spi kelompok 4
A.Masuknya Islam di Spanyol
Masuknya Islam di Spanyol diawali
dengan lolosnya Abdurrahman, satu-satunya orang yang selamat dari pembinasaan
Bani Umayyah oleh Dinasti Abbasiyah pada tahun 750 M. Ia lolos dari kejaran
tentara Bani Abbasiyah dengan cara bersembunyi di dalam sungai Efrat. Ia
mengembara ke Afrika dan akhirnya dapat berkuasa di Spanyol.
Abdurrahman dan keturunannya
berhasil mengangkat derajat Islam di Spanyol. Di Cordova, pusat pemerintahan
Spanyol, masjid Cordova, Universitas Cordova dan perpustakaan yang mengandung
ribuan buku-buku ilmiah, telah didirikan pada masa pemerintahannya. Buku-buku
dalam perpustakaan tersebut sebagian besar merupakan karya para ilmuwan Muslim. Dari perpustakaan inilah
Spanyol menjadi salah satu pusat pengetahuan dunia. Dari sini bisa dilihat
bahwa Islam memberikan perubahan yang sangat baik untuk kehidupan dunia barat.
Dalam menaklukan Spanyol secara
kesuluruhan, kemenangan selalu berada pada pihak orang Muslim. Kemenangan ini
disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor eksternal (berasal dari luar pihak
muslim) dan faktor internal (berasal dari dalam pihak muslim)
Faktor eksternalnya adalah keadaan
ekonomi, sosial, politik, dan keagamaan di Spanyol yang memburuk. Secara
politik, wilayah Spanyol terkoyak-koyak dan terbagi-bagi ke dalam beberapa
Negara kecil. Bersamaan dengan itu, penguasa Gothic bersikap tidak toleran
terhadap aliran agama yang dianut oleh penguasa daerah (aliran Monofosit),
apalagi terhadap penganut agama lain, Yahudi. Penganut agama Yahudi yang
merupakan bagian terbesar dari penduduk Spanyol dipaksa dibaptis menurut agama
Kristen. Yang tidak bersedia akan disiksa dan dibunuh. Selain itu, masyarakat
Spanyol hidup dalam sistem kelas, dan rakyat kasta bawah menjadi sangat
tertindas. Dalam situasi ini, masyarakat Spanyol mendambakan seorang juru
penyelamat dan pada waktu itu Islam datang dan menawarkan kedamaian. Sektor
ekonomi di Spanyol sangat mengkhawatirkan. Di bawah kekuasaan kerajaan Visigotghic, pertanian, perindustrian,
dan pertambangan sama sekali tidak berkembang alias lumpuh.
Sedangkan faktor internalnya adalah
para pemimpin Islam yang tangguh, kuat, kompak, cakap, berani dan percaya diri.
Selain itu, tentara Islam menunjukkan bahwa agama yang mereka percayai adalah
agama yang penuh dengan toleransi, persaudaraan, dan tolong menolong.
Dalam proses penaklukan Spanyol
ada tiga orang yang berjasa yaitu:
1. Tharif ibn Malik. Tharif dapat disebut sebagai perintis
dan penyelidik. Ia menyeberangi selat yang berada di antara Maroko dan benua
Eropa itu dengan satu pasukan perang, lima ratus orang diantaranya adalah
tentara berkuda, mereka menaiki empat buah kapal yang disediakan oleh Julian.
Ia menang dan kembali ke Afrika Utara membawa harta rampasan yang tidak sedikit
jumlahnya.
2. Thariq ibn Ziyad Rahimahullah lebih banyak dikenal sebagai penakluk
Spanyol karena pasukannya lebih besar dan hasilnya lebih nyata. Pasukannya
terdiri dari sebagian besar suku Barbar yang didukung oleh Musa ibn Nushair
Rahimahullah dan sebagian lagi orang Arab yang dikirim Khalifah al-Walid
Rahimahullah. Pasukan itu kemudian menyeberangi Selat di bawah pimpinan Thariq
ibn Ziyad Rahimahullah. Ia menyiapkan pasukannya di sebuah gunung
yang dikenal dengan nama Gibraltar (Jabal Thariq). Dari situ Thariq
Rahimahullah dan pasukannya terus menaklukkan kota-kota penting, seperti
Cordova, Granada dan Toledo (ibu kota kerajaan Gothik saat itu).
3. Musa ibn Nushair. Beliau merasa perlu melibatkan diri dalam
gelanggang pertempuran dengan maksud membantu perjuangan Thariq. Dan
akhirnya beliau berdua memenangkan daerah Spanyol.
B. Perkembangan Islam di Spanyol
1. Periode Pertama (711-755 M )
Pada priode ini, Spanyol berada di bawah pemerintahan para wali yang
diangkat oleh Khalifah Bani Umayyah
yang berpusat di Damaskus. Dalam periode ini stabilitas politik
negeri belum tercapai secara sempurna. Hal ini disebabkan oleh
adanya gangguan-gangguan yang datang dari dalam dan luar.
Gangguan dari dalam adalah perselisihan di antara elit penguasa,
terutama akibat perbedaan etnis dan golongan. Selain itu, terdapat perbedaan
pandangan antara Khalifah di Damakus dan gubernur Afrika Utara. Oleh karena
itu, terjadi dua puluh kali pergantian wali (gubernur) Spanyol dalam jangka
waktu yang amat singkat.
Gangguan dari luar datang dari sisa-sisa musuh Islam di Spanyol yang
bertempat tinggal di daerah-daerah pegunungan yang memang tidak pernah tunduk
kepada pemerintahan Islam.
2. Periode kedua (755-912 M)
Pada periode ini, Spanyol berada dibawah pemerintahan seorang yang bergelar
Amir (panglima atau Gubernur) tetapi tidak tunduk kepada pusat pemerintahan
Islam yang ketika itu dipegang oleh Khalifah Abbasiyah di Baghdad.
Penguasa-penguasa Spanyol pada periode ini adalah Abd al-Rahman Al-Dakhil,
Hisyam I, Hakam I, Abd Al-Rahman Al-Autshat, Muhammad ibn Abd Al-Rahman, Munzir
ibn Muhammad, dan Abdullah ibn Muhammad.
Pada periode ini, umat Islam Spanyol mulai memperoleh kemajuan-kemajuan
baik dalam bidang politik maupun dalam bidang peradaban. Pemikiran
filsafat mulai masuk pada periode ini, terutama di zaman Abdurrahman
Al-Autshat. Abd Al-Rahman Al-Dakhil mendirikan masjid Cordova dan
sekolah-sekolah di kota-kota besar Spanyol. Hisyam dikenal berjasa dalam
menegakkan hukum Islam dan Hakam dikenal sebagai pembaharu dalam bidang
kemiliteran. Sekalipun demikian, berbagai ancaman dan kerusuhan terjadi.
pada pertengahan Abad ke-9, stabilitas negara terganggu dengan munculnya
gerakan Kristen fanatik. Selain itu, terjadi gerakan revolusi oleh orang- orang
yang merasa tidak puas dengan pemerintahan, dan pemberontakan yang dipelopori
oeh Hafsun dan anaknya. selain itu, perang antara suku arab dan suku Barbar
sering terjadi.
3. Periode ketiga (912-1013 M)
Periode ini mulai berlangsung mulai dari pemerintahan Abd Al-Rahman III
yang bergelar “An-Nasir” sampai munculnya “Raja-raja Kelompok” yang dikenal
dengan sebutan muluk al-thawaif . pada periode ini, spanyol diperintahkan oleh
penguasa dengan gelar Khalifah. Khalifah-khalifah besar yang memerintah pada
periode ini ada tiga orang yaitu Abd Al-Rahman Al-Nasir (912-961 M), Hakam II
(961-976 M), dan Hisyam (976-1009M).
Pada periode ini, Umat Islam Spanyol mencapai puncak kemajuan dan kejayaan, menyaingi kejayaan daulat
Abbasiyah di Baghdad. Abd Al-Rahman Al-Nashir mendirikan Universitas Cordova.
Perpustakaan memiliki koleksi ratusan ribu buku. Hakam II juga seorang kolektor
buku dan pendiri perpustakaan. Awal kehancuran Spanyol terjadi ketika Hisyam
naik tahta. pada waktu usianya berumur sebelas tahun. karena itulah
kekhalifahan berada pada tangan para pejabat. para pejabat mengangkat Ibn Abi ‘Amr sebagai pemegang kekuasaan. Ia dinilai berhasil dalam
pemerintahnnya karena berhasil melakukan ekspansi yang cukup luas. Pada tahun
1002 M, ia digantikan oleh anaknya, Al- Muzaffar. Pada tahun 1008 M,
Al-Muzaffar digantikan oleh adiknya yang sama sekali tidak berkompeten dalam
memerintah. Sehingga dalam pemerintahannya terjadi kehancuran yang parah dan
para pejabat pun tak ada yang bisa memperbaiki Spanyol pada waktu itu. Pada
1013 M para menteri menghapus jabatan kholifah dan pada waktu itu Spanyol sudah
terpecah menjadi negara- negara kecil.
4. Periode keempat (1013-1086 M)
Pada periode ini, Spanyol terpecah menjadi lebih dari tiga puluh Negara
kecil di bawah pemerintahan raja-raja golongan atau Al-Mulukuth-Thawaif, yang
berpusat di suatu kota seperti Seville, Cordova, Toledo, dan sebagainya. Pada
periode ini umat Islam Spanyol kembali memasuk masa pertikaian intern. Ironisnya,
kalau terjadi perang saudara, ada di antara pihak-pihak yang bertikai itu yang
meminta bantuan kepada raja-raja Kristen. Melihat kelemahan dan kekacauan yang
menimpa keadaan politik Islam itu, untuk pertama kalinya, orang-orang Kristen
pada periode ini mulai mengambil inisiatif penyerangan. Meskipun, kehidupan
politik tidak stabil, namun, kehidupan intelektual terus berkembang pada
periode ini.
5. Periode kelima (1086-1248 M)
Pada tahun 1212 M, tentara Kristen memperoleh kemenangan besar di Las Navas
de Tolesa. Seluruh Spanyol kecuali Granada lepas dari kekuasaan Islam.
6. Periode
keenam (1248-1492 M)
Pada periode ini, Islam hanya berkuasa di daerah Granada, dibawah dinasti
Bani Ahmar (1232-1492). Peradaban kembali mengalami kemajuan seperti di zaman Abdurrahman
An-Nasir. Akan tetapi, secara politik, dinasti ini hanya berkuasa di wilayah
yang kecil. Kekuatan Islam yang merupakan pertahanan terakhir di Spanyol ini
berakhir , karena perselisihan orang-orang istana dalam memperebutkan kekuasaan
(Abu Abdullah). Abu Abdullah meminta bantuan kepada Ferdinand dan Isabella,
inilah yang menyebabkan hilangya eksistensi Islam di Spanyol. Abu Abdullah
tidak kuasa menahan serangan-serangan orang Kristen tersebut dan pada akhirnya
mengaku kalah. Ia menyerahkan kekuasaan kepada Ferdenand dan Isabella.
Kemudian, hijrah ke Afika Utara. Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Islam di
Spanyol tahun 1492 M. umat Islam setelah itu dihadapkan kepada dua pilihan,
masuk Kristen atau pergi meninggalkan Spanyol. Pada tahun 1609 M, boleh dikatakan tidak ada lagi umat islam di daerah ini.
C. Kemajuan Peradaban
1. Pengetahuan
Kemajuan
yang terjadi di Spanyol pada waktu itu adalah berkat inisiatif Al-Hakam (961-976 M). Al-Hakam
mengimpor naskah-naskah (sastra, filosofis, dan karya ilmiah) dari Timur ke
Spanyol. Al-HAkam II memperluas dan memperbesar perpustakaan yang ada di
Ibukota Cordova sehingga menjadi perpustakaan terbesar untuk seluruh Eropa
(pada masanya dan abad-abad berikutnya. Kterlibatan dan keasyikannya pada dunia
ilmu pengetahuan dilukiskan dalam Historians’ History os the World (Vol.
VIII:233)
a. Filsafat
Islam di Spanyol telah mencatat satu lembaran budaya yang sangat brillian
dalam bentangan sejarah Islam. Ia berperan sebagai jembatan penyeberangan yang
dilalui ilmu pengetahuan Yunani-Arab ke Eropa pada abad ke-12. Minat terhadap
filsafat dan ilmu pengetahuan mulai dikembangkan pada abad ke-9 M, selama
pemerintahan penguasa Bani Umayyah yang ke-5, Muhammad Ibnu Abd Al-Rahman
(832-886 M).[1][6]
Tokoh utama pertama dalam sejarah filsafat Arab-Spanyl adalah Abu Bakr
Muhamad ibn Al-Sayigh yang lebih dikenal dengan Ibnu Bajjah. MAsalah yang
dikemukakannya bersifat etis dan eskatologis. Magnum Opusnya adalah Tadbir
Al-Mutawahhid.[2][7] Tokoh utama
kedua adalah Abu Bakr ibn Thufail. Karya Abu Bakr ibn Thufail adalah Hay ibn
Yaqzhan. Tokoh utama selanjutnya adalah Ibu Rusyd. Ibnu Rusyd adalah filsuf
terbesar Islam.
b. Fiqh
Spanyol adalah penganut mazhab Maliki dalam bidang fiqh. Mazhab ini
diperkenalkan oleh Ziyad ibn Abd Al-Rahman. Perkembangan selanjutnya ditentukan
oleh Ibn Yahya, yang menjadi Qadhi pada masa pemerintahan Hisyam ibn Abd
Al-Rahman. Tokoh-tokoh lain dalam bidang fiqh di Spanyol antara lain Abu Bakr
ibn Al-Quthiyah, Munzir ibn Sa’id l-Baluthi, dan Ibn Hazm.
c. Sains
Ilmu kedokteran, musik, matematika, astronomi kimia dan lain-lain juga
berkembangn dengan baik. Abbas ibn Farnas terkenal dengan kiia dan astronomi.
Ia adalah orang yang menemukan pembuatan kaca dari batu.[3][8]
Ahmad ibn Ibas adalah ahli dalam bidang obat-obatan. Umm Al-HAsan bint Abi
Ja’far dan saudara perempuan Al-hafidz adalah dua perempuan yang terkenal dalam
bidang kedokteran.
Dalam bidang sejarah dan geografi ada Ibn Jubair yang menulis tentang
negeri-negeri muslim Meditirenia, Ibn Al-Khatib
yang menyusun riwayat Granada, dan Ibnu Khaldun yang merumuskan filsafat
sejarah.
d. Musik dan Kesenian
Dalam bidang musik dan seni suara, tokohnya adalah Al-Hasan ibn Nafi.
Beliau terkenal sebagai penggubah lagu. Dan di dalam setiap pertunjukan dan
perjamuan, kemampuannya selalu dipetunjukkan. Ia terkenal dengan sebutan
Zaryab.
e. Bahasa dan Sastra
Bahasa yang digunakan dalam administrasi dan pemerintah Spanyol adalah
bahasa Arab. Uniknya penduduk asli tidak memprotes keadaan tersebut. Bahkan,
mereka justru cenderung menomorduakan bahasa asli mereka.
Tokoh bahasa ketika itu adalah Ibn Sayyidih, Ibn Malik (pengarang Alfiyah), Ibn Khuruf, Ibn Al-Hajj, Abu
Ali Al-Isyibili, Abu Al-Hasan Ibn Usfur, dan abu Al-Hayyan Al-Gharnathi.
Selain itu, ada juga Ibn
Abdi Rabbih dengan bukunya Al-Iqd al-Farid, Ibn
Basam dengan bukunya Al-Dzakirah fi Miahasin al-Jazirah, dan Al-Fath Ibn
al-Haqan dengan karangannya Al-Qalaid.[4][9]
2. Pembangunan
Pemerintah
Islam membuat teropong bintang di Cordova, membangun pasar dan jembatan, melakukan
upaya pengendalian banjir dan penyimpanan air hujan, membangun sistem irigasi
hidrolik dengan menggunakan roda air (water
wheel), memperkenalkan tanaman padi dan jeruk, dan mendirikan pabrik-pabrik
tekstil, kulit, logam, dan lainnya.
Namun
demikian, pembangunan yang paling menonjol adalah pembangunan gedung-gedung,
seperti pembangunan kota, istana, mesjid, pemukiman, dan taman-taman. Di antara
pembangunan yang megah adalah adalah mesjid Cordova, kota Al-Zahra, Istana Ja’fariyah
di Saragosa, tembok Toledo, istana Al-Makmun, mesjid Seville, dan Istana
Al-Hara di Granada.
D. Sebab Kemajuan Dan Kemunduran
1. Kemajuan
a. Toleransi beragama
b. Pemimpin yang berwibawa
c. Kesatuan budaya dunia islam
2. Kemunduran
a. Konflik
islam dengan Kristen
b. Tidak adanya
ideologi pemersatu
c. Kesulitan ekonomi
d. Tidak
jelasnya sistem peralihan kekuasaan
e. Keterpencilan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar