Kata
emosi berasal dari bahasa latin, yaitu emovere, yang berarti bergerak menjauh.
Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak
dalam emosi. Menurut Daniel Goleman (2002 : 411) emosi merujuk pada suatu
perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan
serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi pada dasarnya adalah dorongan
untuk bertindak. Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar
dan dalam diri individu. Sebagai contoh emosi gembira mendorong perubahan
suasana hati seseorang, sehingga secara fisiologi terlihat tertawa, emosi sedih
mendorong seseorang berperilaku menangis.
Menurut
Hurlock (1990), individu yang dikatakan matang emosinya yaitu:
•Dapat
melakukan kontrol diri yang bisa diterima secara sosial.
•Individu
yang emosinya matang mampu mengontrol ekspresi emosi yang tidak dapat diterima
secara sosial atau membebaskan diri dari energi fisik dan mental yang tertahan
dengan cara yang dapat diterima secara sosial.
•Pemahaman
diri. Individu yang matang, belajar memahami seberapa banyak kontrol yang
dibutuhkannya untuk memuaskan kebutuhannya dan sesuai dengan harapan
masyarakat.
•Menggunakan
kemampuan kritis mental. Individu yang matang berusaha menilai situasi secara
kritis sebelum meresponnya, kemudian memutuskan bagaimana cara bereaksi
terhadap situasi tersebut.
Bentuk emosi
Emosi berkaitan dengan perubahan
fisiologis dan berbagai pikiran. Jadi, emosi merupakan salah satu aspek penting
dalam kehidupan manusia, karena emosi dapat merupakan motivator perilaku dalam
arti meningkatkan, tapi juga dapat mengganggu perilaku intensional manusia.
(Prawitasari 1995).
Beberapa tokoh mengemukakan tentang
macam-macam emosi:
•Amarah:
beringas, mengamuk, benci, jengkel, kesal hati.
•Kesedihan:
pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihi diri, putus asa.
•Rasa
takut: cemas, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, waspada, tidak
tenang, ngeri.
•Kenikmatan:
bahagia, gembira, riang, puas, riang, senang, terhibur, bangga
•Cinta:
penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti,
hormat, dan kemesraan
Seperti yang telah diuraikan diatas,
bahwa semua emosi menurut Goleman pada dasarnya adalah dorongan untuk
bertindak. Jadi berbagai macam emosi itu mendorong individu untuk memberikan
respon atau bertingkah laku terhadap stimulus yang ada. Dalam the Nicomachea
Ethics pembahasan Aristoteles secara filsafat tentang kebajikan, karakter dan
hidup yang benar, tantangannya adalah menguasai kehidupan emosional kita dengan
kecerdasan. Nafsu, apabila dilatih dengan baik akan memiliki kebijaksanaan;
nafsu membimbing pemikiran, nilai, dan kelangsungan hidup kita. Tetapi, nafsu
dapat dengan mudah menjadi tak terkendalikan, dan hal itu seringkali terjadi.
Perkembangan Emosi
Sejumlah studi tentang emosi anak telah menyingkapkan bahwa
perkembangan emosi mereka bergantung sekaligus pada faktor pematangan
(maturation) dan faktor belajar, dan tidak semata-mata bergantung pada salah
satunya. Reaksi emosional yang tidak muncul pada awal masa kehidupan tidak
berarti tidak ada. Reaksi emosional itu mungkin akan muncul di kemudian hari,
dengan adanya pematangan dan system endokrin.
Terlepas dari adanya perbedaan individu, ciri khas emosi anak
membuatnya berbeda dari emosi orang dewasa.
Pola Emosi yang Umum pada kanak-Kanak
Beberapa bulan setelah bayi lahir, muncul berbagai macam pola emosi,
antara lain :
>rasa takut
>rasa marah
>rasa cemburu
Pola
Emosi yang Umum pada kanak-kanak
Beberapa
bulan setelah bayi lahir, muncul berbagai macam pola emosi, antara lain :
>Rasa
cemburu pada masa kanak-kanak umumnya ditumbuhkan di rumah, artinya timbul dari
kondisi yang ada di lingkungan rumah
>Situasi
sosial di sekolah juga merupakan sumber berbagai kecemburuan bagi anak-anak
yang berusia lebih tua. Kecemburuan yang berasal dari rumah sering dibawa ke
sekolah dan mengakibatkan anak-anak
memandang setiap orang di sana, yaitu para guru atau teman sekelas sebagai
ancaman bagi keamanan mereka.
>Dalam
situasi di mana anak merasa diterlantarkan dalam hal pemilikan benda-benda
seperti yang dimilki temannya, anak itu akan cemburu kepada temannya. Jenis
kecemburuan ini berasal dari rasa iri, yaitu keadaan marah dan kekesalan hati
yang ditujukan kepada orang yang memiliki benda yang diirikan.
•
Kecerdasan emosi
Kecerdasan
Emosi atau Emotional Quotation (EQ) meliputi kemampuan mengungkapkan perasaan,
kesadaran serta pemahaman tentang emosi dan kemampuan untuk mengatur dan
mengendalikannya.
•
Kecerdasan
emosi dapat juga diartikan sebagai kemampuan Mental yang membantu kita
mengendalikan dan memahami perasaan-perasaan kita dan orang lain yang menuntun
kepada kemampuan untuk mengatur perasaan-perasaan tersebut.
•
Jadi
orang yang cerdas secara emosi bukan hanya memiliki emosi atau
perasaan-perasaan, tetapi juga memahami apa artinya. Dapat melihat diri sendiri
seperti orang lain melihat kita, mampu memahami orang lain seolah-olah apa yang
dirasakan orang itu kita rasakan juga.
•
Tidak ada standar test EQ yang resmi dan baku. Namun kecerdasan Emosi
dapat ditingkatkan, baik terukur maupun tidak. Tetapi dampaknya dapat dirasakan
baik oleh diri sendiri maupun orang lain. Banyak ahli berpendapat kecerdasan
emosi yang tinggi akan sangat berpengaruh pada peningkatan kualitas hidup.
•
Setidaknya ada lima unsur yang membangun kecerdasan emosi, yaitu:
1. Memahami emosi-emosi sendiri
2. Mampu mengelola emosi-emosi sendiri
3. Memotivasi diri sendiri
4. Memahami emosi-emosi orang lain
5. Mampu membina hubungan sosial
Cara mengatasi emosi
Agar kita tidak terjerumus ke dalam dosa yang lebih besar, ada beberapa
cara mengendalikan emosi yang diajarkan dalam Al-Quran dan Sunah, di antaranya
yaitu:
1. Membaca isti’adzah
أعوذُ
بالله مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجيمِ
“aku berlindung dari godaan setan
yang terkutuk”
Karena sumber marah adalah
setan, sehingga godaannya bisa diredam dengan memohon perlindungan kepada
Allah.
•
2. Diam dan Menjaga Lisan
Bawaan orang marah adalah
berbicara tanpa aturan. Sehingga bisa jadi dia bicara sesuatu yang mengundang
murka Allah. Karena itulah, diam merupakan cara mujarab untuk menghindari
timbulnya dosa yang lebih besar.
•
3. Mengambil posisi lebih rendah
Kecenderungan orang marah adalah
ingin selalu lebih tinggi.. dan lebih tinggi. Semakin dituruti, dia semakin
ingin lebih tinggi. Dengan posisi lebih tinggi, dia bisa melampiaskan amarahnya
sepuasnya.
Karna
itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan saran sebaliknya.
Agar marah ini diredam dengan mengambil posisi yang lebih rendah dan lebih
rendah.
•
4.
Berwudhu atau mandi
Marah dari setan dan setan terbuat dari api.
Padamkan dengan air yang dingin.
•
•
Tidak ada komentar:
Posting Komentar