingkungan akademis. Pada akhirnya, pendidikan dalam arti luas mencakup penyelesaian masalah-masalah manusia secara umum dan mengantarkan manusia tersebut pada tujuan hidupnya yang mulia.
Menurut Freire, pendidikan bukan hanya kegiatan pengembangan kognitif anak didik, melainkan pendidikan memiliki kaitan yang erat dengan cinta dan keberanian. Sesungguhnya menurut Freire, pendidikan ialah tindakan cinta kasih dan karena itu juga merupakan tindakan berani. Pendidikan tidak boleh membuat orang yang akan menganalisis realitas menjadi takut.
Kualitas yang dihasilkan dari output pendidikan sangat ditentukan oleh proses yang terjadi dalam interaksi pendidikan. Keseluruhan proses dan metode dalam pendidikan didasarkan pada tujuan yang ingin dicapai dari pendidikan tersebut. Sedangkan tujuan pendidikan ditentukan berdasarkan pilihan paradigma yang dijadikan dasar dalam pendidikan. Dari asumsi tersebut terlihat betapa paradigma dalam pendidikan menjadi sesuatu hal yang fundamental dan menentukan hasil dari pendidikan. Baik dan buruknya output dari pendidikan sangat ditentukan oleh paradigma pendidikan yang dianut.

B.    Macam-macam Paradigma
Henry Giroux dan Arronnawitz membagi paradigma pendidikan ke dalam tiga aliran utama, yaitu :
1.    Paradigma konservatif
Yaitu paradigma pendidikan yang lebih berorientasi pada pelestarian dan penerusan pola-pola kemapanan sosial serta tradisi. Paradigma pendidikan konservatif sangat mengidealkan masa silam (past oriented) sebagai patron ideal dalam pendidikan. Paradigma konservatif melahirkan jenis kesadaran sebagaimana yang disebutkan oleh Paulo Freire, sebagai kesadaran magis. Yaitu jenis kesadaran yang tak mampu mengkaitkan antara satu faktor dengan faktor lainnya sebagai hal yang berkaitan. Kesadaran magis lebih melihat faktor diluar kesadaran manusia sebagai penyebab dari segala kejadian.
2.    Paradigma pendidikan liberal
 yaitu paradigma pendidikan yang berorientasi mengarahkan peserta didik pada prilaku-prilaku personal yang efektif, dengan mengejar prestasi individual. Sehingga yang terjadi adalah persaingan individual yang akan mengarahkan peserta didik pada individualisme dan tidak melihat pendidikan sebagai proses pengembangan diri secara kolektif. Paradigma pendidikan liberal melahirkan bentuk kesadaran naif. Yaitu jenis kesadaran ini menganggap aspek manusia secara individulah yang menjadi penyebab dari akar permasalahan.
3.    Paradigma pendidikan kritis
 Yaitu paradigma pendidikan yang menganut bahwa pendidikan adalah diorientasikan pada refleksi kritis terhadap sistem dan struktur sosial yang menyebabkan terjadinya berbagai ketimpangan. Paradigma pendidikan kritis mengarahkan peserta didik pada kesadaran kritis, yaitu jenis kesadaran yang melihat realitas sebagai satu kesatuan yang kompleks dan saling terkait satu sama lain.
Paradigma pendidikan sangat berimplikasi terhadap pendekatan dan metodologi pendidikan dan pengajaran. Salah satu bentuk implikasi tersebut adalah perbedaan bentuk dalam pola belajar mengajar antara pola paedagogy dengan pola andragogy.
Bagi Freire, selaku tokoh penggagas pendidikan kritis. Pendidikan haruslah berorientasi kepada pengenalan realitas diri manusia dan dirinya sendiri. Pengenalan akan realitas bagi Freire tidak hanya bersifat objektif atau subjektif, tapi harus kedua-duanya secara sinergis. Objektivitas dan subjektivitas dalam pengertian ini menjadi dua hal yang tidak saling bertentangan, bukan suatu dikotomi dalam pengertian psikologis, kesadaran subjektif dan kemampuan objektif adalah dua fungsi dialektis yang konstan/tetap dalam diri manusia. Oleh karena itulah menurut Freire, pendidikan harus tampil metode yang mengarahkan manusia pada perwujudan kesadaran subjektif yang kritis dan pemahaman akan realitas yang objektif dan akan mengantarkan manusia pada suatu kesadaran kritis yang konstruktif dalam membangun dunianya ke arah yang lebih konstruktif.
Untuk memahami pendidikan Islam tidak bisa dilakukan hanya dengan melihat sepotong apa yang ditemukan dalam realitas penyelenggaraan pendidikan Islam, tapi mesti melihatnya dari sistem nilai yang menjadi landasan paradigmanya. Hasan Langgulung menyatakan sangat keliru jika mengkaji pendidikan Islam hanya dari lembaga-lembaga pendidikan yang muncul dalam sejarah Islam, dari kurikulum, apalagi hanya dari metode mengajar, dan melepaskan
masalah idiologi Islam. Idiologi atau paradigma pendidikan Islam merupakan gambaran utuh tentang ketuhanan, alam semesta, dan tentang manusia yang dikaitkan dengan semua teori pendidikan Islam sehingga semuanya merupakan satu kesatuan yang utuh dan menyeluruh. Sehingga diperlukan suatu paya untuk menegaskan kembali paradigma yang diperlukan untuk mengembangkan pendidikan Islam.


 


 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar