(fpi kel.1)Pengertian
Filsafat Pendidikan Islam
Sebelum mengemukakan pengertian Filsafat Pendidikan
Islam perlu diutarakan secara sepintas mengenai pengertian filsafat. Hingga
kini tidak ada kesepakatan para ahli dalam merumuskan pengertian filsafat,
disebabkan karena berbedanya sudut pandang yang digunakan dari masing-masing.
Namun demikian dapat dikemukakan bahwa kata Filsafat
yang berasal dari bahasa Yunani philosophia: Philos berarti
cinta, dan Shophia berarti pengetahuan, hikmah, atau kebenaran. Dengan
demikian dari segi etimologi, kata filsafat berarti “cinta terhadap pengetahuan
atau kebijaksanaan”.
Dari pengertian menurut bahasa tersebut dapat
ditegaskan bahwa orang yang suka berfilsafat cenderung cinta terhadap ilmu dan
kebijaksanaan, atau selalu ingin mengetahui hakikat tentang sesuatu, karena
filsafat pada intinya adalah upaya mencurahkan seluruh pemikiran dalam rangka
mencari sebuah kebenaran atau hakikat tentang sesuatu yang ada.
Sebagaimana halnya dengan pengertian secara etimologi,
maka secara terminologi atau istilah, rumusan pengertian filsafat juga berbeda di
kalangan para ahli. Dari sekian banyak pengertian yang ada, salah satu rumusan
pengertian yang dapat dijadikan rujukan adalah sebagaimana yang dikemukakan
oleh Sidi Gazalba yang mengartikan Filsafat sebagai; “befikir secara
mendalam, sistematis, radikal, dan universal dalam rangka mencari kebenaran,
inti, atau hakikat, mengenai segala sesuatu yang ada”.
Dari rumusan
pengertian filsafat tersebut maka dapatlah ditegaskan bahwa pengertian Filsafat
Pendidikan Islam adalah:
Berfikir
secara mendalam, sistematis, radikal, dan universal mengenai segala hal yang
berkaitan dengan kependidikan, dengan berlandaskan ajaran Islam tentang hakikat
kemampuan dan potensi manusia agar dapat dibina dan dikembangkan serta
dibimbing agar menjadi manusia yang seluruh kepribadiannya dijiwai oleh ajaran
Islam.
Dalam bahasa yang disederhanakan dapat dikatakan bahwa
Filsafat Pendidikan Islam adalah berfikir secara mendalam untuk menemukan
solusi terhadap berbagai hal yang berkaitan dengan seluruh aspek pendidikan
Islam, agar dapat mencapai tujuan yang diinginkan dan sesuai dengan ajaran
Islam.
Dari pengertian Filsafat Pendididkan Islam seperti
tersebut di atas, jelaslah bahwa, arah dari mata kuliah ini, berupaya untuk
membekali mahasiswa sebagai calon pendidik dan aktivis kependidikan, agar dapat
mengembangkan kreativitas berfikirnya dalam rangka mencari solusi dari berbagai
permasalahan dalam kependidikan Islam, baik yang menyangkut dengan manusia
sebagai makhluk paedagogik, alam raya, maupun hal-hal yang berkaitan dengan
berbagai pemikiran yang melatar belakangi pelaksanaan suatu aktivitas
pendidikan Islam, seperti metode, tujuan, kurikulum, dan lain sebagainya.
II.II Ruang
Lingkup Filsafat Pendidikan Islam
Jika diamati secara seksama, dari uraian mengenai
pengertian Filsafat Pendidikan Islam, secara sepintas tergambar pula mengenai
ruang lingkup Filsafat Pendidikan Islam. Namun demikian, nampaknya secara
khusus masalah tersebut masih perlu dipertegas lagi. Penjelasan mengenai ruang
lingkup ini mengandung indikasi bahwa Filsafat Pendidikan Islam sebagai sebuah
disiplin ilmu harus menunjukkan dengan jelas mengenai bidang kajian atau
cakupan pembahasannya.
Dari beberapa tulisan yang membahas mengenai ruang
lingkup Filsafat Pendidikan Islam, cukup memberikan gambaran yang jelas bahwa
ruang lingkup Filsafat Pendidikan Islam adalah masalah-masalah yang terdapat
dalam kegiatan pendidikan, seperti masalah tujuan pendidikan, masalah guru,
kurikulum, metode, dan lingkungan pendidikan. Bagaimana agar semua masalah
tersebut dapat disusun dan dicarikan solusinya, tentu saja harus ada pemikiran
yang melatar belakanginya. Pemikiran yang melatar belakinya itulah yang
kemudian menjadi wilayah dari disiplin Filsafat Pendidikan Islam.
Oleh karena itu, dalam mengkaji Filsafat Pendidikan
Islam seseorang dituntut harus pula memahami konsep tujuan pendidikan Islam,
guru, murid, metode, kurikulum, dan lain sebagainya. Dengan demikian dalam
Filsafat Pendidikan Islam terdapat pemaduan dua disiplin ilmu yakni filsafat
dan pendidikan secara umum. Di samping itu, seseorang harus pula menguasai
paling tidak pokok-pokok ajaran Islam yang terkandung dalam Al-Quran dan Hadis,
karena sumber dari Filsafat Pendidikan Islam dikaji secara mendalam dari ajaran
Islam itu sendiri yang terkandung dalam Al-Quran dan Hadis.
Dalam uraian ini perlu juga dipertegas bahwa meskipun
Filsafat Pendidikan Islam berupaya menjawab semua permasalahan menyangkut semua
hal yang berkaitan dengan pendidikan Islam, namun ruang lingkupnya bukanlah
hal-hal yang bersifat teknis operasional dalam pendidikan, melainkan segala hal
yang mendasari serta mewarnai corak sistem dan pelaksanaan pendidikan Islam.
II.III Sumber-sumber
Filsafat Pendidikan Islam
Filsafat Pendidikan Islam sebagai sebuah disiplin
ilmu, secara epistemologis seyogyanya mempertanyakan dari mana Filsafat
Pendidikan Islam dapat diambil.? Atau dengan kata lain, sumber-sumber apa saja
yang dapat menjadi pegangan keilmuan bagi Filsafat Pendidikan Islam.?
Berkaitan dengan hal tersebut di atas, Abuddin Nata
menegaskan bahwa Filsafat Pendidikan Islam bukanlah Filsafat Pendidikan yang
bercorak liberal, bebas, dan tanpa batas etika, sebagaimana halnya dengan
Filsafat Pendidikan pada umumnya. Filsafat Pendidikan Islam adalah Filsafat Pendidikan yang berdasarkan ajaran
Islam atau Filsafat Pendidikan yang dijiwai oleh ajarn Islam.
Filsafat
Pendidikan Islam bersumber dari ajaran Islam, yaitu Al-Quran dan Hadis yang
senantiasa dijadikan sebagai landasan bagi Filsafat Pendidikan Islam. Dengan
demikian, sumber Filsafat Pendidikan Islam adalah digali dari ajaran Islam
secara keseluruhan. Selain itu, Filsafat Pendidikan Islam juga mengambil
sumber-sumber dari ajaran lain yang dinilai tidak bertentangan dengan
pokok-pokok ajaran Islam. Dalam kontek ini, menurut Abdul Rahman Shalih
Abdullah menyebutkan bahwa para ahli ilmu Filsafat Pendidikan Islam dapat
digolongkan kepada dua corak aliran, yakni;
(1) mereka yang mengadopsi konsep-konsep non-Islam dan
kemudian memadukannya ke dalam
pemikiran pendidikan Islam;
(2) mereka yang tergolong ke dalam kelompok yang
tradisional yang hanya mengambil sumber Filsafat Pendidikan Islam dari Al-Quran
dan Hadis.
Berdasarkan dua
kelompok pembagian tersebut di atas, dapat dikatakan bahwa kelompok pertama
merupakan aliran yang bercorak liberal, dan kelompok kedua merupakan
kelompok yang beraliran konservatif. Dalam hal ini, menurut pendapat kami,
bahwa meskipun Filsafat Pendidikan Islam berlandaskan kepada ajaran Islam
(Al-Quran dan Hadis), namun Filsafat Pendidikan Islam juga perlu mengadopsi
sumber-sumber lain yang bekaitan dengan perkembangan ilmu pengetahuan
kontemporer. Namun perlu ditegaskan bahwa dalam pengadopsian tersebut harus
dilakukan dengan seselektif mungkin, agar dapat terhindar dari hal-hal yang
bertentangan dengan pokok-pkok ajaran Islam. Argumen ini berangkat dari sebuah
hadis yang sangat populer: ?????????? ????????? ?????? ?????????? (Tuntutlah
ilmu, walaupun di negeri Cina).
II.IV Urgensi
dan Fungsi Filsafat Pendidikan Islam
Permasalahan yang perlu dijawab pada bagian ini
adalah; untuk apa mempelajari Filsafat Pendidikan Islam.? Pertanyaan ini harus
terlebih dahulu diajukan karena setiap disiplin ilmu pasti memiliki kegunaan,
demikian pula halnya dengan Filsafat Pendidikan Islam.
Para ahli dalam bidang Filsafat Pendidikan Islam telah
banyak melakukan penelitian secara teoritis mengenai kegunaan dari Filsafat
Pendidikan Islam. Omar Muhammad al-Toumy al-Syaibany misalnya mengemukakan
beberapa manfaat yang dapat diperoleh dalam mempelajari Filsafat Pendidikan
Islam, salah satu yang terpenting di antaranya adalah;
Filsafat
Pendidikan dapat membantu para perancang dan pelaksana pendidikan dalam suatu
negara atau wilayah, dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan dalam rangka
untuk menentukan arah dan tujuan ke mana pendidikan beserta hasilnya akan
diarahkan, sesuai dengan cita-cita negara atau wilayah yang bersangkutan.
Senada dengan itu, George R. Knight sebagaimana
dikutip oleh Toto Suharto, secara umum menyebutkan 4 (empat) urgensi dari
mempelajari Filsafat Pendidikan Islam, yaitu:
a. Dapat membantu
para pendidik dan aktivis kependidikan untuk memahami berbagai persoalan
mendasar tentang pendidikan.
b.
Memungkinkan bagi para pendidik untuk dapat mengevaluasi secara lebih baik, dan
memilih berbagai tawaran yang merupakan solusi bagi persoalan-persoalan
kependidikan.
c. Untuk
membekali para pendidik dan aktivis kependidikan berfikir klarifikatif tentang
tujuan-tujuan hidup dalam kaitannya dengan pendidikan.
d. Untuk
memberi bimbingan dalam mengembangkan suatu sudut pandang yang konsisten, dan mengembangkan
berbagai program pendidikan yang berhubungan secara realistis dengan konteks
negara secara khusus, dan dunia global secara umum.
Dari beberapa manfaat mempelajari Filsafat Pendidikan,
dapat disimpulkan bahwa pada intinya, Filsafat Pendidikan Islam merupakan
pegangan dan pedoman yang dapat dijadikan landasan filosofis bagi pelaksanaan
pendidikan Islam dalam rangka upaya untuk menghasilkan generasi baru yang
terdidik dan berkepribadian Muslim, di mana seluruh perilaku hidupnya
senantiasa dijiwai oleh ajaran Islam.
A.Hakikat Alam
1. Alam Semesta dalam perspektif Falsafah Pendidikan
Islam
Alam dalam pandangan Filsafat Pendidikan Islam dapat
dijelaskan sebagai berikut. Kata alam berasal dari bahasa Arab ’alam (عالم )
yang seakar dengan ’ilmu (علم, pengetahuan) dan alamat (مة علا, pertanda).
Ketiga istilah tersebut mempunyai korelasi makna. Alam sebagai ciptaan Tuhan
merupakan identitas yang penuh hikmah. Dengan memahami alam, seseorang akan
memperoleh pengetahuan. Dengan pengetahuan itu, orang akan mengetahui
tanda-tanda atau alamat akan adanya Tuhan. Dalam bahasa Yunani, alam disebut
dengan istilah cosmos yang berarti serasi, harmonis. Karena alam itu diciptakan
dalam keadaan teratur dan tidak kacau. Alam atau cosmos disebut sebagai salah
satu bukti keberadaaan Tuhan, yang tertuang dalam keterangan Al-qur`an sebagai
sumber pokok dan menjadi sumber pelajaran dan ajaran bagi manusia.Istilah alam
dalam alqur’an datang dalam bentuk jamak (‘alamiina), disebut sebanyak 73 kali
yang termaktub dalam 30 surat. 15 Pemahaman kata ‘alamin, merupakan bentuk
jamak dari keterangan al-quran yang mengandung berbagai interpretasi pemikiran
bagi manusia.
Menurut Al-Rasyidin, dalam bukunya Falsafah
pendidikan Islam bahwa kata `alamin merupakan bentuk prulal yang
mengindikasikan bahwa alam semesta ini banyak dan beraneka ragam. Pemaknaan
tersebut konsisten dengan konsepsi Islam bahwa hanya Allah Swt yang Ahad, Maha
Tunggal dan tidak bisa dibagi-bagi. Kemudian beliau menuturkan kembali bahwa
konsep islam megenai alam semesta merupakan penegasan bahwa alam semesta adalah
sesuatu selain Allah Swt.Dari satu sisi alam semesta dapat didefenisikan
sebagai kumpulan jauhar yang tersusun dari maddah (materi) dan shurah (bentuk),
yang dapat diklasifikasikan ke dalam wujud konkrit (syahadah) dan wujud Abstrak
(ghaib). Kemudian, dari sisi lain, alam semesta bisa juga dibagi ke dalam
beberapa jenis seperti benda-benda padat (jamadat), tumbuh-tumbuhan (nabatat),
hewan (hayyawanat), dan manusia.Menurut Prof. Dr. Omar Mohammad Al-Toumy
al-Syaibany dalam bukunya Falsafah Pendidikan Islam menyatakan bahwa alam
semesta atau alam jagat ialah selain dari Allah swt yaitu cakrawala, langit,
bumi, bintang, gunung dan dataran, sungai dan lembah, tumbuh-tumbuhan,
binatang, insan, benda dan sifat benda, serta makhluk benda dan yang bukan
benda. Beliau juga menuturkan bahwa sebahagian ulama Islam mutaakhir membagi
alam ini kepada empat bahagian yaitu ruh, benda, tempat dan waktu. Sedangkan
manusia menjadi salah satu unsur alam semesta sebagai makhluk baharu dengan
fungsi untuk memakmurkan alam semesta serta meneruskan kemajuaannya.
Di dalam Al Qur'an pengertian alam semesta dalam
arti jagat raya dapat dipahami dengan istilah "assamaawaat wa al-ardh wa
maa baynahumaa.Istilah ini ditemui didalam beberapa surat Al Qur'an yaitu:
Dalam surat maryam ayat 64 dan 65 Dan
tidaklah kami (Jibril) turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu. kepunyaan-Nya-lah
apa-apa yang ada di hadapan kita, apa-apa yang ada di belakang kita dan apa-apa
yang ada di antara keduanya, dan tidaklah Tuhanmu lupa (64). Tuhan (yang
menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, Maka
sembahlah dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. apakah kamu
mengetahui ada seorang yang sama dengan dia (yang patut disembah)?Dalam surat
ar-rum ayat 22
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah
menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu.
Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi
orang-orang yang Mengetahui.
Untuk dapat Memahami dan meneliti alam yang kemudian
menghasilkan science yang benar, haruslah melalui pendidikan yang benar dan
berkualitas. Oleh karena itu, Islam mempunyai ajaran yang sangat penting dalam
pendidikan, dalam rangka menghasilkan para scientist, ilmuwan atau ulama, yang
kemudian akan memelihara dan memakmurkan alam ini.
2. Proses penciptaan alam semesta
Al Qur’an telah menjelaskan bahwa sebenarnya seluruh
kejadian di alam semesta ini, sudah terjadi dan kejadiannya mengikuti segala
rencana dan konsep yang sudah tertera di dalamnya. menurut al-Qur`an adalah
secara bertahap. Hal ini dapat diketahui melalui firman Allah Swt dalam Surat
Al Anbiya ayat 30:
"Dan apakah orang-orang yang kafir tidak
mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah sesuatu yang
padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan daripada air Kami jadikan
segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga yang
beriman?"
Al-Rasyidin mengungkapkan bahwa Allah Swt
menciptakan alam semesta ini tidak sekaligus atau sekali jadi, akan tetapi
melalui beberapa tahapan, masa atau proses. Dalam sejumlah surah, al-Qur`an
selalu menggunakan istilah fi sittah ayyam, yang dapat diterjemahkan dalam arti
enam hari, enam masa atau enam periode. Adapun ayat yang menceritakan tentang
penciptaan alam dalam enam masa terdapat pada surat yunus ayat 3 dan surat
Al-Araf ayat 54 adalah: Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan
langit dan bumi dalam enam masa, Kemudian dia bersemayam di atas 'Arsy untuk
mengatur segala urusan. tiada seorangpun yang akan memberi syafa'at kecuali
sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian Itulah Allah , Tuhan kamu, Maka
sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang Telah
menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu dia bersemayam di atas 'Arsy.
dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan
(diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing)
tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak
Allah . Maha Suci Allah , Tuhan semesta alam.Proses penciptaan alam semesta
diungkapkan dengan menggunakan istilah yang beragam seperti Khalaqa, sawwa,
Fatara, Sakhara, Ja`ala, dan Bada`a. semua sebutan untuk penciptaan ini
mengandung makna mengadakan, membuat, mencipta, atau menjadikan, dengan tidak
meniscayakan waktu dan tempat penciptaan. Dengan kata lain, bahwa penciptaan
alam semesta tidak mesti harus di dahului oleh ruang dan waktu.
Dalam diskursus keagamaan dan kefilsafatan, hakikat
penciptaan telah terjadi perdebatan panjang yang bermuara pada adanya perbedaan
interpretasi etimologis terhadap terma-terma yang digunakan oleh AlQur`an. Para
teolog muslim berpendapat bahwa ala mini diciptakan dari ketiadaaan (al-khalq
min `adam) atau creation ex nihillo. Bagi mereka, karena Allah maha kuasa, maka
dalammenciptakan sesuatu dari ketiadaaan bukanlah suatu kemustahilan. Di pihak
lain, dengan berdasarkan logika dan ilmu serta dengan pengamatan terhadap
fenomena alam secara alamiah, para filosof berpendapat bahwa penciptaan terjadi
atas dasar pengubahan bahan dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain.Terlepas
dari perdebatan panjang mengenai penciptaan alam semesta ini, maka Al-Qur`an
telah menerangkan bahwa alam diciptakan oleh Allah Swt melalui tahapan dan
proses, dan tidak terjadi sekaligus. Dalam hal dapat disimpulkan bahwa:
a. Alam semesta diciptakan oleh Allah secara
bertahap dan berproses
b. Asal mula penciptaan alam semesta berasal dari asap
c. Penciptaan alam semesta terbentuk melalui enam
masa atau enam hari atau enam periode
3. Tujuan dan Fungsi Penciptaan Alam Semesta
Dalam perspektif Islam, tujuan penciptaan alam
semesta pada dasarnya adalah sarana untuk menghantarkan manusia pada pengetahuan
dan pembuktian tentang keberadaan dan kemahakuasaan Allah Swt. Keberadaaan alam
semesta merupakan petunjuk yang jelas tentang keberadaaan Allah Swt. Oleh
karena itu dalam mempelajari alam semesta, manusia akan sampai pada pengetahuan
bahwa Allah Swt adalah Zat yang menciptakan alam semesta.
Alam semesta ini diciptakan bertujuan untuk menunjuk
manusia sebagai Khalifah yang mengemban amanah dari Allah Swt, dalam mengemban
amanah tersebut apakah manusia mampu menjalankannya dengan menghadapi berbagai
ujian dan cobaan atau sebalikya, manusia justru mengkhianati amanah yang
diberikan kepadanya dengan berbuat kerusakan dimuka bumi ini. Ini tercantum
dalam surat Al-baqarah ayat 30
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para
malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka
bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah)
di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah,
padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan
Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak
kamu ketahui."
Di dalam perspektif Islam, alam semesta merupakan
sesuatu selain Allah Swt. Oleh sebab itu, alam semesta bukan hanya langit dan
bumi, namun meliputi seluruh yang ada dan berada di antara keduanya. Bukan
hanya itu, di dalam perspektif Islam alam semesta tidak saja mencakup hal-hal
yang konkrit yang dapat diamati melalui panca indera manusia, tetapi alam
semesta juga merupakan segala sesuatu yang keberadaaannya tidak dapat diamati
oleh panca indera manusia. alam semesta merupakan ciptaaan Allah Swt yang
diperuntukkan kepada manusia yang kemudian diamanahkan sebagai khalifah untuk
menjaga dan memeliharanya.alam semesta ini, selain itu alam semesta juga
merupakan mediasi bagi manusia untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang terproses
melalui pendidikan.
2. Proses penciptaan alam semesta
Al Qur’an telah menjelaskan bahwa sebenarnya seluruh
kejadian di alam semesta ini, sudah terjadi dan kejadiannya mengikuti segala
rencana dan konsep yang sudah tertera di dalamnya. Gambaran jelasnya, bahwa
semua proses alam semesta ini mengikuti dan merujuk pada segala yang tertuang
dalam Al Qur’an, apakah diketahui atau tidak tabir rahasianya oleh manusia.
Mengenai proses penciptaan alam semesta, Al-Qur'an
telah menyebutkan secara gamblang mengenai hal tersebut, dan dapat dipahami
bahwa proses penciptaan alam semesta menurut al-Qur`an adalah secara bertahap.
Hal ini dapat diketahui melalui firman Allah Swt dalam Surat Al Anbiya ayat 30:
"Dan apakah orang-orang yang kafir tidak
mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah sesuatu yang
padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan daripada air Kami jadikan
segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga yang
beriman?"Apabila dikaitkan dengan sejumlah teori seputar terjadinya kosmos
menurut sains modern, maka konsep penciptaan semesta yang tertera dalam
Al-Qur'an tidak dapat disangkal lagi kebenarannya.Adanya kumpulan kabut gas dan
terjadinya pemisahan-pemisahan kabut gas tersebut atau dikenal dengan proses
evolusi terbentuknya alam semesta, sudah dipaparkan secara jelas oleh Al-Qur'an
jauh sebelum sains modern mengemukakannya. Berkenaan Ayat tentang asal mula
alam semesta dari kabut/nebula terdapat dalam surat fushilat ayat 9 sampai 12
yaitu:
Katakanlah: "Sesungguhnya patutkah kamu kafir
kepada yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu
bagiNya? (yang bersifat) demikian itu adalah Rabb semesta alam". Dan dia
menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. dia memberkahinya
dan dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat
masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian
dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu
dia Berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut
perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". keduanya menjawab: "Kami
datang dengan suka hati". Maka dia menjadikannya tujuh langit dalam dua
masa. dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. dan kami hiasi langit
yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan kami memeliharanya dengan
sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
Al-Rasyidin mengungkapkan bahwa Allah Swt
menciptakan alam semesta ini tidak sekaligus atau sekali jadi, akan tetapi
melalui beberapa tahapan, masa atau proses. Dalam sejumlah surah, al-Qur`an
selalu menggunakan istilah fi sittah ayyam, yang dapat diterjemahkan dalam arti
enam hari, enam masa atau enam periode. Adapun ayat yang menceritakan tentang
penciptaan alam dalam enam masa terdapat pada surat yunus ayat 3 dan surat
Al-Araf ayat 54 adalah:
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan
langit dan bumi dalam enam masa, Kemudian dia bersemayam di atas 'Arsy untuk
mengatur segala urusan. tiada seorangpun yang akan memberi syafa'at kecuali
sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian Itulah Allah , Tuhan kamu, Maka sembahlah
Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran? Sesungguhnya Tuhan kamu ialah
Allah yang Telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu dia
bersemayam di atas 'Arsy. dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya
dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang
(masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan
memerintah hanyalah hak Allah . Maha Suci Allah , Tuhan semesta alam.
Proses penciptaan alam semesta diungkapkan dengan
menggunakan istilah yang beragam seperti Khalaqa, sawwa, Fatara, Sakhara,
Ja`ala, dan Bada`a. semua sebutan untuk penciptaan ini mengandung makna
mengadakan, membuat, mencipta, atau menjadikan, dengan tidak meniscayakan waktu
dan tempat penciptaan. Dengan kata lain, bahwa penciptaan alam semesta tidak
mesti harus di dahului oleh ruang dan waktu. Al-Qur`an telah menerangkan bahwa
alam diciptakan oleh Allah Swt melalui tahapan dan proses, dan tidak terjadi
sekaligus. Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa:
a. Alam semesta diciptakan oleh Allah secara
bertahap dan berproses
b. Asal mula penciptaan alam semesta berasal dari
asap
c. Penciptaan alam semesta terbentuk melalui enam
masa atau enam hari atau enam periode
3. Tujuan dan Fungsi Penciptaan Alam Semesta
Penciptaan alam semesta bertujuan untuk
memperlihatkan kepada manusia bahwa Allah swt adalah Maha Pencipta seluruh alam
dengan segala kemuliaanNya dan segala kekuasaanNya. Sebagaimana firman Allah
swt dalam surat al-Dukhan ayat 38-39
Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa
yang ada antara keduanya dengan bermain-main. Kami tidak menciptakan keduanya
melainkan dengan haq, tetapi kebanyakan mereka tidak Mengetahui.Al-qur`an
secara tegas menyatakan bahwa tujuan penciptaan alam semesta ini adalah untuk
memperlihatkan kepada manusia akan tanda-tanda (ayah) atas keberadaan dan
kekuasaan Allah Sw. Sebagaimana firmanNya dalam surat Fushshilat ayat 53
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda
(kekuasaan) kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga
jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Alam semesta ini diciptakan
bertujuan untuk menunjuk manusia sebagai Khalifah yang mengemban amanah dari
Allah Swt, dalam mengemban amanah tersebut apakah manusia mampu menjalankannya
dengan menghadapi berbagai ujian dan cobaan atau sebalikya, manusia justru
mengkhianati amanah yang diberikan kepadanya dengan berbuat kerusakan dimuka
bumi ini. Ini tercantum dalam surat Al-baqarah ayat 30
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para
malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka
bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah)
di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah,
padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan
Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak
kamu ketahui."
4. Implikasi penciptaan alam semesta terhadap
pendidikan islam
Islam menegaskan bahwa esensi alam semesta adalah
selain dari Allah Swt. Dia adalah al-Rabb, yaitu Tuhan Maha Pencipta yang
menciptakan seluruh Makhluk yang makro dan mikro kosmos. Al-syaibany
sebagaimana yang tertera dalam bukunya Al-Rasyidin, Falsafah Pendidikan Islam
menjelaskan bahwa proses pendidikan adalah menyampaikan sesuatu kepada titik kesempurnaannya
secara berangsur-angsur. Karenanya, implikasi filosofi terhadap pendidikan
islam adalah bahwa pendidikan islam merupakan suatu proses atau tahapan dimana
peserta didik diberi bantuan kemudahan untuk mengembangkan potensi jismiyah dan
ruhaniyahnya sehingga fungsional untuk melaksanakan fungsi dan tugas-tugasnya
dalam kehidupan di alam semesta. oleh karena pendidikan merupakan proses dan
tahapan, maka pendidikan Islami akan berlangsung secara kontiniu sepanjang
kehidupan manusia di muka bumi ini.
Dalam perspektif Islam, manusia harus merealisasikan
tujuan kemanusiaanya di alam semesta, baik sebagai Syahid Allah , `abd Allah
maupun Khalifah Allah . Dalam konteks ini menurut Al-Rasyidin bahwa Allah Swt
menjadikan alam semesta sebagai wahana bagi manusia untuk bersyahadah akan
keberadaaan dan kemahakuasaan-Nya. Wujud nyata yang menandai syahadah itu
adalah penuaian sebagai makhluk `ibadah dan pelaksanaan tugas-tugas sebagai
khalifah. Beliau juga menjelaskan bahwa alam semesta merupakan institusi pendidikan,
yakni tempat di mana manusia dididik, dibina, dilatih, dan dibimbing agar
berkemampuan merealisasikan atau mewujudkan fungsi dan tugasnya sebagai `abd
Allah dan khalifah dalam menerapkan amal ibadah dan amal shalih kepada Allah
Swt. Melalui proses pendidikan di alam semesta inilah, kelak Allah Swt akan
menilai siapa diantara hamban-Nya yang mampu meraih markah atau prestasi
terbaik.
Dalam al-quran dijelaskan cara-cara memahami alam.
Salah satu cara memahami alam raya ini dapat dilakukan lewat indera
penglihatan, pendengaran, perasa, pencium dan peraba. Artinya, semua alat utama
ini dapat membantu manusia untuk melakukan pengamatan dan eksperimen. Hal ini
terdapat pada surat An-Nahl ayat 78
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam
keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran,
penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.
Panca indera belumlah cukup atau satu-satunya jalan
memahami alam, tetapi dibutuhkan lagi yaitu penalaran atau akal.Di samping alat
indera dan akal manusia, ada lagi cara lain yaitu melalui wahyu dan ilham
(inspirasi).
B.
Hakikat Kehidupan
a. Filsafat Kehidupan
Hidup adalah yang menunjukkan masih berada,
bergerak, dan bekerja sebagaimana mestinya.
Orang dapat dipengaruhi oleh dua pandangan hidup,
yaitu:
1)
Mekanisme
Memandang segala kejadian di dunia ini sebagai suatu
atomatisme belaka, suatu kejadian yang dengan sendirinya harus terjadi sebagai
akibat dari suatu rentetan hukum sebab-akibat (Cause-Effect).
Yang dimaksud “sesuatu yang mekanis” menunjuk pada
tiga arti:
a.
Sesuatu yang menunjuk pada teori mesin
b.
Sesuatu yang menunjuk pada fisio-kimiawi
c.
Sesuatu yang menunjuk pada proses kerja kausalistik
2)
Vitalis
Menganngap adanya hidup sebagai prinsip yang lepas
dari segala kebendaan. Hidup itu dapat bermanifestasi (menyatu) dalam benda
yang mempunyai susunan tertentu, kemudian benda itu kita sebut hidup. Kalau
susunan benda itu rusak maka hidup tidak lagi menyatu (bersemayam) di dalamnya,
dengan kata lain makhluk tersebut dianggap mati.
Henry Bergson (1859-1941), seorang vitalisme yang
terkemuka, berpendapat bahwa hidup itu merupakan proses yang berarah tujuan ,
bergerak maju ke bentuk-bentuk hidup yang semakin tinggi hingga sangat muskil.
Perkembangan itu karena adanya “hasrat hidup” (elan vital). Elan vital terus
terus menerus mendorong organisme hidup terus bergerak menyerap hidup. Sehingga
terbentuk bentuk-bentuk hidup yang baru
(evolusi).
Hidup sekarang:Hidup yang dulu: ketika kita
merasakan seakan pernah datang ke suatu tempat, padahal tempat itu baru pertama
kali kita kunjungi atau bahkan tempat tersebut baru dibangun, maka tempat itu
diberitahukan pada alam hidup yang dulu.
Hidup yang nanti:Dapat dirasakan oleh kita dan
lebih-lebih penguasa yang dzalim tindakannya akan diperhitungkan pada hidup
yang akan datang, tempat di mana semuanya harus dipertanggungjawabkan. Hal ini
dalam kajian agama disebut akhirat.
b. Filsafat perjuangan
Perjuangan dalam pandangan filsafat merupakan
kemestian yang tidak bisa ditawar-tawar. Sebab ia merupakan kelaziman dari
keberadaan materi. Oleh karenanya untuk lebih memahami kelaziman tersebut perlu
kiranya kami paparkan susunan keberadaan alam semesta.
Ada dua kategori pilihan, yaitu baik dan buruk.
Dalam al-Qur’an disebut dengan istilah haq dan bathil. Untuk menentukan mana
yang baik dan buruk inilah diperlukan Wahyu dari Allah SWT, karena setiap
pilihan akan dipertanggungjawabkan dan diadili di Yaumil Akhir nanti sebagai
perimbangan dunia sekarang ini. Surga-Neraka pun dimaksudkan Allah sebagai
ganjaran atas segala perbuatan di dunia, dalam kata lain disebut dengan amal
dan dosa.
Jean Paul Sartre, seseorang yang menganut paham
eksistensialisme mengatakan: “Man is nothing else but what he makes him self”
(Manusia tidak lain daripada bagaimana ia menjadikan dirinya sendiri). Dari
kata-kata tersebut jelas bahwa Sartre tidak percaya pada takdir, karena
perjuangan baginya harus dilaksanakan dengan gigih secara maksimal. Tapi Sartre
juga mengatahui bahwa manusia memiliki keterbatasan, sebagaimana dikatakannya
berikut ini: “I still believe that individual freedom is total, ontologically
speaking, but on the other hand I am more and more convinced that this freedom
is conditioned and limited by circumstances” (saya masih percaya bahwa kebebasan
individu adalah total, demikian dalam bangunan ontologism, di lain pihak saya
semakin menjadi yakin bahwa kebebasan ini ditentukan dan dibatasi oleh berbagai
keadaan).
Etika dan syariat serta akal yang sehat tidak dapat
membenarkan adanya penjarahan yang tidak teratur bagi manusia. Karena ia
merupakan keberadaan yang berbudaya dan beretika. Terlebih lagi ia merupakan
keberadaan yang berakal yang justru dengan itu semua manusia berbeda dengan
dari wujud-wujud lain. Apalagi ia merupakan makhluk yang diciptakan untuk
mengabdi (ibadah). Oleh karena itu, perjuangan yang akan ia lakukan haruslah
sesuai dengan etika, logika, dan syariat yang kesemuanya itu adalah hakikat
yang satu dalam tiga manifestasi.
Ketika manusia harus berjuang dalam mempertahankan
dan/atau memajukan hidupnya maka manusia harus berjuang selalu. Namun ketika
pada diri manusia ada dua macam potensi, yaitu potensi untuk menjadi baik dan
menjadi buruk, maka perjuangannya pun akan didasarkan pada dua potensi itu.
Oleh karena itu, perjuangan manusia memiliki dua macam : baik dan buruk.
c.
Filsafat Takdir
Takdir adalah suatu rumusan baku dari Sang Pencipta
yang ditetapkan kepada tiap unit terkecil ciptaan-Nya. Takdir terlihat setelah
manusia tidak lagi mampu merencanakan, tidak lagi mampu mengerjakan, tidak lagi
mampu mengontrol, tidak lagi mampu memilih alternatif, jadi tidak lagi mampu
berbuat dan merubah sesuatu itu.
Takdir disebut juga undeterminisme, “un” berarti
tidak, begitu juga “de” berarti tidak, sedangkan “terminus” berarti terbatas.
Jadi undeterminisme adalah keterbatasan. Dengan demikian “terminus” yang
berarti batas, sehingga aliran ini sesukanya mengingkari adanya kehendak bebas.
Undeterminisme dibagi menjadi undeterminisme matrealistis dan undeterminisme
religious. Undeterminisme matrealistis adalah keterbatasan pada materi, yaitu
hukum alam. Seperti kita ketahui bahwa maut tidak pernah memilih umur tua atau
muda, dan kemampuan tubuh yang kuat atau lemah untuk mati duluan.
Undeterminisme religious adalah keterbatasan pada
takdir, yaitu kehendak Allah. Sebagai contoh dapat kita lihat, apakah seseorang
itu ditakdirkan menjadi penguasa atau masyarakat biasa.
Sampai sekarang untuk menentukan ukuran suatu benda
kita namakan dengan “kadar”, yaitu berasal dari kata “qadar” yang berarti
ketentuan untuk suatu benda mati maupun hidup yang sudah tidak dapat diubah
lagi, karena sudah menjadi ketetapan Allah SWT.
Oleh karena itu diperoleh rumus sebagai berikut:
Perjuangan + Takdir + Do’a = Nasib
Jadi yang tak dapat dirubah lagi adalah nasib. Namun
nasib itu merupakan hasil setelah seseorang berjuang secara maksimal dengan
seluruh upayanya, lalu memperhatikan takdir yang sudah ditetapkan, kemudian
memohon do’a dengan khusuk kepada Allah yang Maha Mendengar, yang tidak pernah
berhenti melihat, dan tidak pernah berhenti berkehendak, karena mudah bagi
Allah untuk membalikkan keadaan.
Konsep tentang takdir sangat beragam. Bertolak dari
berpikir analitis yang spontan, radikal, dan komprehensif, bisa diberikan
penjabaran ringkas dari sudut pandang Islam, Positivistik, dan Filsafat ”aku”
dalam tulisan ini.
Filsafat ’aku’ adalah derivasi konsep sufistik yang
berkembang selama lebih dari sebelas abad, khususnya sejak pemikiran Hasan
alBasri menjadi sebuah pilar penting dalam pemikiran tasawuf dan pemikiran saya
tentang konsep ”aku”, baik dalam bentuk karya tulis sajak, maupun pati kata
yang akan dijelaskan secara lugas dalam tulisan ini kaitannya dengan konsep
takdir manusia.
d.
Filsafat Do’a
Do’a adalah meminta sesuatu kepada Allah yang Maha
Kuasa, demikian dalam agama Islam. Begitu pula dalam agama Yahudi, Hindu,
Budha, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Agama Shinto, bahkan Kong Fu Tse
juga mengajarkan do’a.
Mengapa manusia harus berdo’a?
Karena Allah mengijinkan manusia merasakan penderitaannya,
lalu dengan berbelas kasih memohon kepada Allah, setelah merasakan kefakiran,
merasakan kebodohan, dan merasakan kelemahan masing-masing. Dalam al-Qur’an
tertulis:
“Berdo’alah kepada Tuhanmu dengan merendahkan diri
dan tidak mengeraskan suara, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
melampaui batas.” (Q.S. 7: 55)
Tidak semua do’a akan terkabulkan, apalagi yang
bersifat menandingi. Contohnya, ketika seorang kandidat bupati berdo’a dan
tidak menutup kemungkinan lawan politiknya juga berdo’a. apakah kemudian
kabupaten tersebut akan dibagi sebanyak calon bupati karena do’a semua kandidat
dikabulkan.
Mengabulkan do’a adalah hak Allah, maka berdo’alah
dengan segala kerendahan hati, ciptakan kegentaran dan ketakutan, sebaliknya
jangan munculkan rasa kedongkolan, keterpaksaan dan kecewa, karena Allah
mengetahui isi hati kita. Dengan demikian do’a bukan pemberitahuan kepada
Allah, karena Allah Maha Mengetahui, tetapi merupakan permohonan bantuan atas
segala kelemahan kita sebagai makhluk.
e. Filsafat Kematian
Secara umum mati diartikan sebagai berpisahnya
antara roh dengan jasad. Tetapi dari kenyataan sehari-hari saja kita dapat
berpendapat bahwa mati adalah berhentinya fungsi keseluruhan organ tubuh.
Mati dapat disebabkan banyak hal:
1. Kerusakan
salah satu organ tubuh, yang mengakibatkan gangguan keberadaan seluruh tubuh.
2. Keberangkatan
roh, untuk memulai suatu perjalanan panjang.
Filsafat tidak dapat mengatakan apa yang terjadi
waktu itu, kemungkinan bahwa di belakang pintu ada kekosongan mutlak menganga,
tidak terkecuali, tetapi tidak terkecuali pula kemungkinan bahwa saat kematian,
adalah saat kita sungguh-sungguh maninggalkan apa saja di dunia ini. (Franz
MAgnis, 1987)
Apakah maut itu berarti hanya kekosongan, atau
sebaliknya saat mata kita terbuka untuk keseluruhan, ini tidak dapat dipastikan
oleh manusia sendiri. Satu jawaban, atas pertanyaan itu hanya dapat diberikan
oleh Realitas Mutlak itu sendiri, dan itulah yang diungkapkan dalam keyakinan
beragama.
Pembicaraan mengenai kematian atau maut ini meliputi
pembicaraan tentang arti kematian, proses kematian, fungsi kematian dan makna
kematian itu sendiri. Berkaitan dengan hal itu Munandar Solaeman menyampaikan
pokok pikiran tentang mati sebagai berikut:
1. Mati
adalah berhentinya budi daya manusia secara total.
2. Proses
kematian manyangkut segi fisik dan segi rohani.
3. Sikap
manusia menghadapi kematian bermacam-macam.
4. Kematian
merupakan pengalaman akhir dari hidup seseorang.
5. Kesimpulan,
konsepsi, atau pengertian tentang kematian lebih banyak diperoleh dari
sumber-sumber agama, seperti wahyu atau ajaran agama lainnya.
A. HAKIKAT MANUSIA
a.
Pengertian Hakikat
Menurut bahasa hakikat berarti kebenaran atau seesuatu
yang sebenar-benarnya atau asal segala sesuatu. Dapat juga dikatakan hakikat
itu adalah inti dari segala sesuatu atau yang menjadi jiwa sesuatu. Karena itu
dapat dikatakan hakikat syariat adalah inti dan jiwa dari suatu syariat itu
sendiri. Dikalangan tasauf orang mencari hakikat diri manusia yang sebenarnya
karena itu muncul kata-kata diri mencari sebenar-benar diri. Sama dengan
pengertian itu mencari hakikat jasad, hati, roh, nyawa, dan rahasia.
b.
Pengertian Manusia
Manusia adalah makhluk paling sempurna yang pernah
diciptakan oleh Allah swt. Kesempurnaan yang dimiliki manusia merupakan suatu
konsekuensi fungsi dan tugas mereka sebagai khalifah di muka dumi ini. Al-Quran
menerangkan bahwa manusia berasal dari tanah.
Membicarakan tentang manusia dalam pandangan ilmu
pengetahuan sangat bergantung metodologi yang digunakan dan terhadap filosofis
yang mendasari. Para penganut teori psikoanalisis menyebut manusia sebagai homo
volens (makhluk berkeinginan). Menurut aliran ini, manusia adalah makhluk yang
memiliki perilaku interaksi antara komponen biologis (id), psikologis (ego),
dan social (superego). Di dalam diri manusia tedapat unsur animal (hewani),
rasional (akali), dan moral (nilai).
Para penganut teori behaviorisme menyebut manusia
sebagai homo mehanibcus (manusia mesin). Behavior lahir sebagai reaksi terhadap
introspeksionisme (aliran yang menganalisa jiwa manusia berdasarkan laporan
subjektif dan psikoanalisis (aliran yang berbicara tentang alam bawa sadar yang
tidak nampak). Behavior yang menganalisis prilaku yang Nampak saja. Menurut
aliran ini segala tingkah laku manusia terbentuk sebagai hasil proses
pembelajaran terhadap lingkungannya, tidak disebabkan aspek.
Para penganut teori kognitif menyebut manusia sebagai
homo sapiens (manusia berpikir). Menurut aliran ini manusia tidak di pandang
lagi sebagai makhluk yang bereaksi secara pasif pada lingkungannya, makhluk
yang selalu berfikir. Penganut teori kognitif mengecam pendapat yang cenderung
menganggap pikiran itu tidak nyata karena tampak tidak mempengaruhi peristiwa.
Padahal berpikir , memutuskan, menyatakan, memahami, dan sebagainya adalah
fakta kehidupan manusia.
Dalam al-quran istilah manusia ditemukan 3 kosa kata yang berbeda dengan
makna manusia, akan tetapi memilki substansi yang berbeda yaitu kata basyar,
insan dan al-nas.
Kata basyar dalam al-quran disebutkan 37 kali salah
satunya al-kahfi : innama anaa basyarun mitlukum (sesungguhnya aku ini hanya
seorang manusia seperti kamu). Kata basyar selalu dihubungkan pada sifat-sifat
biologis, seperti asalnya dari tanah liat, atau lempung kering (al-hijr : 33 ;
al-ruum : 20), manusia makan dan minum (al-mu’minuum : 33).
Kata insan disebutkan dalam al-quran sebanyak 65 kali, diantaranya (al-alaq
: 5), yaitu allamal insaana maa lam ya’ (dia mengajarkan manusia apa yang tidak
diketahuinya). Konsep islam selalu dihubungkan pada sifat psikologis atau
spiritual manusia sebagai makhluk yang berpikir, diberi ilmu, dfan memikul
amanah (al-ahzar : 72). Insan adalah makhluk yang menjadi (becoming) dan terus
bergerak maju ke arah kesempurnaan.
Kata al-nas disebut sebanyak 240 kali, seperti al-zumar : 27 walakad
dlarabna linnaasi fii haadzal quraani min kulli matsal (sesungguhnya telah kami
buatkan bagi manusia dalam al-quran ini setiap macam perumpamaan). Konsep
al-nas menunjuk pada semua manusia sebagai makhluk social atau secara kolektif.
Dengan demikian Al-Quran memandang manusia sebagai
makhluk biologis, psikologis, dan social. Manusia sebagai basyar, diartikan
sebagai makhluk social yang tidak biasa hidup tanpa bantuan orang lain dan atau
makhluk lain.
Sebenarnya manusia itu terdiri dari 3 unsur yaitu
:
1. Jasmani. Terdiri dari air, kapur, angin, api dan tanah.
2. Ruh. Terbuat dari cahaya (nur). Fungsinya hanya untuk menghidupkan jasmani
saja.
3. Jiwa. Manusia memiliki fitrah dalam arti potensi yaitu kelengkapan yang
diberikan pada saat dilahirkan ke dunia. Potensi yang dimiliki manusia dapat di
kelompokkan pada dua hal yaitu potensi fisik dan potensi rohania. Ibnu sina
yang terkenal dengan filsafat jiwanya menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk
social dan sekaligus makhluk ekonomi.
Manusia adalah makhluk
social untuk menyempurnakan jiwa manusia demi kebaikan hidupnya, karena manusia
tidak hidup dengan baik tanpa ada orang lain. Dengan kata lain manusia baru
bisa mencapai kepuasan dan memenuhi segala kepuasannya bila hidup berkumpul
bersama manusia.
c.
Hakikat
Manusia
Hakikat berasal dari kata Arab Al-haqiqat, yang
berarti kebenaran dan esensi. Dalam pengertian ini, Muhammad Yasir Nasution
mengungkapkan bahwa hakikat mengandung makna sesuatu yang tetap, tidak
berubah-ubah. Yaitu identitas esensial yang menyebabkan sesuatu menjadi dirinya
sendiri dan membedakannya dari yang lainnya. Lebih
lanjut, yang mendasari jalan berpikir merumuskan hakikat manusia adalah prinsip
yang umum dianut oleh para filosof, yaitu mabda’ al-dzatiyyat (prinsip
identitas) yang lebih populer dengan sebutan prinsip pertama. Prinsip ini
berbunyi : “sesuatu yang ada hanya identik dengan dirinya sendiri. Dengan demikian maka dapat dipahami bahwa segala
sesuatu yang ada mempunyai identitas yang menandai esensinya dan menunjukkan
kebedaannya dari yang lain.
Menurut kajian ilmu, manusia sebagai individu terdiri
dari sel-sel daging, tulang, saraf, darah dan lain-lain (materi) yang membentuk
jasad. Ilmu mengakui bahwa dalam diri manusia ada jiwa, bahkan penganut teori
evolusi pun mengakuinya. Namun, apakah jiwa itu substansi yang berdiri sendiri,
ataukah ia hanya merupakan fungsi atau aktivitas jasad dengan organ-organnya.
Lebih lanjut, Al-Ghazali menggambarkan manusia terdiri
dari Al-Nafs, Al-ruh dan Al-jism. Al-nafs adalah substansi yang berdiri
sendiri, tidak bertempat. Al-ruh adalah panas alam di (al-hararat
al-ghariziyyat) yang mengalir pada pembuluh-pembuluh nadi, otot-otot dan
syaraf. Sedangkan al-jism adalah yang tersusun dari unsur-unsur materi. Al-jism (tubuh) adalah bagian yang paling tidak
sempurna pada manusia. Ia terdiri atas unsur-unsur materi, yang pada suatu saat
komposisinya bisa rusak. Karena itu, ia tidak mempunyai daya sama sekali. Ia
hanya mempunyai mabda’ thabi’i (prinsip alami) yang
memperlihatkan bahwa ia tunduk kepada kekuatan-kekuatan di luar dirinya.
Tegasnya, al-jism tanpa al-ruh dan al-nafs adalah benda mati.
Selain itu, Al-Ghazali juga menyebutkan manusia
terdiri dari substansi yang mempunyai dimensi dan substansi (tidak berdimensi)
yang mempuyai kemampuan merasa dan bergerak dengan kemauan. Yang pertama adalah
al-jism dan yang kedua al-nafs. Di sini, ia tidak membicarakan al-ruh dalam
arti sejenis uap yang halus atau panas alami, tetapi ia menggambarkan adanya
dua tingkatan al-nafs dibawah al-nafs dalam arti esensi manusia, yaitu al-nafs
al-nabatiyyat (jiwa vegetatif) dan al-nafs al-hayawaniyyat (jiwa
sensitif). Kedua jiwa ini disebut di bawah jiwa manusia, karena dipunyai secara
bersama oleh manusia dan makhluk-makhluk lainnya, tumbuh-tumbuhan untuk yang
pertama dan hewan serta tumbuh-tumbuhan untuk yang kedua.
Menurut Al-Ghazali, Jiwa (al-nafs al-nathiqah) sebagai
esensi manusia mempunyai hubungan erat dengan badan. Hubungan tersebut diibaratkan
seperti hubungan antara penunggang kuda dengan kudanya. Hubungan ini merupakan
aktifitas, dalam arti bahwa yang memegang inisiatif adalah penunggang kuda
bukan kudanya. Kuda merupakan alat untuk mencapai tujuan. Ini berarti bahwa
badan merupakan alat bagi jiwa. Jadi, badan tidak mempunyai tujuan pada
dirinya, dan tujuan itu akan ada apabila dihubungkan dengan jiwa, yaitu sebagai
alat untuk mengaktualisasikan potensi-potensinya.
Disamping itu, berdasarkan proses penciptaannya,
manusia merupakan rangkaian utuh antara komponen materi dan immateri. Komponen
materi berasal dari tanah (Q.S. As-Sajadah 32:7) dan komponen immateri ditiupkan
oleh Allah (Q.S. Al Hijr 15:29). Kesatuan ini memberi makna bahwa di satu sisi
manusia sama dengan dunia di luar dirinya (fana), dan disisi lain
menandakan bahwa manusia itu mampu mengatasi dunia sekitarnya, termasuk dirinya
sebagai jasmani (baqa).
Demikianlah pandangan Al-Ghazali tentang hakikat
manusia mengenai hubungan badan dengan jiwa. Dimana, badan hanya sebatas alat
sedangkan jiwa yang merupakan memegang inisiatif yang mempunyai kemampuan dan
tujuan. Badan tanpa jiwa tidak mempunyai kemampuan apa-apa. Badan tidak
mempunyai tujuan, tetapi jiwa yang mempunyai tujuan. Badan menjadi alat untuk
mencapai tujuan tersebut. Oleh karena itu, jiwalah nanti yang akan menikmati
dan merasakan bahagia atau sengsaranya di akhirat kelak.
Menurut al-Qur’an manusia adalh ciptaan Tuhan. Jadi
manusia itu berasla dari Tuhan.
Al-Qur’an menyatakan bahwa manusia itu terdiri ats
jasmani (material). Sebagaimana diisyaratkan dalam al-qur’an
“dan carilah pada apa yang telah
dianugerahkan Allah kepaddamu (kebahagiaan) negeri akherat, dan janganlah
kamumelupakan kebahagiaanmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah
(kepada orang lain) sebagimana Allah berbuat baik kepada kamu, dan jangan
berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang yang
berbuat kerusakan. (QS. Al-Qashash: 77)
Akal adalah salah satu aspek penting dalam hakikat
manusia. Akal adalah alat untuk berpikir. Abdul Fattah (1988: 57-58)
menjelaskan bahwa kata ‘aqala dalam
al-qur’an kebanyakan digunakan dalam betuk fi’il (kata kerja), hanya sedikit
dalam bentuk ism (kata benda): itu
menunjukan bahwa pada akal yang penting ialah berfikir bukan akal sebagai otak
yang berupa benda.
Aspek lainnya ialah ruh atau ruhani. Al-Syaibani
(1979:130) menyatakan bahwa manusia memiliki tiga potensi yang sama yaitu
jasmani, ruhani, dan akal.
B.
FAKTOR
HEREDITAS dan LINGKUNGAN
1. Pengertian Hereditas
Hereditas merupakan kecenderungan
alami cabang-cabang untuk meniru sumber mulanya dalam komposisi fisik dan
psikologi. Ahli hereditas lainnya menggambarkan sebagai penyalinan
cabang-cabang dari sumbernya. Islam sangat memperhatikan faktor al-waritsah (hereditas) ini dalam
pembentukan kepribadian seseorang dan mengarahkannya kehal yang positif.seperti
Allah melebihksn keturunan Nabi Ibrahim dan keturunan imran diatas bumi ini
karena hereditas yang baik cenderung meniru dari generasi ke generasi (QS. Ali
Imran [3]: 34).
Dari berbagai ayat al-Qur’an dan
hadis tersebut memberi indikasi kuat bahwa faktor hereditas akan diwarisi/
ditiru oleh keturunannya. Ilmu yang membahas tentang hereditas telah
menetapkan, bahwa anak akan mewarisi sifat-sifat dari kedua orang tuanya, baik
moral (al-khalqiyah), kinestetik (al-jismiyah), maupun intelektual (al-aqliyah), sejak masa kelahirannya.
Namun harus diakui pula tidak selamanya faktor hereditas berjalan secara
otomatis.
Dengan demikian dapat dikatakan
bahwa pembawaan ialah potensi-potensi yang dibawa setiap individu ketika ia
lahir merupakan warisan dari orang tuanya.
Unsur-unsur pembawaan yang berupa
potensi-potensi fisik dan mental psikologis itu dalam proses perkembangannya
akan berfungsi sebagai faktor dasar atau faktor bahan yang akan mempengaruhi
proses perkembangan. Dalam setiap proses perkembangan itu diperlukan bahan
dasar sebab tanpa bahan dasar itu maka pertumbuhan fisik atau perkembangan
mental anak tidak akan terjadi. Tentunya makin baik potensi kondisi pembawaan
sebagai faktor dasar maka dapat diharapkan akan baik pula perkembangan
yang akan terjadi, dan sebaliknya.
Masing-masing individu lahir ke
dunia dengan satu heriditas tertentu. Ini berarti karakteristik individu
diperoleh melalui pewarisan atau pemindahan cairan-cairan “germina” dari
pihak orang tuanya. Disamping itu individu tumbuh dan berkembang tidak lepas
dari lingkungannya, baik lingkuntgan pisis, psikologis, maupun lingkungan
sosial. Setiap pertumbuhan dan perkembangan yang kompleks merupakan hasil
interaksi dari dari para heriditas dan lingkungan.
2. Lingkungan
Lingkungan ialah suatu yang melingkupi tubuh yang hidup. Lingkungan manusia
merupakan apa yang melingkupinya dari negeri, lautan, sungai, udara dan bangsa.
Lingkungan ada dua macam yaitu:
a. Lingkungan
alam
Lingkungan
alam telah menjadi perhatian para ahli-ahli sejak zaman Plato sehingga
sekarang ini dengan memberi penjelasan-penjelasan dan sampai akhirnya membawa
pengaruh. Ibnu Chaldun telah menulis dalam kitab pendahuluannya. Maka tubuh yang
hidup tumbuhnya bahkan hidupnya tergantung pada keadaan lingkungan yang
ia hidup didalamnya.
Kalau lingkungan tidak cocok kepada tubuh, maka tubuh
tersebut akan mati. Udara, cahaya, dan apa yang ada di sungai, serta di lautan
sangat mempengaruhi dalam kesehatan penduduk dan keadaan mereka yang mengenai
akal dan akhlak.
Demikian juga akal, yakni saling mempengaruhi antara
akal dengan lingkungan, dan antara apa yang melingkupinya. Akal tidak tetap
atau meningkat ke atas kecuali dengan mempergunakan pikirannya dalam keadaan
dikanan-kirinya dan mengambil paedah dari lingkungan yang berada disekitarnya.
b. Lingkungan
pergaulan
Lingkungan
pergaulan meliputi manusia, seperti rumah, sekolah, pekerjaan, pemerintah,
syiar agama, ideal, keyakinan, pikiran – pikiran, adat istiadat, pendapat umum,
bahasa, kesusastraan, kesenian, pengetahuan dan akhlak. Pendeknya apa yang dihasilkan
oleh kemajuan manusia.
Manusia pada umumya lebih banyak terpengaruh pada
“lingkungan alam”. Apabila ia telah mendapat sedikit kemajuan, “lingkungan
pergaulan”lah yang menguasainya, sehingga ia dapat mengubah lingkungan atau
menyesuaikan diri kepadanya. Contohnya ketika udara panas ia mengunakan pakaian
tipis dan putih, agar dapat menolak hawa panas, dan membangun rumahnya menurut
aturan tertentu dan dapat menyejukkan.
Walaupun manusia terpengaruh oleh lingkungan alam atau
lingkungan pergaulan namun dengan akal ia dapat membatasi dan menentukan
lingkungan yang cocok untuknya.
Lingkungan atau alam sekitar memiliki peranan penting
dalam pendidikan islam. Karena lingkungan merupakan elemen yang signifikan
dalam pembentukan personalitas serta pencapaian keinginan-keinginan individu
dalam rangka umum peradaban. Biasanya individu-individu dimasyarakat mengikuti
kebiasaan yang ada disekitarnya dengan sadar atau tidak sadar.
Dengan demikian, lingkungan dapat
diartikan secara fisiologis, secara psikologis, dan secara sosial-kultural.
Secara fisiologis, lingkungan
meliputi segala kondisi dan materiil jasmaniah di dalam tubuh seperti gizi,
vitamin, air, zat asam, suhu, sistem saraf, peredaran darah, pernafasan,
pencernaan, makanan, kelenjar-kelenjar indoktrin, sel-sel pertumbuhan dan
kesehatan jasmani.
Secara psikologis, lingkungan
mencakup segenap stimulasi yang diterima oleh individu mulai sejak zaman konsesi,
kalahiran sampai matinya. Stimulasi ini misalnya berupa: sifat-sifat”genes”,
interaksi “genes”, selera, keinginan, perasaan, tujuan-tujuan, minat,
kebutuhan, kemauan, emosi, dan kapasitas intelektual.
Sevara sosio-kultural, lingkungan
mencakup segenap stimulasi, interaksi dan kondisi eksternal dalam hubunganya
dalam perlakuan ataupun karya orang lain. Pola hidup keluarga,pergaulan,
kelompok, pola hidup masyarakat, latihan, belajar, pendidikan pengajaran,
bimbingan dan penyuluhan, adalah termasuk sebagai lingkungan ini.
Lingkungan sangat berperan dalam
pertumbuhan dan perkembangan anak.Lingkungan adalah keluarga yang mengasuh dan
membesarkan anak, sekolahtempat mendidik, masyarakat tempat anak bergaul juga
bermain sehari-hari dan keadaan alam sekitar dengan iklimnya, flora dan fauna.
Besar kecilnya pengaruh lingkungan
terhadap pertumbuhan dan perkembanganya bergantung kepada keadaan lingkungan
anak itu sendiri serta jasmani dan rohaninya.
Para ahli pendidikan membagi
lingkungan menjadi dua. Pertama, lingkungan
alam yakni bumi dengan semua yang ada diatas dan dibawah serta pada berbagai
kekuatan dan energinya.ilmu pengetahuan alam yang dimulai dengan informasi
sederhana yang diberikan kepada pembelajar sampai kepada biologi, kimia, dan
fisika adalah berkaitan dengan lingkungan alam. Kedua, lingkungan sosial yakni masyarakat manusia serta berbagai
hubungan antara individu-individu dan kelompok- kelompok. Hubungan pergaulan,
ekonomi, politik, profesi, budaya, psikologi, pendidikan termasuk di dalamnya.
Selain itu, ilmu-ilmu sosial, seperti sejarah,geografi, pendidikan, ekonomi,
dan politik, berkaitan dengan lingkungan sosial.
Nilai-nilai mental dan spiritual
memainkan sebuah peran efektif yang berharga dalam lingkungan sosial melalui
pendidikan.
Manusia berkembang dalam dua dimensi
yaitu potensi-potensi internal manusia dan lingkungan baik lingkungan alam
maupun lingkungan sosial.
1. Kesadaran Manusia
Kesadaran adalah kesadaran akan perbuatan. Sadar
artinya merasa, tau atau ingat (kepada keadaan yang sebenarnya), keadaan ingat
akan dirinya, ingat kembali (dari pingsannya), siuman, bangun (dari tidur)
ingat, tau dan mengerti, misalnya , rakyat telah sadar akan politik.
Refleksi
merupakan bentuk dari penggungkapan kesadaran, dimana ia dapat memberikan atau
bertahan dalam situasi dan kondisi tertentu dalam lingkungan. Setiap teori yang
dihasilkan oleh seorang merupakan refleksi tetang realitas dan manusia.
Kesadaran
menurut Sartre berifat itensional dan tidak dapat dipisahkan di dunia.
Kesadaran tidak sama dengan benda-benda. Kesadaran selalu terarah pada etre en
sio (ada-begitu-saja) atau berhadapan dengannya. Situasi dimana kesadaran berhadapan
oleh Sartre disebut etre pour soi (ada-bagi-dirinya). Bahwa kesadaran saya akan
sesuatu juga menyatakan adanya perbedaan antara saya dan sesuatu itu. Saya
tidak sama dengan sesuatu yang saya sadari ada jarak antara saya dengan objek
yang saya lihat. Misalkan entre pour soi menunjuk pada manusia atau kesadaran.
Manusia adalah eter pour soi sebab ia tidak persis menjadi satu dengan dirinya
sendiri. Tiadanya identitas manusiadengan dirinya sendiri memungkinkan manusia
untuk melampaui, untuk mengatasi dirinya dan menghubungkan benda-benda dengan
dirinya sesuai dengan yang dimaksud dan tujuannya. Ketidak identikan manusia
dengan dirinya sendiri tampak dalam kesadaran yang ditandai oleh regativitas,
penidakan. Negativitas menunjukan bahwa terhadap etre pour soi atau kesadaran
hanya dikatan it is not what it is. Maka kesadaran disini merupakan non
identitas, jarak, distansi. Kegiatan hakiki kesadaran merupakan menindak,
mengatakan tidak. Etre por soi tidak lain dari pada menindak atau menampilkan
ketiadaan. Kebebasan bagi Sartre merupakan kesadaran menindak, dan manusi
sendiri merupakan kebebasan. Pada manusialah itu eksistensi itu mendahului
esensi, sebab manusia selalu berhadapan dengan kemungkinan untuk mengatakan
tidak. Selama manusia masih hidup ia bebas untuk mengatakan tidak, baru setelah
kematian maka cirri-ciri hidupnya dapat dibeberkan. (Alex Lanur, Pengantar
dalam “Kata-Kata”)
Kesadaran
sebagai keadaan sadar, bukan merupakan keadaan yang pasif melainkan suatu
proses aktif yang terdiri dari dua hal hakiki; diferensiasi dan integrasi. Meskipun secara
kronologis perkembangan kesadaran manusia berlangsung pada tiga tahap; sensansi
(pengindraan), perrseptual (pemahaman), dan konseptual (pengertian). Secara
epistemology dasar dari segala pengetahuan manusia tahap perseptual. Sensasi
tidak begitu saja disimpan di dalam ingatan manusia, dan manusia tidak
mengalami sensasi murni yang terisolasi. Sejauh yang dapat diketahui pengalaman
indrawi seorang bayi merupakan kekacauan yang tidak terdeferensiasikan.
Kesadaran yang terdiskreminasi pada tingkatan persep. Persep merupakan
sekelompok sensasi yang secara otomatis terimpandan dintgrasikan oleh otak dari
suatu organisme yang hidup. Dalam bentuk persep inilah, manusia memahami fakta
dan memahami realitas. Persep buka sensasi, merupakan yang tersajikan yang
tertentu (the given) yang jelas pada dirinya sendiri (the self evidence).
Pengetahuan tentang sensasi sebagai bagian komponen dari persep tidak langsung
diperoleh mnusia jauh kemudian, merupakan penemuan ilmiah, penemuan konseptual.
Empat tingkat kesadaran manusia (1)
Ilustrasi
Sejak
manusia pertama diciptakan oleh Yang Mahapencipta, dia telah hadir dengan
membawa karakternya. Anak cucunya juga lahir dengan membawa karakter mereka dan
kemudian berubah dari generasi ke generasi.
Pencerahan muncul sejalan dengan perkembangan pikiran manusia. Dilengkapi oleh kedatangan ajaran agama, manusia mulai menata aturan-aturan duniawinya. Perubahan karakter tersebut terutama disebabkan oleh dua sumber; oleh ajaran agama yang disampaikan beberapa orang terpilih yang menerima wahyu, dan oleh inovasi teknologi dan ilmu pengetahuan yang ditemukan oleh beberapa manusia jenius.
Karakter manusia di muka bumi menurut saya dapat diklasifikasikan dalam empat tingkat kesadaran sebagaimana diuraikan di bawah ini.
Tingkat kesadaran rendah
Dahulu kala di zaman purba, ketika manusia belum mengenal ajaran agama, mereka memakan apa saja yang mereka dapat makan, bukan memakan apa yang boleh. Di zaman itu, manusia tidak mengenal definisi kepemilikan ataupun jual-beli.
Pada taraf ini level kesadaran manusia hampir setara dengan tingkat kesadaran hewan. Jika di zaman ini ada manusia atau sekelompok masyarakat yang berprilaku seperti itu, kita namakan itu prilaku superburuk alias biadab.
Sayangnya, di zaman serba modern ini masih ada manusia yang bersikap “hari ini mau makan siapa”. Seperti koruptor yang memakan hak rakyat, yang mendemonstrasikan perilaku biadab. Pejabat negara yang mengorupsi uang rakyat bermiliar-miliar sama saja dengan membunuh ribuan rakyat secara perlahan-lahan.
Pengusaha yang merampas tanah perkebunan milik orang banyak adalah ilustrasi dari nafsu tak terkendali pada tingkat kesadaran rendah. Penguasa yang menguasai senjata api yang menembaki dan mengancam rakyat kecil adalah refleksi pembunuh berdarah dingin.
Tingkat kesadaran sederhana
Manusia pada taraf ini mulai memperoleh pencerahan terbatas, mereka berzikir mencari cahaya dan petunjuk dari Yang Mahakuasa. Manusia menggali di dalam dirinya dan di alam semesta kaidah-kaidah kehidupan yang hakiki. Mereka berkeluarga melalui upacara pernikahan, menjaga serta membesarkan anak-anak bersama akidah agama atau kepercayaannya.
Mereka menetapkan definisi hak dan kewajiban yang tumbuh-kembang di tengah-tengah masyarakatnya. Mereka takut serta malu menghadapi sanksi jika melanggar norma-norma yang ada dalam budayanya. Manusia pada tingkat kesadaran sederhana menghafal definisi dosa dan pahala, memahami apa yang wajib, sunah dan makruh.
Tetapi, manusia pada klasifikasi ini kurang berminat terhadap perkembangan teknologi serta inovasinya. Ilmu pengetahuan belum dimanfaatkan untuk kemakmuran masyarakatnya. Masyarakatnya cenderung hidup santai tanpa mengenal arti high performance and best performers. Tingkat kesadaran sederhana menyebabkan manusia cepat puas dengan apa yang diraihnya.
Tingkat kesadaran tinggi
Manusia pada tingkatan ini memperdalam ilmu agama dan mengembangkan ilmu pengetahuan serta teknologi. Berbagai inovasi diciptakan. Alam semesta dipelajari dan dijelajahi.
Kebebasan individu dan kesempatan menyatakan pendapat diperluas. Manusia selalu membicarakan efisiensi dan produktivitas. Karena itu, manusia dengan tingkat kesadaran tinggi seharusnya memiliki smart character.
Sayangnya ada banyak manusia yang di permukaan mempertontonkan tingkat kesadaran tinggi, namun secara sembunyi-sembunyi mempraktikkan kebiadaban nafsu serakah dan kebengisan sifat hewani, seperti manusia di tingkat kesadaran rendah.
Di DPR ada banyak anggotanya yang berlagak sebagai manusia dengan tingkat kesadaran tinggi tetapi sayang seribu kali sayang mereka rajin mangkir. Kita sangat membutuhkan lebih banyak orang dengan kesadaran tinggi, yaitu orang yang tak mementingkan diri sendiri, tidak mengumbar egonya, tidak menginjak-injak orang lemah, tidak besar mulut yang isinya hanya slogan doang. Pada klasifikasi ini, mereka harus menjadi teladan dalam membuktikan “katakan tidak terhadap korupsi”.
Tingkat kesadaran kosmis
Ini level kesadaran tertinggi yang dimiliki segelintir manusia yang mampu hidup selaras serta menyatu dengan alam semesta. Mereka menjiwai makna kehidupan di dunia yang hanya singkat dan sementara karena itu mereka tidak tergoda baik oleh kemewahan materi maupun kenikmatan sekejap.
Mereka tak butuh gembar-gembor di depan sorotan kamera. Kebahagiaannya ada dalam dirinya yang bersahaja walaupun mereka di tengah hiruk-pikuk sandiwara orang-orang yang narsis dan tamak.
Ke mana pun mereka menoleh, apa pun yang mereka sentuh, di situ mereka melihat dan merasakan kehadiran Tuhan Yang Mahaagung. Mereka berlomba untuk menjadi manusia terbaik, yaitu manusia yang paling berguna bagi orang banyak. Mereka disiplin berzakat dan rajin bersedekah. Perilaku yang terpuji memang pantas ditiru.
Pencerahan muncul sejalan dengan perkembangan pikiran manusia. Dilengkapi oleh kedatangan ajaran agama, manusia mulai menata aturan-aturan duniawinya. Perubahan karakter tersebut terutama disebabkan oleh dua sumber; oleh ajaran agama yang disampaikan beberapa orang terpilih yang menerima wahyu, dan oleh inovasi teknologi dan ilmu pengetahuan yang ditemukan oleh beberapa manusia jenius.
Karakter manusia di muka bumi menurut saya dapat diklasifikasikan dalam empat tingkat kesadaran sebagaimana diuraikan di bawah ini.
Tingkat kesadaran rendah
Dahulu kala di zaman purba, ketika manusia belum mengenal ajaran agama, mereka memakan apa saja yang mereka dapat makan, bukan memakan apa yang boleh. Di zaman itu, manusia tidak mengenal definisi kepemilikan ataupun jual-beli.
Pada taraf ini level kesadaran manusia hampir setara dengan tingkat kesadaran hewan. Jika di zaman ini ada manusia atau sekelompok masyarakat yang berprilaku seperti itu, kita namakan itu prilaku superburuk alias biadab.
Sayangnya, di zaman serba modern ini masih ada manusia yang bersikap “hari ini mau makan siapa”. Seperti koruptor yang memakan hak rakyat, yang mendemonstrasikan perilaku biadab. Pejabat negara yang mengorupsi uang rakyat bermiliar-miliar sama saja dengan membunuh ribuan rakyat secara perlahan-lahan.
Pengusaha yang merampas tanah perkebunan milik orang banyak adalah ilustrasi dari nafsu tak terkendali pada tingkat kesadaran rendah. Penguasa yang menguasai senjata api yang menembaki dan mengancam rakyat kecil adalah refleksi pembunuh berdarah dingin.
Tingkat kesadaran sederhana
Manusia pada taraf ini mulai memperoleh pencerahan terbatas, mereka berzikir mencari cahaya dan petunjuk dari Yang Mahakuasa. Manusia menggali di dalam dirinya dan di alam semesta kaidah-kaidah kehidupan yang hakiki. Mereka berkeluarga melalui upacara pernikahan, menjaga serta membesarkan anak-anak bersama akidah agama atau kepercayaannya.
Mereka menetapkan definisi hak dan kewajiban yang tumbuh-kembang di tengah-tengah masyarakatnya. Mereka takut serta malu menghadapi sanksi jika melanggar norma-norma yang ada dalam budayanya. Manusia pada tingkat kesadaran sederhana menghafal definisi dosa dan pahala, memahami apa yang wajib, sunah dan makruh.
Tetapi, manusia pada klasifikasi ini kurang berminat terhadap perkembangan teknologi serta inovasinya. Ilmu pengetahuan belum dimanfaatkan untuk kemakmuran masyarakatnya. Masyarakatnya cenderung hidup santai tanpa mengenal arti high performance and best performers. Tingkat kesadaran sederhana menyebabkan manusia cepat puas dengan apa yang diraihnya.
Tingkat kesadaran tinggi
Manusia pada tingkatan ini memperdalam ilmu agama dan mengembangkan ilmu pengetahuan serta teknologi. Berbagai inovasi diciptakan. Alam semesta dipelajari dan dijelajahi.
Kebebasan individu dan kesempatan menyatakan pendapat diperluas. Manusia selalu membicarakan efisiensi dan produktivitas. Karena itu, manusia dengan tingkat kesadaran tinggi seharusnya memiliki smart character.
Sayangnya ada banyak manusia yang di permukaan mempertontonkan tingkat kesadaran tinggi, namun secara sembunyi-sembunyi mempraktikkan kebiadaban nafsu serakah dan kebengisan sifat hewani, seperti manusia di tingkat kesadaran rendah.
Di DPR ada banyak anggotanya yang berlagak sebagai manusia dengan tingkat kesadaran tinggi tetapi sayang seribu kali sayang mereka rajin mangkir. Kita sangat membutuhkan lebih banyak orang dengan kesadaran tinggi, yaitu orang yang tak mementingkan diri sendiri, tidak mengumbar egonya, tidak menginjak-injak orang lemah, tidak besar mulut yang isinya hanya slogan doang. Pada klasifikasi ini, mereka harus menjadi teladan dalam membuktikan “katakan tidak terhadap korupsi”.
Tingkat kesadaran kosmis
Ini level kesadaran tertinggi yang dimiliki segelintir manusia yang mampu hidup selaras serta menyatu dengan alam semesta. Mereka menjiwai makna kehidupan di dunia yang hanya singkat dan sementara karena itu mereka tidak tergoda baik oleh kemewahan materi maupun kenikmatan sekejap.
Mereka tak butuh gembar-gembor di depan sorotan kamera. Kebahagiaannya ada dalam dirinya yang bersahaja walaupun mereka di tengah hiruk-pikuk sandiwara orang-orang yang narsis dan tamak.
Ke mana pun mereka menoleh, apa pun yang mereka sentuh, di situ mereka melihat dan merasakan kehadiran Tuhan Yang Mahaagung. Mereka berlomba untuk menjadi manusia terbaik, yaitu manusia yang paling berguna bagi orang banyak. Mereka disiplin berzakat dan rajin bersedekah. Perilaku yang terpuji memang pantas ditiru.
2. PENGERTIAN
PARADIGMA PENDIDIKAN ISLAM
A. Pengertian Paradigma Pendidikan
IslamParadigma adalah kumpulan tata nilai yang membentuk pola pikir seseorang sebagai titik tolak pandangannya sehingga akan membentuk citra subyektif seseorang—mengenai realita—dan akhirnya akan menentukan bagaimana seseorang menanggapi realita itu. Paradigma merupakan istilah yang dipopulerkan Thomas Khun dalam karyanya The Structure of Scientific Revolution (Chicago: The Univesity of Chicago Prerss, 1970). Paradigma di sini diartikan Khun sebagai kerangka referensi atau pandangan dunia yang menjadi dasar keyakinan atau pijakan suatu teori. Pemikir lain seperti Patton (1975) mendefinisikan pengertian paradigma hampir sama dengan Khun, yaitu sebagai “a world view, a general perspective, a way of breaking down of the complexity of the real world [suatu pandangan dunia, suatu cara pandang umum, atau suatu cara untuk menguraikan kompleksitas dunia nyata].” Kemudian Robert Friedrichs (1970) mempertegas definisi tersebut sebagai suatu pandangan yang mendasar dari suatu disiplin ilmu tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari. Pengertian lain dikemukakan oleh George Ritzer (1980), dengan menyatakan paradigma sebagai pandangan yang mendasar dari para ilmuan tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari oleh salah satu cabang/disiplin ilmu pengetahuan. Akhirnya, saya berharap semoga blog ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua khususnya bagi saya pribadi.
Masalah pendidikan merupakan masalah yang sangat penting dan tidak bisa dipisahkan dari seluruh rangkaian kehidupan manusia. Kebanyakan manusia memandang pendidikan sebagai sebuah kegiatan mulia yang akan mengarahkan manusia pada nilai-nilai yang memanusiakan. Pandangan bahwa pendidikan sebagai kegiatan yang sangat sakral dan mulia telah lama diyakini oleh manusia. Namun di dekade 70-an dua orang tokoh pendidikan, yaitu Paulo Freire dan Ivan Illich melontarkan kritik yang sangat mendasar tentang asumsi tersebut. Mereka menyadarkan banyak orang bahwa pendidikan yang selama ini disakralkan dan diyakini mengandung nilai-nilai kebajikan tersebut ternyata mengandung penindasan.
Pendidikan merupakan suatu perbuatan, tindakan, dan praktek. Namun, demikian pendidikan tidak dapat diartikan sebgai satu hal yang mudah, sederhana, dan tidak memerlukan pemikiran. Karena istilah pendidikan sebagai praktek, mengandung implikasi pemahaman akan arah dan tujuannya.2 Karenanya proses pendidikan itu bukan hanya sekedar lahiriah dan suatu prilaku kosong saja. Pendidikan tidak diarahkan untuk pendidikan itu sendiri, melainkan diarahkan untuk pencapaian maksud, arah, dan tujuan di masa yang akan datang. Dengan demikian, dimensi waktu dalam pendidikan tidak hanya terbatas pada waktu sekarang, yaitu saat berlangsung pendidikan tersebut. Tetapi, pendidikan diarahkan pada sikap, prilaku, dan kemampuan serta pengetahuan yang diharapkan akan menjadi pegangan bagi anak didik dalam melaksanakan tugas hidupnya secara bertanggung jawab dan dapat menjadi manusia yang seutuhnya, sebagaimana yang menjadi tujuan utama dalam pendidikan.
Menurut Muhammad Iqbal, pendidikan bukan hanya proses belajar mengajar belaka untuk mentransformasikan pengetahuan dan berlangsung secara sederhana dan mekanistik. Melainkan, pendidikan adalah keseluruhan yang mempengaruhi kehidupan perseorangan maupun kelompok masyarakat, yang seharusnya menjamin kelangsungan kehidupan budaya dan kehidupan bersama memantapkan pembinaan secara intelegen dan kreatif. Proses pendidikan ini mencakup pembinaan diri secara integral untuk mengantarkan manusia pada kesempurnaan kemanusiannya tanpa mesti terbatasi oleh sistem transformasi pengetahuan secara formal dalam lingkungan akademis. Pada akhirnya, pendidikan dalam arti luas mencakup penyelesaian masalah-masalah manusia secara umum dan mengantarkan manusia tersebut pada tujuan hidupnya yang mulia.
Menurut Freire, pendidikan bukan hanya kegiatan pengembangan kognitif anak didik, melainkan pendidikan memiliki kaitan yang erat dengan cinta dan keberanian. Sesungguhnya menurut Freire, pendidikan ialah tindakan cinta kasih dan karena itu juga merupakan tindakan berani. Pendidikan tidak boleh membuat orang yang akan menganalisis realitas menjadi takut.
Kualitas yang dihasilkan dari output pendidikan sangat ditentukan oleh proses yang terjadi dalam interaksi pendidikan. Keseluruhan proses dan metode dalam pendidikan didasarkan pada tujuan yang ingin dicapai dari pendidikan tersebut. Sedangkan tujuan pendidikan ditentukan berdasarkan pilihan paradigma yang dijadikan dasar dalam pendidikan. Dari asumsi tersebut terlihat betapa paradigma dalam pendidikan menjadi sesuatu hal yang fundamental dan menentukan hasil dari pendidikan. Baik dan buruknya output dari pendidikan sangat ditentukan oleh paradigma pendidikan yang dianut.
B. Macam-macam Paradigma
Henry Giroux dan Arronnawitz membagi paradigma pendidikan ke dalam tiga aliran utama, yaitu :
1. Paradigma konservatif
Yaitu paradigma pendidikan yang lebih berorientasi pada pelestarian dan penerusan pola-pola kemapanan sosial serta tradisi. Paradigma pendidikan konservatif sangat mengidealkan masa silam (past oriented) sebagai patron ideal dalam pendidikan. Paradigma konservatif melahirkan jenis kesadaran sebagaimana yang disebutkan oleh Paulo Freire, sebagai kesadaran magis. Yaitu jenis kesadaran yang tak mampu mengkaitkan antara satu faktor dengan faktor lainnya sebagai hal yang berkaitan. Kesadaran magis lebih melihat faktor diluar kesadaran manusia sebagai penyebab dari segala kejadian.
2. Paradigma pendidikan liberal
yaitu paradigma pendidikan yang berorientasi mengarahkan peserta didik pada prilaku-prilaku personal yang efektif, dengan mengejar prestasi individual. Sehingga yang terjadi adalah persaingan individual yang akan mengarahkan peserta didik pada individualisme dan tidak melihat pendidikan sebagai proses pengembangan diri secara kolektif. Paradigma pendidikan liberal melahirkan bentuk kesadaran naif. Yaitu jenis kesadaran ini menganggap aspek manusia secara individulah yang menjadi penyebab dari akar permasalahan.
3. Paradigma pendidikan kritis
Yaitu paradigma pendidikan yang menganut bahwa pendidikan adalah diorientasikan pada refleksi kritis terhadap sistem dan struktur sosial yang menyebabkan terjadinya berbagai ketimpangan. Paradigma pendidikan kritis mengarahkan peserta didik pada kesadaran kritis, yaitu jenis kesadaran yang melihat realitas sebagai satu kesatuan yang kompleks dan saling terkait satu sama lain.
Paradigma pendidikan sangat berimplikasi terhadap pendekatan dan metodologi pendidikan dan pengajaran. Salah satu bentuk implikasi tersebut adalah perbedaan bentuk dalam pola belajar mengajar antara pola paedagogy dengan pola andragogy.
Bagi Freire, selaku tokoh penggagas pendidikan kritis. Pendidikan haruslah berorientasi kepada pengenalan realitas diri manusia dan dirinya sendiri. Pengenalan akan realitas bagi Freire tidak hanya bersifat objektif atau subjektif, tapi harus kedua-duanya secara sinergis. Objektivitas dan subjektivitas dalam pengertian ini menjadi dua hal yang tidak saling bertentangan, bukan suatu dikotomi dalam pengertian psikologis, kesadaran subjektif dan kemampuan objektif adalah dua fungsi dialektis yang konstan/tetap dalam diri manusia. Oleh karena itulah menurut Freire, pendidikan harus tampil metode yang mengarahkan manusia pada perwujudan kesadaran subjektif yang kritis dan pemahaman akan realitas yang objektif dan akan mengantarkan manusia pada suatu kesadaran kritis yang konstruktif dalam membangun dunianya ke arah yang lebih konstruktif.
Untuk memahami pendidikan Islam tidak bisa dilakukan hanya dengan melihat sepotong apa yang ditemukan dalam realitas penyelenggaraan pendidikan Islam, tapi mesti melihatnya dari sistem nilai yang menjadi landasan paradigmanya. Hasan Langgulung menyatakan sangat keliru jika mengkaji pendidikan Islam hanya dari lembaga-lembaga pendidikan yang muncul dalam sejarah Islam, dari kurikulum, apalagi hanya dari metode mengajar, dan melepaskan
masalah idiologi Islam. Idiologi atau paradigma pendidikan Islam merupakan gambaran utuh tentang ketuhanan, alam semesta, dan tentang manusia yang dikaitkan dengan semua teori pendidikan Islam sehingga semuanya merupakan satu kesatuan yang utuh dan menyeluruh. Sehingga diperlukan suatu paya untuk menegaskan kembali paradigma yang diperlukan untuk mengembangkan pendidikan Islam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar